Oleh Naura Athaya Fatoni, Universitas Tazkia.
DEPOKPOS – Pernah tidak, melihat anak yang membanting mainan ketika kalah bermain? Atau menangis keras di toko karena permintaan atau keinginannya ditolak? Itu adalah hal yang wajar, karena mereka anak-anak yang masih perlu belajar dalam meregulasi emosi. Tapi cara kita menanggapinya ikut menentukan seperti apa ia tumbuh dewasa nanti.
Menahan diri bukan berarti memendam
Pengendalian emosi tidak menuntut anak harus selalu tenang. Marah, kecewa, dan iri itu adalah hal yang normal. Yang perlu dilatih adalah jeda: ruang singkat antara perasaan dan tindakan yang akan dilakukan. Di ruang itulah anak belajar memilih, antara ingin membentak atau menyampaikan/bicara secara baik dan sopan, akan memukul atau menjauh sebentar dari hal yang membuat ia kecewa atau marah.
Mengapa ini penting untuk masa depannya?
Sejumlah penelitian mengaitkan kemampuan menahan diri di masa kecil akan berpengaruh pada kehidupan dewasa yang lebih baik. Studi Dunedin di Selandia Baru, yang mengikuti ribuan anak sejak lahir, menemukan bahwa anak dengan pengendalian diri lebih baik cenderung lebih sehat dan lebih stabil secara finansial saat dewasa.
Dilakukan pula penelitian oleh Psikolog Walter Mischel di Stanford menguji anak prasekolah dengan satu marshmallow:. Penelitian ini menunjukkan bahwa sebenarnya keinginan itu bisa ditahan dengan mengalihkan perhatian, seperti dengan menutup mata ataupun bernyanyi. Setelah ditelusuri anak-anak yang kemampuan menunggu ini banyak dipengaruhi latar belakang keluarga, artinya menahan diri ini merupakan keterampilan yang bisa dilatih.
Anak yang terbiasa menahan diri biasanya lebih mudah berteman, karena tidak meledak saat kalah atau berbeda pendapat tidak cepat menyerah ketika tugas terasa sulit lebih tahan stres dan tekanan lebih tidak mudah tergoda dengan gadget, game, dan hal instan lainnya
Berikut ada 5 cara melatih meregulasi emosi anak di rumah:
Jadi contoh terlebih dahulu.
Anak meniru apa yang ia lihat. Kalau kita membentak dan menyuruhnya sabar, yang ia tangkap adalah bentakannya. Tunjukkan cara kita menarik napas dan menjeda ketika kita sedang kesal.
Validasi tiap perasaannya.
Misalnya ketika anak mainannya diambil ketika waktu makan, katakan, “Adik kecewa ya mainannya diambil?”, Anak yang bisa menamai emosinya lebih mudah mengendalikannya. Semua perasaan boleh, tapi ajarkan bagaimana dia harus bertindak ketika sedang bersama emosinya, karena tidak semua perilaku diperbolehkan.
Ajari menenangkan diri saat ia sedang tenang.
Tarik napas dalam, menghitung sampai sepuluh, atau punya sudut tenang di rumah. Karena ketika baru Latihan saat dia tengah menangis hampir pasti gagal.
Berlatih menunggu lewat kegiatan sehari-hari.
Anda dapat bermain papan, menanam, memasak bersama, atau menunggu giliran Bersama anak. Dan jangan lupa beri apresiasi atas usahanya bersabar, bukan hanya hasilnya.
Tetapkan batas yang jelas dan hangat.
Ajarkan soal aturan yang konsisten, misalnya soal waktu anak dalam bermain gadget, ini melatih atas aturan yang telah disepakati, agar begitu diambil gadgetnya ia tidak boleh marah.
Yang sebaiknya dihindari
Jangan meremehkan perasaan anak denagn ‘Gitu aja nangis’, jangan menghukum keras saat ia meluapkan emosi, dan jangan selalu menuruti tangisan agar cepat reda. Perlu diingat juga, kemampuan ini tumbuh bertahap. Balita mengamuk itu wajar. Yang dibutuhkan adalah kesabaran kita, bukan kesempurnaan pada anak.
Penutup
Menahan diri bukan tanda lemah, melainkan kekuatan yang tenang. Di dunia yang serba instan, anak yang mampu berhenti sejenak dan memilih respons terbaik punya bekal yang tak bisa digantikan. Mulai dari hal kecil hari ini: satu napas dalam, satu giliran yang ditunggu, satu perasaan yang diberi nama.