DEPOKPOS – “Lelah? Yaudah, healing dulu.” Kalimat ini sering dijumpai di caption Instagram, TikTok, hingga obrolan sehari-hari. Kata “healing” telah menjadi mantra wajib buat siapa saja yanglagi capek. Tapi, sudahkah kita tahu apakah “healing” itu benar-benar menyembuhkan atau cuma cara kita kabur sebentar dari tekanan hidup.
Antara Tren dan Kebutuhan
Healing kini sudah menjadi budaya populer, terutama di kalangan generasi muda. Di media sosial, ribuan konten memperlihatkan orang-orang yang liburan ke pantai, naik gunung, atau sekadar ngopi di cafe aesthetic dengan caption “my kind of healing”.
Pencarian kata “healing” bahkan meningkat sampai 5 kali lipat pada tahun 2022, didorong oleh tren di TikTok dan Instagram.
Awalnya terdengar positif, namun lamakelamaan konsep healing berubah menjadi semacam “kewajiban sosial” di mana jika seseorang tidak sempat healing, dianggap hidupnya terlalu serius.
Tren ini muncul sebagai respons terhadap tekanan sosial tinggi di era serba cepat, serba online, dan serba dibandingkan.
Healing yang Sebenarnya
Secara harfiah, healing berarti proses menyembuhkan diri. Dalam konteks psikologis, healing bukanlah soal tempat, melainkan kondisi pikiran yang memulihkan luka emosional, menata ulang pikiran, dan berdamai dengan diri sendiri.
Healing dapat berupa tidur cukup, berhenti membandingkan diri, atau mengizinkan diri untuk merasakan kesedihan.
Namun, makna healing sering bergeser menjadi pelarian dari masalah. Banyak orang pergi ke tempat indah bukan untuk benar-benar pulih, melainkan untuk membuktikan bahwa merekabaik-baik saja, yang justru membuat mereka kelelahan karena harus memastikan setiap momen terlihat sempurna di media sosial.
Antara Self-Care dan Self-Show
Tren healing juga memunculkan budaya konsumtif. Industri pariwisata, produk self-care, hingga bisnis café berlomba menjual “rasa tenang” yang dikemas sebagai healing.
Pesan halus yang ditanamkan adalahbahwa untuk bahagia, kita harus membeli sesuatu seperti tiket pesawat, kopi mahal, atau lilin aromaterapi.
Ketenangan sejati tidak selalu bisa dibeli, terkadang cukup duduk diam, meletakkan ponsel, dan menarik napas dalam-dalam.
Ketika Healing Berubah Jadi Pelarian
Sisi lain dari fenomena ini adalah penggunaan healing sebagai alasan untuk menghindari tanggung jawab.
Kalimat seperti “Aku nggak mau mikir dulu, lagi healing” terdengar menenangkan, namun jika terus menjadi pembenaran, bisa berbahaya.
Masalah tidak akan selesai hanya karena kita pindah lokasi, sebab masalah itu akan tetap ada di dalam kepala.
Healing sejati membutuhkan keberanian untuk menghadapi diri sendiri, menerima rasa sakit, dan memperbaiki hal-hal yang belum beres.
Menyembuhkan , Bukan Melarikan Diri
Healing adalah perjalanan pribadi, bukanajang kompetisi konten. Tidak harus mahal, estetik, atau viral.
Healing terbaik bisa sesederhana mematikan notifikasi, berbicara dengan orang terpercaya, atau menulis jurnal sambil introspeksi.
Lain kali saat ingin healing, tanyakan pada diri sendiri: apakah aku sedang menyembuhkan atau sekadar melarikan diri? Karena jika hati belum benar-benar tenang, sejauh apa pun pergi, rasa lelah akan tetap ada.
“Jadi, lain kali kalau mau healing, coba deh tanya ke diri sendiri, ini beneran buat nyembuhin diri atau Cuma pengen kabur sebentra? Soalnya, kalau hati belum tenang, sejauh apapun kita pergi, rasa capek itu pasti bakal ikut terus.”
Ditulis oleh Naftha dan Ima, mahasiswa Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung