DEPOKPOS – Peristiwa Isra’ Mi’raj jika dilihat dalam perspektif spiritual menjelaskan setidaknya ada enam kedudukan penting shalat lima waktu bagi kaum Muslim.
“Isra’ Mi’raj merupakan peristiwa dahsyat yang menjadi mu’jizat Rasulullah SAW, hadiah dari Allah yang menegaskan keistimewaan Beliau sebagai nabi penutup, juga kedudukan penting shalat lima waktu bagi Mukmin,” ungkap Aktivis Muslimah, Ustadzah Weny Ummu Fatih dalam Kajian Muslimah Shalihah Rutin, Isra Mi’raj: Dimensi spiritual dan Politik, (24/12/2026) di Cipayung, Depok.
Adapun enam kedudukan penting sholat lima waktu yakni: Pertama, satu-satunya ibadah yang diwajibkan Allah SWT dengan cara yang khusus. “Merujuk Bab Kayfa Furidhat al-Shalāt fī al-Isrā` karya Ibnu Hajar al-’Asqalani, Kitab Fatḥul Bārī Syaraḥ Shahīh al-Bukhāri, Juz I, halaman 546, shalat lima waktu merupakan satu-satunya ibadah yang diwajibkan Allah SWT dengan cara yang khusus, yaitu Rasulullah SAW mendapat langsung perintah shalat lima waktu di Sidratul Muntaha secara langsung dari Allah SWT,” bebernya di hadapan 12 peserta.
Kedua, shalat lima waktu ini merupakan ibadah yang secara khusus disebut bersama sabar, sebagai cara kita meminta pertolongan kepada Allah SWT. Sebagaimana firman Allah di surah al-Baqarah ayat 45 yang artinya, “Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan sholat. Dan (sholat) itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyuk.”
Ketiga, shalat lima waktu merupakan perkara yang pertama kali akan dihisab kelak di Hari Kiamat, sebagaimana sabda Nabi SAW, “Sesungguhnya amal yang pertama kali dihisab pada seorang hamba pada Hari Kiamat adalah shalatnya. Maka, jika shalatnya baik, sungguh ia telah beruntung dan berhasil. Dan jika shalatnya rusak, sungguh ia telah gagal dan rugi.”
Keempat, shalat lima waktu sebagai pembeda antara orang Mukmin dan musyrik, sebagaimana hadits riwayat Muslim no 82, “Antara seorang Muslim dan seorang musyrik dan kafir adalah meninggalkan shalat.”
Kelima, shalat lima waktu inilah yang disebut dalam Al-Qur`an akan mencegah pelakunya dari (perbuatan) keji dan mungkar, sebagaimana yang tercantum dalam Firman Allah SWT di surah al-Ankabut ayat 45, “Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan) keji dan mungkar.”
Keenam, shalat lima waktu ini yang membedakan orang Mukmin (yang mampu bersujud) dan munafik (yang tak mampu bersujud) di Hari Kiamat nanti, sebagaimana yang tertulis di surah al-Qolam ayat 42-42, “Ingatlah pada hari ketika betis disingkapkan (Hari Kiamat) dan mereka (orang munafik) diseru untuk bersujud; maka mereka tidak mampu (bersujud). Pandangan mereka tertunduk ke bawah, diliputi kehinaan. Dan sungguh, dahulu (di dunia) mereka telah diseru untuk bersujud (sholat lima waktu) pada waktu mereka sehat (tetapi mereka tidak melakukan shalat).” [Mega Marlina]