DEPOKPOS – Kesehatan mental saat ini menjadi salah satu topik yang sering diperbincangkan oleh masyarakat. Namun, bayang-bayang stigma terkait kesehatan mental terutama pada perempuan sampai saat ini masih menyelimuti masyarakat. Stigma yang dialami oleh perempuan dengan gangguan kesehatan mental sebenarnya berasal dari tatanan masyarakat yang tidak adil secara gender.
Perempuan sejak dulu sudah banyak dituntut oleh aturan sosial yang ada untuk selalu tampil tenang, lembut, sabar, dan sempurna dalam segala hal yang ada. Hal ini dapat dilihat dari bagaimana masyarakat tampak biasa saja dan mewajarkan jika seorang lelaki menunjukkan rasa stres atau marah karena adanya beban kerja yang berat.
Sebaliknya, hal yang berbeda terjadi ketika perempuan mengungkapkan rasa sedih, cemas, atau lelah secara mental. Melihat hal ini masyarakat cenderung dengan cepat melabeli mereka sebagai seseorang yang terlalu emosional atau seseorang yang dramatis. Adanya stigma ini sering kali dipakai sebagai alat untuk meremehkan atau bahkan mengontrol posisi perempuan dalam kehidupan sehari harinya.
Dari sudut pandang kritik gender, fenomena stigma ini memperlihatkan adanya struktur patriarki yang bekerja dalam merespon kesehatan mental perempuan. Masyarakat cenderung menganggap masalah kesehatan mental yang dialami oleh perempuan sebagai tanda bahwa perempuan tersebut kurang iman atau orang yang lemah. Hal ini menunjukkan seakan-akan tubuh dan pikiran perempuan dituntut untuk selalu sempurna dan tahan banting demi memenuhi ekspektasi peran gender tradisional.
Adanya anggapan tersebut membuat perempuan dengan gangguan kesehatan mental semakin terisolasi. Hal yang dilakukan oleh masyarakat ini secara tidak langsung sedang berupaya menutup pintu pertolongan bagi mereka yang menderita gangguan kesehatan mental. Ketika masyarakat menutup pertolongan hal ini menunjukkan adanya bentuk penindasan berbasis gender yang memaksa perempuan untuk menanggung beban ganda. Pada akhirnya, kondisi psikologis ini dianggap sebagai ”kegagalan” dalam memenuhi standar ideal kewanitaan tersebut.
Dampak yang paling fatal dari adanya stigma terhadap perempuan ini adalah munculnya penyangkalan (denial). Pada umumnya hal pertama yang seharusnya dilakukan adalah mencari bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Namun, alih-alih melakukan hal tersebut mereka justru lebih memilih menderita dalam diam. Hal ini dilakukan karena takut akan dihakimi atau dikucilkan oleh keluarga atau teman terdekat. Akibatnya, mereka terpaksa harus memakai topeng dan menunjukkan bahwa segalanya baik-baik saja di depan umum.
Melawan stigma memang tidaklah mudah, terutama pada perempuan yang hidupnya dibayang-bayangi oleh budaya patriarki. Tetapi ada beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk melawan stigma tersebut contohnya seperti melalui edukasi dan empati. Adanya strategi edukasi ini dapat meluruskan kesalahpahaman yang ada sehingga nantinya akan meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan mental pada perempuan. Selain edukasi, empati juga dapat menjadi salah satu cara untuk melawan stigma kesehatan mental yang ada pada perempuan.
Jika disekitar kita ada seorang perempuan yang menjadi korban adanya stigma ini, kita dapat memberikan mereka ruang yang aman dan nyaman untuk bercerita tentang dirinya tanpa perlu merasa dihakimi. Sering kali mereka hanya butuh untuk didengarkan mengenai apa yang selama ini mereka rasakan. Dukungan nyata yang diberikan saat masa-masa sulit ini dapat menjadi senjata yang ampuh untuk mencegah mereka jatuh ke dalam keterpurukan dan keputusasaan.
Pada akhirnya, perjuangan menuju kesembuhan mental memang adalah perjalanan personal yang harus ditempuh. Setiap langkah dan keputusan untuk terus bangkit dari keterpurukan tetap berada pada tangan mereka sendiri. Perjalanan ini memang sering kali tidak berjalan sesuai keinginan. Ada kalanya akan mengalami kemajuan pesat atau bahkan kemunduran.
Namun, satu hal yang patut diketahui oleh perempuan dengan gangguan kesehatan mental adalah bahwa dalam menghadapi perjalanan yang terjal tersebut, mereka tidak harus melewati semuanya dalam kesendirian. Selalu ada tangan-tangan yang siap untuk menuntun mereka untuk melalui perjalanan tersebut. Oleh karena itu, untuk meraih kesembuhan mental bukanlah hal yang mudah. Proses internal ini menuntut mereka untuk berkomitmen, berani, serta menerima keadaan diri yang terjadi pada diri mereka sendiri.

