Scroll untuk baca artikel
Health

Serba-serbi Hipertensi si “Silent Killer”

×

Serba-serbi Hipertensi si “Silent Killer”

Sebarkan artikel ini
Serba-serbi Hipertensi si “Silent Killer”

Hipertensi kerap disebut Silent Killer dikarenakan jika kondisi ini tidak segera ditangani, Hipertensi dapat menjadi faktor risiko beberapa penyakit berbahaya

DEPOKPOS – Apa yang terbesit di pikiran Anda ketika mendengar Silent Killer? Hipertensi atau yang kerap disebut Silent Killer adalah suatu kondisi dimana tekanan pada pembuluh darah meningkat secara terus menerus. Hipertensi terjadi ketika tekanan di pembuluh darah terlalu tinggi, yaitu sistolik ≥ 140 mmHg dan diastolik ≥ 90 mmHg.

Hipertensi kerap disebut Silent Killer dikarenakan jika kondisi ini tidak segera ditangani, Hipertensi dapat menjadi faktor risiko beberapa penyakit berbahaya seperti gagal jantung, kehilangan penglihatan, penyakit ginjal kronis, depresif, stroke, hingga kematian.

Riskesdas 2018 menyatakan prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran pada penduduk usia ≥18 tahun sebesar 34,1%, tertinggi di Kalimantan Selatan (44.1%), sedangkan terendah di Papua sebesar (22,2%).

Estimasi jumlah kasus hipertensi di Indonesia sebesar 63.309.620 orang, sedangkan angka kematian di Indonesia akibat hipertensi sebesar 427.218 kematian. Di dunia, hipertensi menyebabkan lebih dari 7.5 juta kematian setiap tahunnya, yaitu sekitar 12.8% dari total jumlah kematian.

Diagnosa dan Gejala Hipertensi

Tanda dan gejala tekanan darah tinggi terkadang tidak dapat dirasakan, tetapi terkadang beberapa gejala muncul bersamaan dan diyakini terkait dengan tekanan darah tinggi. Gejalanya bervariasi pada setiap orang dan hampir serupa dengan gejala penyakit lain, seperti sakit kepala, pusing, jantung berdebar, mudah lelah, penglihatan kabur, telinga berdengung, dan hidung berdarah. Untuk mengetahui seseorang apakah seseorang mengalami hipertensi, biasanya dilakukan pengecekan rutin ke fasilitas kesehatan atau klinik medis untuk memeriksakan tekanan darahnya menggunakan sphygmomanometer.

Faktor Risiko Hipertensi

● Usia
Tingginya hipertensi sejalan dengan bertambahnya umur yang disebabkan oleh perubahan struktur pada pembuluh darah besar, sehingga pembuluh darah menjadi lebih sempit dan dinding pembuluh darah menjadi kaku, sebagai akibatnya adalah meningkatnya tekanan darah sistolik.

● Pendidikan
Semakin tinggi pendidikan responden, diharapkan wawasan yang dimilikinya akan semakin luas sehingga pengetahuan pun juga akan meningkat, termasuk pengetahuan responden mengenai hipertensi dan dapat meningkatkan upaya pencegahan kekambuhan hipertensi.

● Aktivitas Fisik
Orang yang kurang melakukan aktivitas fisik juga mempunyai frekuensi denyut jantung yang lebih tinggi sehingga otot jantungnya harus bekerja lebih keras untuk memompa lebih keras pada saat kontraksi. Makin keras otot jantung memompa, semakin besar tekanan pada arteri.

● Pola Makan
Semakin tinggi lemak mengakibatkan kadar kolesterol dalam darah meningkat yang akan mengendap dan menjadi plak yang menempel pada dinding arteri, plak tersebut menyebabkan penyempitan arteri sehingga memaksa jantung bekerja lebih berat dan tekanan darah menjadi lebih tinggi. Tinggi lemak dapat menyebabkan obesitas yang dapat memicu timbulnya hipertensi.

Pencegahan Hipertensi

Hipertensi erat kaitannya dengan perilaku dan gaya/pola hidup, sehingga penanganannya yakni dengan merubah perilaku hidup sehat yakni dengan perilaku CERDIK. Terdapat 5 perilaku yang termasuk dalam CERDIK sesuai anjuran KEMENKES, diantaranya adalah:

● Cek Kesehatan Secara Rutin
Jika kamu memiliki risiko tertentu terkena tekanan darah tinggi, sebaiknya kamu secara teratur memeriksa tekanan darah, baik di rumah, puskesmas, atau tempat kesehatan terdekat.

● Enyahkan Asap Rokok
Merokok bisa menyebabkan tekanan darah tinggi dan meningkatkan risiko penyakit jantung serta penyakit paru-paru. Dampaknya tidak hanya buruk untuk kesehatanmu sendiri, tapi juga berbahaya bagi orang-orang di sekitarmu.

● Rajin Berolahraga
Berolahraga dengan intensitas sedang selama 30-60 menit di lingkungan yang terbuka dan aman (seperti di rumah) sangat disarankan. Berolahraga tidak hanya membantu mengatasi tekanan darah tinggi, tetapi juga meningkatkan kekebalan tubuh.

● Diet Sehat dan Seimbang
Selaras dengan berolahraga, pastikan untuk mengonsumsi makanan sehat yang mengandung nutrisi penting seperti karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral. Mengurangi asupan garam dalam pola makan juga dapat membantu mengendalikan tekanan darah.

● Istirahat yang Cukup
Tidur yang cukup sangat penting untuk menjaga metabolisme tubuh tetap berjalan lancar. Istirahat tidak hanya berarti tidur, tetapi juga melibatkan kegiatan santai seperti menonton televisi dan membaca buku. Disarankan agar orang dewasa mendapatkan 7-8 jam tidur setiap harinya.

● Kelola Stres dengan Baik
Tekanan darah tinggi dapat disebabkan oleh stres. Setiap orang memiliki kemampuan untuk mengelola respons terhadap stres dengan memikirkan hal-hal yang menyenangkan dan melakukan pernafasan teratur. Hal ini dapat membantu mengatasi stres dan menjaga tekanan darah tetap stabil.

Pengobatan Hipertensi

Seseorang yang didiagnosis menderita hipertensi disarankan untuk merubah pola hidupnya guna untuk menurunkan tekanan darah. Perubahan pola hidup yang dianjurkan sama seperti tindakan pencegahan yang sudah dijelaskan di atas.

Namun, terdapat beberapa jenis obat dapat digunakan untuk membantu mengendalikan hipertensi, antara lain:

– Penghambat ACE, seperti enalapril dan lisinopril mengendurkan pembuluh darah dan mencegah kerusakan ginjal.

– Penghambat reseptor angiotensin-2 (ARB) termasuk losartan dan telmisartan mengendurkan pembuluh darah dan mencegah kerusakan ginjal.

– Penghambat saluran kalsium termasuk amlodipine dan felodipine mengendurkan pembuluh darah.

– Diuretik termasuk hidroklorotiazid dan klortalidon menghilangkan kelebihan air dari tubuh, sehingga menurunkan tekanan darah.

Perlu diingat sebelum mengonsumi obat tersebut dianjurkan untuk berkonsultasi dengan dokter atau penyedia layanan kesehatan untuk anjuran konsumsi obat dan untuk mengetahui efek samping dari mengonsumsi obat tersebut.

Alya Dzihni Nafisah,  Rifa Aqilah Mahedinar, Dr. Robiana Modjo, SKM, M.Kes.
Mahasiswa Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia