DEPOKPOS – Indonesia sedang memasuki babak baru dalam pengembangan kecerdasan buatan (AI). Dari pengguna teknologi global, bangsa ini mulai bertransformasi menjadi pencipta dan pengelola AI yang berdaulat. Data terbaru menunjukkan potensi ekonomi yang besar, infrastruktur yang sedang dibangun, serta tantangan yang harus segera diatasi agar AI benar-benar menjadi mesin pertumbuhan dan pemerataan.
Adopsi Tinggi, Namun Transformasi Industri Masih Tertinggal
Menurut laporan Google AI Economic Opportunity Report 2026, tingkat adopsi AI di Indonesia tergolong tinggi. Sebanyak 63 persen pengguna AI di tanah air sudah berada di tingkat menengah hingga mahir, lebih tinggi dibanding Amerika Serikat yang hanya 46 persen. Di sektor ekonomi kreatif dan media saja, pemanfaatan penuh AI generatif diproyeksikan mampu membuka nilai ekonomi hingga Rp66 triliun per tahun. Pekerja kreatif bahkan bisa menghemat rata-rata 390 jam kerja setahun berkat AI.
Namun, kesiapan industri belum sejalan. Riset SEAPPI bersama OpenAI dan AWS mengungkapkan baru sekitar 10 persen perusahaan di Indonesia yang berhasil melakukan transformasi penuh dengan AI. Hambatan utama adalah kekurangan keterampilan dan talenta digital (disebutkan oleh 57 persen pelaku usaha).
Di sisi pendidikan, hasil PISA 2025 menunjukkan 53 persen siswa Indonesia pernah menggunakan chatbot AI untuk membantu belajar setidaknya sekali seminggu, lebih tinggi dari rata-rata negara OECD (46 persen). Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah mendorong AI sebagai alat bantu, bukan pengganti proses belajar, melalui mata pelajaran Koding dan AI yang masih bersifat opsional.
Peta Jalan Nasional dan Upaya Membangun AI Berdaulat
Pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) telah menyusun Buku Putih Peta Jalan Kecerdasan Artifisial Nasional. Dokumen ini menjadi dasar Peraturan Presiden (Perpres) yang saat ini menunggu pengesahan. Prioritas mencakup sepuluh sektor strategis, antara lain ketahanan pangan, kesehatan, pendidikan, ekonomi dan keuangan, reformasi birokrasi, energi, serta seni dan ekonomi kreatif.
Salah satu langkah konkret adalah pembangunan AI Factory terbesar di ASEAN di Batang, Jawa Tengah, dengan target kapasitas hingga 1 gigawatt dalam tiga tahun. Tahap awal 200 MW direncanakan mulai 2027. Proyek ini melibatkan Indosat Ooredoo Hutchison, Nokia, dan NVIDIA, serta akan mendukung pengembangan Sahabat-AI, large language model (LLM) open-source Indonesia berparameter 70 miliar yang mendukung bahasa daerah seperti Jawa, Sunda, Bali, dan Batak.
Sahabat-AI diluncurkan sebagai simbol peralihan Indonesia dari konsumen menjadi produsen teknologi. Model ini didukung infrastruktur sovereign cloud berbasis GPU Merdeka dari Lintasarta (bagian dari Indosat Group).
Penerapan Nyata di Lapangan
Pendidikan
AI digunakan sebagai tutor adaptif dan asisten guru untuk membuat soal, memberikan umpan balik, serta mendeteksi risiko putus sekolah. Universitas Terbuka sudah menerapkan tutor AI untuk 100.000 mahasiswa di ratusan kelas.
Kesehatan
Di rumah sakit, AI membantu analisis citra medis (X-ray, CT-scan, MRI), prediksi risiko penyakit, dan telemedicine. Platform seperti Halodoc memanfaatkan natural language processing bahasa Indonesia untuk meningkatkan kualitas konsultasi. Inisiatif seperti ZeroStunting menggunakan chatbot WhatsApp berbasis AI untuk memantau gizi anak.
UMKM
Chatbot untuk layanan pelanggan, rekomendasi produk berbasis data, dan analisis tren pemasaran sudah membantu banyak usaha kecil. Contoh nyata termasuk warung kopi yang menghemat waktu staf hingga beberapa jam per hari dan usaha katering yang meningkatkan penjualan berkat AI recommendation di platform e-commerce.
Tantangan yang Harus Dihadapi
1. Kesenjangan talenta. Kebutuhan mencapai 2,7 juta talenta AI, sementara program seperti AI Talent Factory dan Digital Talent Scholarship terus digencarkan.
2. Infrastruktur dan energi. Server AI sangat rakus daya. Satu rak server generasi terbaru bisa mencapai 135 kW, bahkan diprediksi hingga ratusan kilowatt. Pembangunan data center harus diiringi pasokan energi yang andal dan berkelanjutan.
3. Regulasi. Indonesia belum memiliki undang-undang khusus AI yang komprehensif. Pendekatan berbasis risiko (seperti EU AI Act) sedang didorong oleh akademisi, dengan etika dan akuntabilitas sebagai pilar utama.
4. Kesenjangan antara individu dan organisasi. Adopsi tinggi di tingkat pengguna belum sepenuhnya diikuti transformasi di perusahaan dan lembaga pemerintah.
Peluang Besar ke Depan
Jika dimanfaatkan secara optimal, AI diproyeksikan mampu menambah kontribusi signifikan terhadap PDB Indonesia. Pemerintah menargetkan Indonesia menjadi pusat aplikasi AI di ASEAN. Kolaborasi pemerintah, swasta (Google, OpenAI, NVIDIA, Indosat, GoTo), perguruan tinggi, dan startup lokal menjadi kunci.
Program pembinaan talenta, insentif investasi, percepatan 5G, dan pembangunan infrastruktur komputasi hingga 1.000 MW hingga 2032 adalah langkah strategis yang sedang berjalan.
Kecerdasan buatan bukan sekadar tren teknologi. Bagi Indonesia, AI adalah peluang untuk memperkuat kedaulatan digital, meningkatkan produktivitas, dan mewujudkan pemerataan kesejahteraan. Dengan peta jalan yang jelas, infrastruktur yang dibangun, serta komitmen mengembangkan talenta lokal, Indonesia berpotensi tidak hanya mengikuti, tetapi memimpin transformasi AI di kawasan Asia Tenggara.
Keberhasilan akan ditentukan oleh seberapa cepat kita mengubah adopsi menjadi keunggulan kompetitif, sambil memastikan AI dikembangkan secara etis, inklusif, dan berpihak pada kepentingan bangsa.
Penulis : Aldi Wildan Mukhollad, Agus Tri Linardy, Dipa Fiqri Bustomi
Mahasiswa Universita Pamulang
