Scroll untuk baca artikel
Opini

Generasi yang Kesepian dalam Keramaian

×

Generasi yang Kesepian dalam Keramaian

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ambarwati, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Generasi yang Kesepian dalam Keramaian

“Di dalam keramaian aku masih merasa sepi…”

Itu sepenggal lirik lagu Dewa 19 yang berjudul Kosong. Sebenarnya di sini bukan mau membahas lagu tersebut. Tetapi, tiba-tiba saja terasa _related_ dengan apa yang terjadi belakangan ini. Sebuah fenomena bunuh diri yang marak akhir-akhir ini menggerogoti pemikiran para pemuda yang hidup dalam kubangan sistem sekularisme-kapitalisme.

Dalam berita terbaru yang bersumber dari kompas.id mengabarkan seorang mahasiswa berinisial RR (19) FK Universitas Brawijaya, diduga berniat melakukan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 kampusnya. Pada Kamis (10/9/26). Dan seorang pria berinisial FS(30) ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan GBK, Jakarta pusat, pada Minggu (6/9/2026) dini hari. Mirisnya, sebelum FS sempat menggunggah pesan perpisahan dan Rp40 juta didonasikan ke komunitas kesehatan mental.

Dan dikabarkan juga hotline pencegahan bunuh diri healing 119.id tercatat klien dari kelompok usia 21-30 tahunlah yang mendominasi. Hal itu menunjukkan, krisis kesehatan mental paling banyak menimpa generasi muda. Sedih rasanya makin ke sini makin ke sana, makin hari makin menjadi, generasi muda harapan penerus bangsa yang rapuh dan tidak memiliki semangat di hidupnya.

Semua ini terjadi karena sekularisme telah mencabut akidah para pemuda dalam kehidupan, sehingga generasi kehilangan pegangan saat menghadapi tekanan hidup yang begitu besar dan kompleks. Tanpa iman sebagai benteng, kesulitan terasa sangat berat dan begitu menghimpit sehingga berujung pada keputusasaan.

Selain sekularisme, ada kapitalisme dalam sistem hari ini yang memakai wajah demokrasi, seolah-olah terlihat begitu berpihak kepada rakyat. Padahal, kenyataannya kapitalisme melahirkan masyarakat yang individualistik. Setiap orang berjuang sendiri tanpa adanya ikatan masyarakat yang kuat, padahal seharusnya ada ikatan yang membuat masyarakat saling menjaga dan saling mengingatkan.

Akibatnya, kesepian pun merajalela, bahkan di antara mereka yang telah berkecukupan secara materi. Hal ini juga dapat dipengaruhi oleh budaya positivity, fokus mengejar kesuksesan individu, sikap asosial, dan sebagainya.

Segala kemalangan termasuk perilaku bunuh diri yang menimpa pemuda hari ini merupakan akibat dari negara yang menerapkan sekularisme-kapitalisme. Negara sendiri yang membentuk individu-individu menjadi rapuh dan masyarakat individualistik melalui penerapan sistem pendidikan sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan termasuk didalamnya pendidikan dan ekonomi kapitalis yang hanya mengutamakan keuntungan di atas segala-galanya.

Berbeda dengan sekularisme-kapitalisme. Dalam sistem Islam, pembangunan akidah sebagai benteng jiwa dilakukan sejak dini. Keyakinan bahwa setiap kesulitan adalah ujian dari Allah dan perbuatan bunuh diri merupakan hal yang diharamkan. Sehingga menjadi penahan terkuat bagi seorang Muslim dari keputusasaan.

Islam membangun ikatan yang kuat antara keluarga dan masyarakat berdasarkan akidah Islam. Sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim yang di dalamnya kita diajarkan untuk memenuhi 6 hak-hak saudara muslim kita.

Hak seorang muslim atas muslim yang lain ada enam. Beliau bersabda, “Jika engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam; jika ia mengundangmu, penuhilah undangannya; jika ia meminta nasihat kepadamu, berilah nasihat kepadanya; jika ia bersin lalu memuji Allah (mengucapkan alhamdulillah), doakanlah ia (dengan mengucapkan yarhamukallah); jika ia sakit, jenguklah ia; dan jika ia meninggal dunia, iringilah jenazahnya (ke pemakaman)” (HR Muslim).

Allah dan Rasul-Nya mengajarkan kita untuk berempati, mengajarkan kita untuk saling peduli. Bila kita semua memenuhi hak-hak saudara muslim kita, selain akidah Islam dari individu yang kuat, dengan dipenuhinya hak-hak seorang muslim tersebut maka akan semakin menghilangkan kemungkinan perasaan ‘sepi-sendiri’ dalam keramaian.

Selain itu, kita dilarang berbuat tidak baik yang memicu perselisihan seperti dengki, menipu, membenci, saling membelakangi. Sebagaimana sabda Nabi SAW, “Janganlah kalian saling mendengki, janganlah saling menipu, janganlah saling membenci, dan janganlah saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara” (HR Muslim)

Jadi, tidak ada seorang pun yang dibiarkan menanggung beban hidupnya sendirian apalagi merasa kesepian. Dalam agama Islam beragama itu tidak hanya sebatas ritual ibadah seorang individu dengan Tuhannya saja. Melainkan, keharusan adanya pemerintahan yang menerapkan sistem Islam secara menyeluruh (kaffah) yang biasa disebut dengan Negara Khilafah yang dipimpin oleh seorang Khalifah.

Jadi, tidak seperti hari ini. Seorang individu harus sekuat tenaga memenuhi kebutuhan hidup yang menghimpit setiap hari dan berbarengan harus mengajarkan anak-anak dan keluarganya untuk berislam secara menyeluruh, menjaga akidah pribadi dan keluarga dan juga harus mengajak masyarakat kembali berislam secara menyeluruh tidak setengah-setengah.

Sedangkan berbagai terpaan dahsyat dari hal yang mendasar (kebutuhan sandang, pangan, papan, kesehatan, pendidikan) sampai tambang yang merusak lingkungan dan abainya negara karena tidak pernah hadir untuk rakyatnya belum lagi berita pejabat yang saling merangkul dalam merampok negara’ sudah menghujani rakyat dengan membabi buta.

Negara Khilafah juga menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah dan sistem ekonomi Islam yang menjamin kesejahteraan untuk semua rakyat, bahkan alam dan hewan-hewan, sarana dan prasarana juga begitu diperhatikan. Sehingga lahirlah individu yang kokoh dan masyarakat yang saling peduli, bukan generasi yang rapuh, mudah menyerah, tidak punya daya juang juang dan kesepian.

Ambarwati
Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok