Oleh Tim mahasiswa FKM UI. Hanania Carissa, Jasmin Jadevra Fezantino, Raquel Amanda Salmasari, Zahra Annisaa Hudaya.
Kematian balita merupakan salah satu indikator utama dalam menilai derajat kesehatan masyarakat pada suatu wilayah.
UNICEF pada tahun 2023 melaporkan bahwa lebih dari 1.000 anak di bawah lima tahun meninggal setiap hari di seluruh dunia akibat kondisi WASH (water, sanitation, and hygiene) yang buruk.
Angka ini menunjukkan bahwa persoalan air, sanitasi, dan higiene yang tidak aman masih menjadi tantangan global yang berdampak langsung pada kelangsungan hidup anak.
Di Indonesia, angka kematian balita masih menjadi perhatian besar. Meskipun trennya menurun selama beberapa dekade terakhir, disparitas antarprovinsi masih terlihat jelas, terutama di wilayah dengan kondisi sosial ekonomi rendah.
Data terbaru dari Kementerian Kesehatan Republik Indonesia menunjukkan bahwa pada tahun 2023 terdapat 34.226 kematian balita, meningkat cukup tajam dibandingkan 21.447 kasus pada tahun 2022.
Lonjakan ini mengindikasikan bahwa penyakit infeksi, khususnya diare dan pneumonia, masih menjadi beban utama pada populasi balita.
Hubungan Akses Air Minum Layak dengan Kesehatan Balita
Diare merupakan salah satu penyebab kematian balita yang paling sering ditemukan, terutama pada daerah dengan sanitasi buruk dan kualitas lingkungan yang tidak memadai.
Penyakit ini memiliki keterkaitan yang kuat dengan faktor lingkungan, menunjukkan bahwa upaya medis saja tidak cukup untuk menurunkan risiko kematian balita. Salah satu faktor lingkungan yang sangat memengaruhi kejadian diare adalah akses air minum layak dan sanitasi yang bersih.
Balita sangat rentan terhadap kontaminasi bakteri karena sistem imun mereka masih berkembang. Bila air minum yang dikonsumsi tercemar, risiko infeksi bakteri, virus, atau parasit penyebab diare meningkat tajam.
Maka dari itu, memperbaiki infrastruktur air bersih, sanitasi, serta praktik higiene menjadi strategi penting untuk menurunkan angka kesakitan dan kematian balita.
Faktor Lain yang Berhubungan
Di wilayah dengan permukiman padat, ketersediaan lahan untuk sanitasi layak biasanya sangat terbatas. Banyak rumah tangga terpaksa berbagi fasilitas mandi, cuci, dan kakus yang sering kali tidak memenuhi standar kebersihan atau jarang dirawat.
Kondisi seperti ini meningkatkan peluang terjadinya kontaminasi silang antara limbah dan sumber air rumah tangga.
Selain itu, sistem drainase yang buruk di daerah padat penduduk sering menimbulkan genangan air yang dapat menjadi tempat berkembang biaknya berbagai patogen.
Kombinasi antara kepadatan hunian, sanitasi yang tidak memenuhi standar, serta minimnya ruang untuk menjaga perilaku higiene menjadikan balita di wilayah tersebut lebih rentan mengalami diare.
Situasi ini menunjukkan bahwa risiko penyakit tidak hanya dipengaruhi oleh kondisi fisik lingkungan, tetapi juga oleh pola pemukiman dan perilaku masyarakat setempat.
Solusi
Pemerintah seharusnya memperkuat program penyediaan akses air minum layak dan sanitasi, terutama di daerah pedesaan, wilayah tertinggal, dan permukiman padat.
Upaya yang dapat dilakukan oleh pemerintah adalah penyediaan distribusi air bersih yang aman, peningkatan fasilitas sanitasi layak di rumah tangga maupun fasilitas umum, serta edukasi mengenai perilaku hidup bersih seperti cuci tangan pakai sabun, penyimpanan makanan yang higienis, dan pemeliharaan kebersihan lingkungan.
Selain itu, pemerintah juga perlu memastikan dukungan anggaran, regulasi yang kuat, pemantauan kualitas air, serta kolaborasi lintas sektor untuk menjaga keberlanjutan program WASH.
Selain itu, keterlibatan masyarakat dalam pengelolaan sarana air dan sanitasi dapat meningkatkan rasa kepemilikan sehingga memperpanjang umur infrastruktur yang dibangun.
Kesimpulan
Sebagai kesimpulan, kemajuan di bidang medis telah membantu menurunkan angka kematian balita, tetapi tanpa intervensi yang menyasar akar masalah lingkungan, penurunan ini akan sulit dipertahankan.
Perbaikan akses air minum layak, sanitasi, dan praktik higiene merupakan salah satu intervensi paling efektif untuk mengurangi penyakit yang sebenarnya dapat dicegah.
Upaya dan kebijakan pemerintah hingga perubahan perilaku masyarakat sangat penting untuk mewujudkan lingkungan yang sehat bagi setiap anak, sehingga mereka dapat tumbuh dan berkembang hingga melampaui usia lima tahun.
