Artikel

Fenomena Paylater: Sekali Klik, Seribu Keinginan

×

Fenomena Paylater: Sekali Klik, Seribu Keinginan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Hanifa Putri

Fenomena Paylater: Sekali Klik, Seribu Keinginan

DEPOKPOS – Di era yang maju saat ini, banyak barang barang yang bagus tersedia. Barang-barang tersebut dijual masif di kalangan masyarakat. Saat membuka platform belanja, pasti kita akan tergiur dengan iklan barang yang menarik. Setiap ada barang bagus, akan langsung dimasukkan ke keranjang belanja, notifikasi diskon tanggal kembar selalu muncul, dan jari selalu gatal untuk menekan tombol checkout. Entah barangnya dibutuhkan atau tidak, namun akan muncul rasa rugi untuk melewatkan diskon yang ada. Kebiasaan seperti ini sudah begitu biasa sampai kita jarang bertanya lagi, sebenarnya kita membeli karena butuh atau karena ikut-ikutan?

Banyak orang mengikuti gaya Konsumerisme dari seorang influencer yang memamerkan di platform media sosial. Konsumerisme sering kali diikuti dikarenakan didorong oleh keinginan akan status sosial daripada kebutuhan, yang kemudian memicu normative social influence, yaitu dorongan untuk merasa diterima oleh lingkungan sosial. Konsumerisme memang dapat memberikan kenyamanan, status, dan kepuasan. Namun, di balik itu, konsumerisme juga memiliki dampak besar terhadap kesehatan mental.

Fenomena ini biasanya dimulai dari mengaktifkan Paylater. Awalnya hanya mencoba untuk 1 barang saja, namun lama kelamaan menjadi kebiasaan untuk membeli setiap barang. Awalnya berpikir, beli dulu bayar nanti. Tak terasa hal tersebut memulai perilaku konsumerisme terjadi. Daya tarik utama PayLater terletak pada berbagai kemudahannya, mulai dari proses persetujuan yang instan, fasilitas cicilan tanpa kartu kredit, hingga promo menarik seperti bunga rendah atau bahkan nol persen dalam periode tertentu. Berbagai keuntungan ini membuat banyak orang tergoda untuk menggunakannya, tanpa benar-benar menyadari risiko finansial yang bisa muncul di balik kenyamanan tersebut.

Fenomena Paylater ini tidak tiba tiba mucul, namun mempunyai factor. Faktor pertama adalah kemudahan dan kecepatan akses. Pengajuan paylater umumnya hanya memerlukan aplikasi di ponsel, dengan syarat sederhana berupa KTP dan data diri, serta persetujuan yang selesai dalam hitungan menit. Dibandingkan kartu kredit atau pinjaman bank yang menuntut dokumen dan verifikasi panjang, paylater terasa jauh lebih praktis. Kemudahan ini didukung oleh perkembangan e-commerce dan dompet digital. Karena terintegrasi langsung dalam platform belanja daring, paylater muncul secara alami sebagai pilihan pembayaran saat konsumen menyelesaikan transaksi.

Faktor kedua adalah gaya hidup konsumtif dan pengaruh media sosial. Budaya “yang penting punya dulu” mendorong sebagian orang membeli barang demi mengikuti tren, menjaga gengsi, atau memenuhi tuntutan pergaulan, meskipun dana belum tersedia. Hal ini diperkuat oleh promosi seperti diskon besar, cashback, gratis ongkos kirim, dan bebas bunga di awal.

Konsumerisme memberikan beberapa dampak negatif bagi individu maupun masyarakat. Dari sisi ekonomi, perilaku menggunakan paylater dapat menyebabkan pemborosan dan kesulitan mengelola keuangan. Pengguna menjadi individu yang konsumtif karena beberapa kemudahan yang diberikan oleh penyedia layanan. Tidak sedikit orang yang rela berutang demi memenuhi gaya hidup yang dianggap modern. Fenomena ini juga dapat menimbulkan kecenderungan untuk membeli barang yang lebih mahal karena kenaikan limit yang diberikan dari layanan Paylater. Dari sisi sosial, Paylater dapat memunculkan kesenjangan dan persaingan yang tidak sehat karena masyarakat cenderung menilai seseorang berdasarkan kepemilikan materi.

Untuk mengatasi masalah ini, masyarakat perlu menerapkan pola hidup yang lebih bijaksana. Kesadaran untuk membedakan antara kebutuhan dan keinginan harus ditanamkan sejak dini. Pendidikan literasi keuangan juga penting agar masyarakat mampu mengelola penghasilan dengan baik dan tidak terjebak dalam perilaku konsumtif. Selain itu, penggunaan media sosial sebaiknya dilakukan secara bijak agar tidak mudah terpengaruh oleh tren yang bersifat sementara.

Fenomena Paylater yang merajalela di kalangan masyarakat merupakan fenomena yang dipengaruhi oleh perkembangan teknologi, media sosial, dan gaya hidup modern. Meskipun memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan, penggunaan Paylater yang berlebihan dapat menimbulkan berbagai dampak negatif, baik dari segi ekonomi, sosial, maupun lingkungan. Oleh karena itu, diperlukan kesadaran dan pengendalian diri agar masyarakat dapat menerapkan pola konsumsi yang lebih bijak dan sesuai dengan kebutuhan. Dengan demikian, kesejahteraan individu dan masyarakat dapat lebih terjaga di tengah perkembangan zaman yang semakin maju.

Hanifa Putri