Scroll untuk baca artikel
Opini

Fenomena #KaburAjaDulu: Ketika Generasi Muda Merasa Harus Pergi Demi Diri Sendiri

×

Fenomena #KaburAjaDulu: Ketika Generasi Muda Merasa Harus Pergi Demi Diri Sendiri

Sebarkan artikel ini
Fenomena #KaburAjaDulu: Ketika Generasi Muda Merasa Harus Pergi Demi Diri Sendiri

Oleh Nayla Natania Nugroho

Beberapa tahun terakhir, lini masa media sosial di Indonesia dipenuhi dengan tagar #KaburAjaDulu. Sekilas, ungkapan itu terdengar ringan dan penuh humor khas anak muda. Namun di balik candaan tersebut, tersimpan kegelisahan yang nyata. Semakin banyak generasi muda Indonesia mengungkapkan keinginan untuk pergi ke luar negeri, entah untuk bekerja, melanjutkan studi, atau sekadar mencari kehidupan yang dianggap lebih baik dan bermakna. Survei YouGov Indonesia (2025) yang dilaporkan oleh CNN Indonesia mencatat bahwa 41% Gen Z Indonesia mempertimbangkan untuk pindah ke luar negeri. Angka ini sejalan dengan data BandungBergerak.id (2024) yang melaporkan 39,6% generasi muda ingin mencari pengalaman di luar negeri. Bahkan, survei YouGov (Nott, 2019) yang dikutip oleh The PIE News mengungkap bahwa 71% anak muda usia 18–24 tahun di Indonesia pernah mempertimbangkan untuk bermigrasi. Persentase ini bukan sekadar angka statistik, tetapi sinyal sosial yang kuat tentang perubahan cara berpikir generasi muda terhadap konsep “rumah”, “masa depan”, dan “kebahagiaan”.

Dalam arus digital yang serba cepat, narasi “hidup lebih baik di luar negeri” seolah menjadi impian kolektif baru. Konten di media sosial sering menampilkan gaya hidup mapan, sistem kerja yang lebih adil, atau lingkungan pendidikan yang lebih terbuka di negara lain. Cerita-cerita itu secara perlahan membentuk persepsi bahwa kebahagiaan dan kesuksesan hanya bisa ditemukan di luar negeri. Namun, jika ditelaah dari perspektif Psikologi Sosial, fenomena ini jauh lebih kompleks daripada sekadar tren atau keinginan sesaat. Salah satu teori yang dapat menjelaskan hal ini adalah Self-Determination Theory (Deci & Ryan, 1985), yang menyatakan bahwa manusia memiliki tiga kebutuhan psikologis utama, yakni autonomy, competence, dan relatedness. Banyak anak muda merasa bahwa ketiga kebutuhan dasar ini belum terpenuhi di dalam negeri. Lingkungan kerja yang masih hierarkis, birokrasi yang lambat, dan budaya profesional yang sering kali tidak menghargai kemampuan individu membuat mereka merasa tidak berdaya. Dalam konteks ini, keputusan untuk “kabur” justru menjadi bentuk aktualisasi diri, sebuah usaha untuk merebut kembali kendali atas hidup dan mengembangkan potensi tanpa batasan struktural yang mengekang. Migrasi bukan lagi sekadar pelarian, tetapi menjadi simbol kebebasan dan usaha menemukan ruang hidup yang lebih sehat secara psikologis.

Selain kebutuhan internal tersebut, media sosial memainkan peran penting dalam membentuk persepsi dan keinginan migrasi. Melalui teori Social Comparison (Festinger, 1954), kita bisa memahami bahwa manusia cenderung menilai dirinya dengan membandingkan kehidupan mereka dengan orang lain. Di era digital, perbandingan itu kini terjadi hampir setiap hari. Ketika seseorang melihat temannya kuliah di Eropa atau bekerja di perusahaan multinasional, secara tidak sadar muncul rasa ingin menyamai atau bahkan melampaui pencapaian itu. Perbandingan sosial seperti ini memunculkan dorongan untuk membuktikan diri, bukan hanya di mata orang lain, tetapi juga terhadap ekspektasi pribadi. Akibatnya, “keinginan pergi” bukan semata persoalan ekonomi, melainkan bagian dari pencarian identitas sosial dan harga diri di tengah kompetisi simbolik yang diciptakan dunia maya.

Namun, tidak sedikit yang merasa bimbang ketika keinginan untuk pergi berbenturan dengan nilai nasionalisme dan rasa cinta tanah air. Banyak anak muda mengalami konflik batin antara idealisme untuk berkontribusi di negeri sendiri dan realitas sosial-ekonomi yang menantang. Dalam psikologi sosial, situasi ini dikenal sebagai disonansi kognitif (Festinger, 1957), di mana kondisi ketika nilai dan tindakan seseorang saling bertentangan, sehingga menimbulkan ketegangan psikologis. Untuk meredakannya, muncul rasionalisasi baru seperti, “Aku pergi bukan karena tidak cinta Indonesia, tapi karena ingin berkembang dulu, baru berkontribusi nanti.” Pernyataan semacam ini menjadi cara bagi individu untuk tetap merasa konsisten secara moral, meskipun tindakannya tampak berseberangan dengan nilai kolektif.

Jika dilihat dari data tren, fenomena ini tidak bisa dianggap sepele. Ia menunjukkan ekspresi sosial yang merefleksikan kekecewaan terhadap sistem yang gagal memberi ruang tumbuh bagi generasi muda. Dalam kacamata psikologi sosial, fenomena #KaburAjaDulu adalah cermin dari hubungan yang rapuh antara individu dan struktur sosialnya. Ketika masyarakat gagal menyediakan dukungan untuk memenuhi kebutuhan psikologis dasar warganya, maka “kabur” menjadi bentuk protes yang paling tenang namun paling lantang.

Fenomena ini pun membawa konsekuensi sosial yang lebih luas. Meningkatnya keinginan migrasi generasi muda menandakan pergeseran nilai dari kolektivisme tradisional, yang menekankan kebersamaan dan tanggung jawab sosial, menuju individualisme reflektif, di mana pencapaian pribadi menjadi tolok ukur utama kesuksesan. Di satu sisi, hal ini menunjukkan kemajuan cara berpikir yang lebih mandiri. Namun di sisi lain, ia juga menyiratkan risiko menurunnya rasa kebersamaan, solidaritas sosial, dan identitas nasional jika tidak diimbangi dengan perubahan sistem yang lebih adil dan inklusif.

Fenomena #KaburAjaDulu seharusnya tidak dipandang sebagai bentuk ketidaksetiaan pada bangsa, melainkan sebagai cermin kejujuran sosial, bahwa ada sesuatu yang perlu diperbaiki dalam sistem kita agar generasi muda tidak merasa perlu pergi untuk bisa berkembang. Pemerintah dan institusi pendidikan dapat menjadikan fenomena ini sebagai peringatan untuk menciptakan lingkungan yang lebih mendukung perkembangan otonomi, kompetensi, dan keterhubungan sosial anak muda di dalam negeri.

Pada akhirnya, keinginan untuk “kabur” bukanlah tanda kelemahan, melainkan bentuk keberanian untuk mencari makna dan ruang tumbuh. Generasi muda tidak kabur karena benci, tetapi karena ingin menemukan tempat di mana mereka bisa menjadi versi terbaik dari dirinya sendiri. Tugas kita bersama adalah memastikan tempat itu tidak selalu harus berada di luar negeri, tetapi bisa tumbuh dan berakar di rumah, di tanah air yang seharusnya juga menjadi ruang berkembang bagi setiap warganya.

Profil Penulis

NAYLA NATANIA NUGROHO, lahir di Surakarta, 11 Desember 2005, merupakan mahasiswa Fakultas Psikologi Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Memiliki ketertarikan pada kajian psikologi sosial dan fenomena budaya generasi muda. Di sela kesibukan kuliah, suka membaca karya Tere Liye, serta menikmati musik beraliran indie yang banyak menginspirasi gaya tulisan yang reflektif dan puitis. Artikel ini menjadi salah satu bentuk pengekspresian dalam memadukan kepekaan sastra dengan pandangan ilmiah tentang realitas sosial yang dihadapi generasi muda masa kini. WA: 088226849163, IG: @nathniela_. Surat-menyurat: [email protected]

Efek Lipstik Gen Z
Opini

Oleh: Watik Handayani, S.Pd., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok