Oleh Ghea Azahra Silviani, mahasiswa Fakultas Gizi/FIKT Universitas Binawan
DEPOKPOS – Masa remaja merupakan fase yang dipenuhi oleh berbagai perubahan fisik, emosional, dan sosial. Pada tahap ini remaja mulai membuka diri terhadap dunia luar dan tidak lagi terbatas pada lingkungan keluarga dan teman sebaya. Remaja juga cenderung memperluas lingkungan pertemanan, baik melalui interaksi langsung maupun dengan memanfaatkan teknologi seperti internet dan ponsel.
Berdasarkan peraturan Menteri Kesehatan RI Nomor 25 Tahun 2014, remaja adalah individu yang berusia 10 hingga 18 tahun. Pada masa ini, remaja mengalami masa pubertas yang disertai dengan pertumbuhan fisik serta perkembanga mental, kognitif, dan emosional. Kekurangan gizi pada masa remaja dapat berdampak pada kesehatan serta menimbulkan gangguan dan hambatan jangka panjang.
Penilaian status gizi remaja dapat dilakukan dengan antropometri, salah satu metode yang digunakan adalah mengukur Indeks Massa Tubuh berdasarkan usia atau Body Mass Index for Age (BMI for Age) sesuai dengan pedoman dari World Health Organization. IMT dihitung dengan membandingkan berat badan dan tinggi badan, yaitu dengan rumus berat badan dalam kilogram dibagi dengan tinggi badan dalam meter kuadrat (BMI = kg/m²).
Namun, status gizi pada tidak hanya dipengaruhi oleh jumlah makanan yang dikonsumsi, tetapi juga oleh pemahaman yang dimiliki mengenai gizi. Pengetahuan gizi berperan penting dalam membentuk kebiasaan makan. Remaja dengan pemahaman gizi yang baik cenderung mampu memilih makanan yang sehat dan seimbang, sedangkan remaja dengan pemahaman gizi yang kurang berisiko memilikin pola makan yang tidak teratur dan kurang sehat.
Di era modern, remaja semakin mudah mengakses makanan instan yang tinggi gula, garam, dan lemak. Di sisi lain, aktivitas fisik remaja juga cenderung menurun akibat penggunaan perangkat elektronik yang berlebihan. Kondisi ini dapat meningkatkan risiko masalah gizi, seperti kelebihan berat badan dan obesitas, apabila tidak diimbangi dengan pola makan sehat dan ativitas fisik yang cukup.
Oleh karena itu, peningkatan pemahaman mengenai gizi pada remaja menjadi hal penting. Edukasi gizi yang melibatkan keluarga, sekolah, dan masyarat di harapakan mampu membantu remaja menerapkan pola hidup sehat dalam kehidupan sehari-hari, sehingga status gizi tetap terjaga dan kesehatan dapat dipertahankan hingga masa depan.
