Scroll untuk baca artikel
Artikel

Menghidupkan Pancasila dalam Budaya Media Sosial

×

Menghidupkan Pancasila dalam Budaya Media Sosial

Sebarkan artikel ini
Menghidupkan Pancasila dalam Budaya Media Sosial

DEPOKPOS – Setiap hari, tanpa sadar kita membuka media sosial jauh lebih sering daripada berbicara dengan orang di sekitar kita. Kita melihat berbagai pendapat, perdebatan, bahkan konflik kecil yang tumbuh dari komentar-komentar sederhana.

Di tengah derasnya arus informasi itu, kita jarang bertanya pada diri sendiri apakah ruang digital yang kita masuki ini sudah nyaman untuk semua orang?

Di sinilah Pancasila sebenarnya menemukan relevansinya kembali. Bukan sebagai teks hafalan, tetapi sebagai nilai yang bisa menuntun cara kita bersikap di dunia maya.

Menghidupkan Pancasila di media sosial bukan berarti mengutip sila-silanya setiap hari, melainkan menghadirkan sikap sederhana yang sejalan dengan nilai-nilainya.

Misalnya, memilih untuk tidak langsung percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Ini bentuk tanggung jawab. Atau menahan diri ketika ingin membalas komentar dengan kata-kata yang menyakitkan. Itu wujud kemanusiaan.

Begitu pula ketika kita tetap menghargai pendapat orang lain meski berbeda jauh di situlah persatuan mendapat ruangnya.

Media sosial mempertemukan kita dengan beragam cara pandang. Ada yang berbeda agama, budaya, maupun pandangan politik. Justru keberagaman inilah yang membuat nilai Pancasila semakin penting.

Ketika kita memilih untuk melihat perbedaan sebagai kekayaan, bukan ancaman, maka Pancasila menjadi nyata dalam kehidupan sehari-hari, meski lewat layar ponsel.

Generasi muda yang tumbuh dalam budaya digital punya peran besar. Mereka adalah penggerak tren, pembentuk opini, sekaligus suara yang menentukan arah percakapan publik.

Dengan menyebarkan konten positif, menjaga sopan santun digital, atau sekadar memberi contoh bagaimana berdiskusi dengan sehat, mereka sudah membantu menghidupkan Pancasila di ruang virtual.

Pada akhirnya, menghidupkan Pancasila di media sosial bukan tugas besar yang membutuhkan upaya berskala luas. Ia dimulai dari langkah-langkah kecil memilih kata yang lebih baik, berpikir sebelum mengunggah sesuatu, dan berusaha menjaga ruang digital tetap ramah.

Karena pada akhirnya, Pancasila akan terus hidup selama kita mempraktikkannya meski hanya melalui sentuhan jari saat mengetik di layar ponsel.

Penulis: Marsya Azzahra
Dosen pengampu: Setiawati S.Pd,M.H