Oleh: Serley Chyntia, Mahasiswa
Humaniora berasal dari bahasa latin artes liberaless yaitu studi tentang kemanusiaan (Suardipa, 2018:80). Ilmu-ilmu Humaniora merupakan sekumpulan ilmu pengetahuan yang memusatkan perhatiannya pada sisi hasil kreasi kemanusiaan manusia (humanities aspects) secara metafisik maupun fisik, meliputi: keyakinan, ide-ide, estetika, etika, hukum, bahasa, pengalaman hidup, dan adat-istiadat (Tampubolon, 2019:265).
Ilmu humaniora terdiri dari kata ilmu dan humaniora, ilmu berarti semua pengetahuan yang tersususun melalui metode-metode keilmuan atau pengetahuan yang diperoleh sedangkan humaniora diartikan sebagai seperangkat sikap dan perilaku moral yang dilakukan manusia dengan sesamanya.
Dalam era digital saat ini, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di seluruh bagian dunia. Tetapi, dalam negara-negara yang menganut ideologi komunisme, media sosial bisa membawa banyak dampak negatif dan juga dapat menjadi ancaman tersendiri bagi mereka. Dalam pandangan sosial humaniora yang membahas tentang kemanusiaan yaitu seperangkat sikap dan perilaku moral yang dilakukan manusia dengan sesamanya memberikan pengetahuan mengenai bagaimana media sosial dapat mempengaruhi struktur sosial, politik, dan budaya dalam negara komunis. Artikel ini akan membahas Pengaruh Buruk Media Sosial Menurut Sosial Humaniora Dalam Pandangan Negara Komunisme.
1. Penyebaran Ideologi Radikal
Internet memberikan akses tak terbatas kepada masyarakat di seluruh dunia untuk berkomunikasi, berbagi informasi, dan mendapatkan pengetahuan baru. Namun, bersamaan dengan kemajuan teknologi ini, kita juga dihadapkan pada tantangan baru dalam bentuk penyebaran ideologi radikal yang menggunakan internet sebagai alat utama untuk mencapai tujuan mereka. Ideologi radikal adalah pandangan atau keyakinan yang mempromosikan pemikiran ekstrem dan sering kali bertentangan dengan nilai-nilai yang dipegang oleh mayoritas masyarakat (Ghifari, 2017; Sari, 2017). Pada era digital, internet memberikan platform yang sangat efektif bagi para penyebar ideologi radikal untuk menjangkau dan mempengaruhi audiens yang lebih luas. Melalui media sosial, forum online, saluran YouTube, dan berbagai platform lainnya, para penggiat ideologi radikal dapat dengan mudah menyebarkan propaganda mereka, menggalang dukungan, dan merekrut simpatisan baru (Senaharjanta, 2018).
2. Disintegrasi Sosial
Pada penelitian yang dilakukan oleh Graciela dkk (2021) dibahas tak sedikit fenomena yang menunjukkan pemanfaatan media sosial digunakan untuk membuat keributan sosial oleh pihak yang tidak bertanggung jawab. Terdapat banyak fenomena seperti, menyebarkan berita bohong yang tidak jelas asal-usulnya, berita dengan judul yang provokatif, komentar kebencian, adu domba, ajakan untuk menyerang suatu pihak, dan masih banyak lagi. Fenomena seperti inilah yang dapat mengancam disintegrasi bangsa yang akan berpengaruh pula terhadap persatuan dan kesatuan nasional.
3. Mengurangi Kontrol Negara
Kontrol informasi dan komunikasi merupakan salah satu pilar utama dalam negara komunis. Pemerintah biasanya mengelola media massa dan membatasi akses ke informasi yang dianggap berbahaya atau subversif. Media sosial, terutama platform asing, sulit untuk diawasi sepenuhnya karena sifatnya yang terdesentralisasi dan global. Hal ini membuka peluang bagi oposisi atau kelompok kritis untuk menyuarakan pandangan mereka tanpa hambatan. Dari perspektif sosial humaniora, kebebasan berekspresi yang tidak terkendali ini dapat mengganggu kestabilan politik dan sosial yang diupayakan oleh negara komunis.
4. Kebiasaan Gaya Hidup Konsumtif
Konten di media sosial sering kali menampilkan gaya hidup konsumtif yang mendorong individu untuk mengejar status sosial melalui konsumsi barang dan jasa. Prinsip komunisme menolak pemanfaatan ekonomi oleh individu tertentu dan menekankan distribusi sumber daya secara merata. Media sosial yang mempromosikan gaya hidup konsumtif bertentangan dengan nilai-nilai tersebut, karena mendorong pergeseran fokus dari kolektivitas menuju individualisme dan kepemilikan pribadi. Dalam konteks sosial humaniora, peningkatan gaya hidup konsumtif dapat mengubah dinamika sosial dan mengganggu struktur ekonomi yang telah diatur untuk mencapai kesejahteraan bersama.
5. Erosi Nilai Tradisional
Perkembangan teknologi informasi membawa sebuah perubahan dalam masyarakat. Lahirnya media sosial menjadikan pola perilaku masyarakat mengalami pergeseran baik budaya, etikan dan norma yang ada.
Media sosial juga mempengaruhi budaya lokal dan tradisional dengan menyebarkan tren global yang sering kali tidak sejalan dengan nilai-nilai masyarakat komunis. Penyebaran budaya populer, mode, dan gaya hidup Barat dapat menyebabkan erosi nilai-nilai tradisional yang telah menjadi bagian dari identitas nasional. Sosial humaniora menekankan pentingnya mempertahankan warisan budaya dan identitas kolektif, sehingga pengaruh media sosial yang menggantikan budaya lokal dengan tren global dianggap merusak keutuhan budaya tersebut.
Dari pandangan sosial humaniora, media sosial membawa banyak tantangan serius bagi negara-negara komunis. Penyebaran ideologi asing, disintegrasi sosial, pengurangan kontrol negara, peningkatan konsumerisme, dan erosi nilai tradisional adalah beberapa dampak negatif utama yang diidentifikasi. Oleh karena itu, banyak negara komunis mengambil langkah-langkah untuk mengendalikan atau bahkan membatasi akses ke media sosial, seperti memblokir platform asing dan mengembangkan alternatif lokal yang dapat diawasi oleh pemerintah. Pemahaman terhadap dampak ini penting untuk merumuskan kebijakan yang seimbang antara membuka akses informasi dan menjaga stabilitas sosial serta ideologis yang diupayakan oleh negara komunis.
