Scroll untuk baca artikel
Opini

Ketika Politik Masuk FYP: TikTok dan Cara Baru Anak Muda Mengenal Politik

×

Ketika Politik Masuk FYP: TikTok dan Cara Baru Anak Muda Mengenal Politik

Sebarkan artikel ini

Oleh Devi Nurhaliza, Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi.

Ketika Politik Masuk FYP: TikTok dan Cara Baru Anak Muda Mengenal Politik

Pernah membuka TikTok hanya untuk mencari hiburan, tetapi beberapa kali scroll justru menemukan video tentang politik?

Ada yang membahas kebijakan pemerintah, ada yang mengomentari tokoh politik, ada pula yang menyampaikan kritik melalui meme, musik, atau humor. Tanpa merasa sedang mencari informasi politik, pengguna bisa saja sudah menonton, membaca komentar, bahkan ikut membicarakannya.

Situasi tersebut menunjukkan bahwa politik sekarang tidak hanya hadir melalui televisi, surat kabar, atau portal berita. Bagi banyak pengguna media sosial, terutama anak muda, politik juga dapat muncul di tempat yang awalnya digunakan untuk hiburan: halaman For You atau FYP TikTok.

TikTok yang sebelumnya lebih dikenal sebagai platform video pendek untuk musik, komedi, kuliner, dan berbagai tren kini juga menjadi ruang untuk membicarakan isu sosial dan politik. Kebijakan pemerintah, pemilu, tokoh politik, hingga kritik terhadap suatu kebijakan dapat dikemas dalam video singkat dengan bahasa yang lebih dekat dengan keseharian pengguna.

Dari Mencari Informasi Menjadi Menerima Informasi

Perubahan ini menarik jika dilihat dari cara masyarakat memperoleh informasi politik.

Dulu, ketika ingin mengetahui berita politik, seseorang mungkin sengaja menonton berita di televisi, membaca surat kabar, atau membuka portal berita. Sekarang, informasi politik dapat datang ketika seseorang sebenarnya hanya ingin mencari hiburan.

Pengguna cukup membuka TikTok, kemudian sistem rekomendasi menyajikan berbagai konten berdasarkan aktivitas dan ketertarikan mereka. Dari satu video ke video lainnya, isu politik dapat muncul di antara konten makanan, fashion, olahraga, hingga hiburan.

Besarnya jangkauan TikTok di Indonesia membuat fenomena ini semakin menarik. Laporan Digital 2026: Indonesia dari DataReportal mencatat bahwa data pada perangkat periklanan TikTok menunjukkan potensi jangkauan sekitar 180 juta pengguna berusia 18 tahun ke atas di Indonesia pada akhir 2025. Angka tersebut merupakan data jangkauan iklan, bukan jumlah pengguna aktif TikTok secara keseluruhan. DataReportal juga mengingatkan bahwa angka jangkauan iklan tidak dapat disamakan begitu saja dengan jumlah pengguna aktif bulanan.

Dengan jangkauan sebesar itu, TikTok memiliki ruang yang luas untuk menjadi tempat beredarnya berbagai pesan, termasuk pesan politik.

Politik Dikemas Lebih Dekat dengan Anak Muda

Salah satu hal yang membuat komunikasi politik di TikTok menarik adalah bentuk pesannya.

Pembahasan yang sebenarnya serius dapat dikemas melalui video singkat, storytelling, meme, musik, humor, atau bahasa sehari-hari. Isu yang sebelumnya terasa berat dan jauh dari kehidupan anak muda menjadi lebih mudah ditemukan dalam aktivitas sehari-hari.

Penelitian Dwi Marlina dan Lukman Hakim yang diterbitkan dalam Jurnal Audiens pada 2025, misalnya, menganalisis penggunaan TikTok oleh Gerindra dan PDIP dalam kampanye Pemilu 2024. Penelitian tersebut menemukan bahwa kedua partai memanfaatkan video pendek, hashtag, musik, serta berbagai bentuk interaksi untuk menyampaikan pesan politik dan membangun keterlibatan pengguna. Penelitian itu juga menunjukkan bahwa TikTok digunakan sebagai bagian dari strategi komunikasi politik untuk menjangkau Generasi Z.

Artinya, pesan politik tidak lagi selalu hadir dalam bentuk pidato panjang, baliho, atau debat formal. Pesan tersebut dapat dikemas menjadi konten singkat yang mengikuti kebiasaan konsumsi media anak muda.

Ketika Audiens Tidak Lagi Hanya Menjadi Penonton

Perubahan lain terlihat dari posisi audiens.

Di media sosial, pengguna tidak hanya menerima pesan. Mereka dapat memberikan respons melalui komentar, membagikan video, membuat konten balasan, atau menyampaikan pendapat mereka sendiri.

Dalam konteks komunikasi politik, kondisi ini membuat hubungan antara komunikator dan audiens menjadi lebih interaktif. Sebuah pesan politik dapat memperoleh tanggapan dalam hitungan menit dan kemudian berkembang menjadi percakapan yang lebih luas.

Penelitian terbaru Adi Maryanto yang diterbitkan pada Agustus 2026 dalam Buana Komunikasi bahkan melihat penyebaran pesan politik di TikTok pada Pemilu 2024 sebagai proses yang lebih kompleks daripada sekadar komunikasi dari satu sumber kepada audiens. Pesan dapat berpindah dari sumber awal ke akun agregator, kreator, kemudian menjangkau audiens melalui rekomendasi algoritmik.

Dengan kata lain, dalam komunikasi politik di TikTok, yang menentukan jangkauan sebuah pesan bukan hanya siapa yang berbicara. Cara pesan dikemas, siapa yang menyebarkannya, bagaimana audiens merespons, dan bagaimana sistem rekomendasi bekerja juga ikut berperan.

Masalahnya: Apa yang Ramai Belum Tentu Mewakili Semua Orang

Di balik kemudahan tersebut, ada persoalan yang perlu diperhatikan.

FYP seseorang bukanlah cermin dari seluruh pendapat masyarakat. Apa yang sering muncul di layar seseorang belum tentu sedang menjadi pembicaraan semua orang.

Algoritma personalisasi dapat membuat pengguna lebih sering melihat konten yang sesuai dengan aktivitas dan ketertarikannya. Akibatnya, seseorang dapat merasa bahwa sebuah pandangan sangat dominan hanya karena pandangan tersebut terus muncul di linimasanya.

Fenomena ini pada Juni 2026 turut disoroti Kementerian Komunikasi dan Digital melalui istilah “ilusi algoritma”. Menkomdigi Meutya Hafid mengingatkan bahwa sesuatu yang terlihat ramai di ruang digital belum tentu menggambarkan kondisi masyarakat secara keseluruhan. Algoritma personalisasi dapat memperbesar bagian tertentu dari realitas sehingga terlihat lebih dominan.

Karena itu, FYP seseorang tidak dapat dianggap sebagai gambaran suara seluruh masyarakat.

Viral Tidak Sama dengan Benar

Persoalan berikutnya muncul ketika popularitas dianggap sebagai ukuran kebenaran.

Sebuah video politik dapat memperoleh jutaan views, ribuan komentar, dan dibagikan berkali-kali. Angka tersebut menunjukkan bahwa konten tersebut berhasil mendapatkan perhatian, tetapi tidak otomatis membuktikan bahwa informasi di dalamnya benar.

Kecepatan penyebaran informasi juga menjadi tantangan tersendiri. Konten yang salah dapat ikut menyebar ketika dikemas dengan cara yang menarik, emosional, atau kontroversial.

Karena itu, pengguna perlu membiasakan diri melihat siapa sumber informasinya, memeriksa bukti yang digunakan, membandingkan dengan sumber lain, dan memahami konteks sebuah pernyataan sebelum mempercayai atau membagikannya.

Sederhananya, viral adalah ukuran perhatian, bukan ukuran kebenaran.

TikTok Bisa Menjadi Pintu Masuk untuk Mengenal Politik

Meski memiliki tantangan, kehadiran politik di TikTok juga membuka peluang bagi anak muda untuk lebih dekat dengan isu publik.

Anak muda yang sebelumnya merasa politik terlalu jauh atau membosankan dapat menemukan pembahasan mengenai kebijakan, pemilu, isu sosial, dan berbagai pendapat politik melalui platform yang memang sudah mereka gunakan sehari-hari.

Namun, mengenal politik melalui TikTok sebaiknya tidak berhenti pada satu video atau satu akun. Konten singkat dapat menjadi pintu masuk untuk mencari informasi yang lebih lengkap dari sumber lain.

Pada akhirnya, TikTok menunjukkan bahwa komunikasi politik terus berubah mengikuti kebiasaan masyarakat dalam menggunakan media. Politik tidak lagi hanya hadir melalui layar televisi atau halaman surat kabar. Sekarang, politik dapat muncul ketika seseorang sedang scroll FYP sambil mencari hiburan.

Tantangannya bukan lagi sekadar bagaimana menemukan informasi politik, tetapi bagaimana memahami informasi tersebut secara kritis.

Sebab, di tengah derasnya arus konten, sesuatu yang terus muncul di layar belum tentu merupakan suara mayoritas, dan sesuatu yang viral belum tentu benar.

Di era FYP, kemampuan untuk berhenti sejenak, memeriksa sumber, dan melihat informasi dari lebih dari satu sudut pandang menjadi bagian penting dari cara anak muda berkomunikasi dan memahami politik.