Oleh Haekal Faris Sutopo
1. Latar belakang fenomena
Beberapa tahun lalu, muncul istilah baru, yaitu “healing” yang telah menjadi fenomena sosial yang cukup populer sampai sekarang.Istilah itu sangat populer dikalangan generasi Z, yang sering kali merasakan langsung dengan sumber-sumber stres. Healing dipahami sebagai sebuah proses penyembuhan secara psikologis,yang mencakup berbagai aktivitas untuk mengurangi stres dan kecemasan, seperti liburan, me-time, nonton bioskop, ke kafe, dan pergi ke alam. Aktivitas itu menjadi sebuah coping stress terhadap tekanan yang semakin kompleks, seperti tuntutan akademik, tuntutan sosial, sampai kecemasan tentang masa depan.
Salah satu hal yang menyumbang peran besar dalam meluasnya fenomena budaya healing dan memperkuat tren pada fenomena ini adalah media sosial seperti, Instagram, TikTok, Twitter, Youtube, Whatsapp. Banyak anak muda yang menjadikan healing ini sebagai konten dan menjadi bagian dari dirinya yang ingin ditampilkan pada publik. Seperti meng-upload foto-foto estetik di kafe, alam, hingga foto ketika melakukan hobinya. Dampaknya, post-an tersebut menjadikan healing bukan hanya kebutuhan emosional saja, tetapi juga sebagai gaya hidup yang menunjukkan seseorang peduli pada kesehatan mentalnya.
Namun seiring dengan meluasnya fenomena ini, pemahaman tentang healing sudah tidak tepat. Apakah “healing” yang marak saat ini benar-benar upaya untuk menjaga keseimbangan dan kesehatan mental? atau hanya sebuah tren gaya hidup? Banyak orang menganggap healing ini sebagai pelarian, seperti self-reward tanpa melihat hal tersebut sebagai healing yang sebenarnya. Banyak output dari healing ini dilakukan secara impulsif, yang hanya sekedar ingin menghindari rasa penat atau bahkan tekanan tanpa mengetahui penyebab utama sumber stresnya atau persoalan internal yang sedang dihadapinya.
2. Sumber Stress di kalangan Generasi Z
Sumber stress yang paling sering muncul berasal dari tuntutan akademik atau pekerjaan, seperti jadwal yang padat, dan tugas yang menumpuk. Terutama ketika banyak atasan, dosen atau guru memberikan tugas dalam waktu yang bersamaan dan deadlinenya berdekatan. Pada Mahasiswa dan pelajar, tekanan untuk mempertahankan IPK atau nilai, dan ekspektasi dari orang tua yang menjadi beban tambahan pada generasi Z. Sedangkan pada pekerja, tekanan sering muncul dari tuntutan target kinerja, beban pekerjaan yang tinggi, serta ekspektasi atasan atau perusahaan yang selalu ingin produktif dan berprestasi. Pada mahasiswa dan pelajar yang aktif dalam organisasi juga mengalami kesulitan dalam membagi waktu antara kegiatan akademik dan non-akademik. Hal itu menunjukkan bahwa sumber stress tidak bersifat tunggal, tetapi kompleks dan saling berkaitan.
Dari hasil riset Rahmadini (2022) menunjukkan 53,1% responden mengalami beban kerja mental yang tinggi, dan kurang dari 42,9% mengalami stres kerja tinggi. Tuntutan kerja dan tuntutan hidup yang tinggi, serta rutinitas pekerjaan juga menjadi penyebab seseorang mengalami kejenuhan bahkan kelelahan dalam hari-harinya. Dari data Kementerian kesehatan (2023) generasi Z rentan mengalami depresi dan stres terutama di lingkungan kerja dan akademik dengan jam yang relatif pendek tapi tekanan tinggi. Sedangkan, menurut American Academy of Child & Adolescent Psychiatry (AACAP) stres yang dialami remaja dapat memunculkan berbagai keadaan emosi yang berupaya kecemasan yang bisa menimbulkan efek seperti sakit kepala, pusing, tangan keringatan, mual pada perut, mulut dan grogi.
3. Analisis Psikologi Sosial
a. Social Comparison Theory
Fenomena healing yang populer di kalangan generasi Z lebih dari sebuah respons terhadap stres, tetapi cerminan dari dinamika psikologis yang dijelaskan Festinger (1954) tentang teori social comparison. Teori ini bisa melihat mengapa sebuah kebutuhan yang sifatnya personal berubah menjadi sebuah tren gaya hidup. Inti Dari teori Festinger (1954) manusia memiliki dorongan untuk mengevaluasi atau mengukur diri sendiri. Namun, dorongan ini menjadi sangat kuat dan terjadi karena tidak adanya tolak ukur untuk menilai diri sendiri, sehingga orang lain menjadi perbandingannya. Proses healing dari stres adalah kondisi yang bisa dibilang ambigu, karena tidak ada parameter yang pasti untuk mengukur kapan seseorang telah kembali normal atau sembuh dari tekanan yang dihadapinya. Tidak adanya standar objektif itu menjadikan seseorang untuk melakukan social comparison.
Pada titik inilah media sosial berperan, platform seperti Instagram, TikTok,dll menjadi wadah utama social comparison. Karena Festinger (1954) berhipotesis bahwa individu akan cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain yang “serupa”, sehingga konten healing dari teman-teman atau influencer menjadi tolak ukurnya. Ketika seseorang melihat unggahan liburan, ke kafe, atau aktivitas hobi yang tergolong populer dengan embel-embel “healing”, orang-orang tidak hanya melihat itu sebagai sebuah kegiatan, tetapi sebuah standar sosial terkait bagaimana proses healing yang seharusnya.
Konsekuensi dari social comparison inilah yang membentuk “keinginan untuk sama dengan orang lain”, karena standar healing yang terlihat di media sosial menjadi norma yang tidak tertulis, maka individu yang merasa coping-nya berbeda akan merasa yang dilakukan kurang valid, karena perbedaan tersebut. Pressure inilah yang membuat makna healing bergeser, sehingga tidak lagi murni untuk kebutuhan emosional, melainkan menjadi gaya hidup untuk sebuah validasi. Bahkan dalam konteks healing tersebut banyak hal yang dilakukan secara impulsif, sehingga tujuannya bukan untuk healing melainkan menunjukkan partisipasi seseorang pada sebuah tren agar tidak merasa tertinggal dari lingkungan sosialnya.
b. Social Learning
Fenomena healing di kalangan generasi Z, tidak muncul begitu saja. Penyebarannya yang masif sangat dipengaruhi oleh mekanisme teori social learning oleh Albert Bandura (1976). Teori ini menyatakan bahwa perilaku manusia itu tidak hanya dibentuk oleh pengalaman pribadi saja, tetapi juga dipelajari secara observasi melalui modeling atau peniruan. Menurut Bandura (1976), sebagian perilaku manusia itu dipelajari secara observasional melalui modelling. Dari mengamati orang lain, seseorang membentuk pengetahuan tentang sebuah perilaku baru dilakukan, dan tahap selanjutnya hal tersebut menjadi informasi yang berfungsi sebagai panduan seseorang untuk bertindak. Misal, pada media sosial ada influencer yang melakukan aktivitas healing sebagai konten. Hal tersebut tentunya menjadi “model” bagi viewersnya, seperti foto estetik di alam, kafe, atau saat melakukan hobi. Bandura menjelaskan, melalui modelling seseorang bisa memperoleh pola perilaku yang sama, tanpa harus melalui proses trial and error, atau dengan kata lain generasi Z tidak perlu menyusun sendiri apa itu “healing”, tetapi mereka bisa meniru hal-hal yang sudah populer. Bandura (1976) menyatakan bahwa individu akan lebih mungkin untuk melakukan suatu perilaku, jika perilaku tersebut akan menghasilkan respons yang positif atau bernilai bagi orang yang mencontohkan. Misal, dengan konten healing yang beredar di media sosial, serta mendapat likes, komentar pujian, dan membentuk citra diri yang positif, maka viewers melihat hal tersebut dihargai secara sosial yang membuat banyak orang meniru.
c. Self Presentation
Pada Fenomena “healing” juga bisa dianalisis dengan teori self-presentation oleh Jones & Pittman (1982). Self-presentation adalah perilaku yang bertujuan untuk membentuk atau mempengaruhi persepsi orang lain terhadap kita, yang sering kali untuk meningkatkan status sosial. Menurut teori Jones & Pittman (1982) tindakan seseorang dalam menampilkan suatu hal, dalam konteks ini healing, bukanlah sekedar berbagi pengalaman saja, melainkan untuk mendapatkan persepsi dari viewers-nya.
Dengan meng-upload foto-foto estetik ketika berlibur, atau di kafe, maka itu akan membangun citra dirinya sebagai seseorang yang peduli pada “kesehatan mental”. Ini adalah cara seseorang untuk membangun citranya sebagai sosok yang sadar kesehatan mental, hal-hal modern, dan keseimbangan aktivitas dalam hidup. Dengan teori ini membantu menjelaskan mengapa makna “healing” sudah bergeser menjadi “gaya hidup”. Jones dan Pittman (1982) menekankan bahwa perilaku yang dilakukan seseorang akan melibatkan pemilihan dan penekanan pada aspek tertentu, jadi bukan sebuah kebohongan total. Aktivitas healing yang di share di media sosial mungkin benar-benar dilakukan, tetapi motivasinya sudah bergeser dari healing untuk kebutuhan emosional menjadi validasi eksternal. Pada kerangka teori ini, tindakan healing yang dianggap self-reward berubah menjadi tindakan impulsif, sehingga fokusnya bukan keefektifan dari healing lagi, melainkan ingin membangun citra diri yang di inginkan di media sosial.
4. Kesimpulan dan Rekomendasi
Kondisi cemas dan stres adalah bagian dari proses hidup yang tidak bisa dihilangkan, tetapi bisa dikontrol melalui berbagai macam cara. Salah satu upaya yang dekat dengan kondisi masyarakat atau generasi Z adalah healing. Pada dasarnya healing adalah sebuah coping mechanism, namun fenomena ini telah bergeser menjadi sebuah konstruksi sosial yang kompleks pada generasi Z, dimana hal yang seharusnya fokus pada pengelolaan emosi, dan pengendalian diri telah dibentuk ulang oleh dinamika sosial pada era digital.
Analisis dengan 3 teori psikologi sosial menunjukkan bagaimana fenomena ini bertransformasi. Teori social comparison menjelaskan bagaimana pergeseran maknanya, yaitu karena tidak adanya standar objektif untuk “healing” sehingga mendorong seseorang untuk mencari validasi dengan membandingkan dirinya dengan apa yang dilihat di media sosial. Selanjutnya, teori social learning memberikan kerangka terkait bagaimana perilaku ini di replikasi secara terus menerus, yaitu seseorang mengobservasi dan meniru apa yang mereka anggap sebagai “aktivitas healing” yang populer, terutama untuk mendapatkan validasi sosial. Terakhir, teori self presentation menjelaskan dibalik motivasi tindakan seseorang yang mendokumentasikan aktivitas healingnya untuk membangun citra diri yang baik atau diinginkan di publik.
Maka bisa disimpulkan bahwa, “budaya healing” sudah bergeser maknanya, dari proses untuk pemulihan diri secara internal menjadi sebuah pertunjukkan untuk mendapat respons dari eksternal. Fokusnya sudah berubah dari keefektifan dalam mengontrol stress menjadi kesan dan validasi sosial.
Berdasarkan analisis diatas, untuk mengembalikan fokus “healing” sebagai sebuah proses dalam mengontrol stres atau permasalahan internal, beberapa langkah yang dapat direkomendasikan. Pertama , untuk generasi Z. Penting untuk membangun kesadaran yang konkret untuk motivasi pribadi. Sebelum melakukan aktivitas healing, sebaiknya menyadari apakah tindakan tersebut memang dibutuhkan untuk mengurangi respon fisiologis terhadap stres atau hanya respons terhadap tekanan sosial. Generasi Z juga harus menemukan metode untuk coping stress nya yang bersifat personal dan efektif, seperti mengelola waktu, atau membentuk kebiasaan baru, meskipun hal itu tidak populer namun dapat menjadi langkah healing yang lebih tepat. Kedua, untuk pendidik dan praktisi kesehatan mental. Perlu dilakukan edukasi dan literasi media yang lebih luas lagi terkait dampak psikologis di media sosial, khususnya terkait mekanisme social comparison (perbandingan sosial). Memberikan pengetahuan pada generasi muda dengan pemahaman teori atau cara untuk membantu mereka mengidentifikasi dan mengelola tekanan untuk konformitas (dorongan atau paksaan untuk mengubah sikap). Ketiga, untuk penelitian lanjutan. Disarankan, bagi para peneliti untuk mengkaji lebih dalam dampak jangka panjang dari fenomena “healing”. Apakah tren ini berujung pada menambahnya beban stres baru dalam bentuk tekanan untuk menunjukkan gaya hidup yang “ideal”? Penelitian lebih lanjut bisa berfokus pada pengembangan intervensi yang efektif untuk mendorong metode “perawatan diri” yang berkelanjutan di era digital.