Scroll untuk baca artikel
Opini

Merdeka Cuma Sehari? Yuk, Intip Ironi di Balik Perayaan 17-an Kita!

×

Merdeka Cuma Sehari? Yuk, Intip Ironi di Balik Perayaan 17-an Kita!

Sebarkan artikel ini
Merdeka Cuma Sehari? Yuk, Intip Ironi di Balik Perayaan 17-an Kita!

Oleh: Ihsaniah Fauzi Mardhatillah, Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Hai Teman-teman! Sadar enggak sih, setiap masuk bulan Agustus, suasana langsung berubah jadi seru banget? Umbul-umbul warna-warni mulai muncul, bendera Merah Putih berkibar di mana-mana, dan gang-gang sempit mulai ramai dengan persiapan lomba makan kerupuk atau panjat pinang. Pidato kemerdekaan pun menggema, manis banget kedengarannya, bikin kita bangga jadi anak Indonesia.

Tapi, pernah enggak terpikir kalau kemanisan itu ada “tanggal kedaluwarsanya”? Begitu panggung dibongkar dan bendera diturunkan, kita semua balik lagi ke kenyataan pahit, harga beras naik, cari kerja susah, dan gaji segitu-gitu aja. Di sinilah muncul sebuah ironi besar.

Tanah Air buat Si Kaya, Nasionalisme buat Si Miskin?

Ada sebuah kutipan menarik yang viral: “Tanah air itu untuk orang kaya, dan nasionalisme itu untuk orang miskin”. Kedengarannya pedas ya? Tapi kalau kita lihat kenyataannya, sering kali terasa benar. Rakyat kecil diminta terus cinta tanah air, taat bayar pajak, dan harus punya jiwa patriotisme tinggi, tapi di sisi lain, kekayaan alam negeri ini lebih banyak dinikmati segelintir orang atau penguasa. Kita diminta “merdeka,” tapi untuk makan tiga kali sehari atau bayar SPP anak saja masih sering ngos-ngosan

Pendidikan dan Kesehatan: Masih Jadi Barang “Mewah”

Sudah delapan dekade kita merdeka, tapi urusan dasar seperti sekolah dan berobat ternyata masih jauh dari harapan. Di daerah terpencil, masih ada anak-anak yang sekolah di bangunan berdinding papan dan beralaskan tanah. Belum lagi soal biaya pendidikan tinggi yang makin mahal, sampai muncul sindiran kalau “sekolah itu cuma buat orang kaya”.

Di sisi kesehatan juga sama saja. Sering banget kita dengar cerita pasien BPJS yang layanannya dipersulit atau didiskriminasi. Muncul lagi deh satire pahit: “orang miskin dilarang sakit”. Padahal, sebagai bangsa yang merdeka, seharusnya kesehatan dan pendidikan itu hak dasar yang bisa dinikmati siapa saja tanpa melihat isi dompet.

Bukan Malas, tapi “Kemiskinan Struktural

Sering kali orang miskin dianggap malas, padahal banyak yang sudah kerja 12 jam sehari atau punya dua pekerjaan sekaligus, tapi tetap saja tidak cukup. Masalahnya bukan di kemauan, tapi di sistem. Ini yang disebut kemiskinan struktural, yakni ketika harga kebutuhan pokok sulit dikendalikan dan lapangan kerja formal makin sempit. Jadi, rakyat seolah terjebak dalam siklus yang sama setiap tahunnya: merayakan kemerdekaan sambil tetap bingung cari uang buat besok.

Akar Masalahnya Sekularisme

Kalau kita gali lebih dalam, kenapa sih masalah ini nggak selesai-selesai meski pemimpin sudah berganti berkali-kali? Sumber-sumber ini menyebutkan, akarnya adalah sekularisme yaitu memisahkan aturan agama dari urusan publik. Karena aturannya buatan manusia yang bisa berubah-ubah dan seringkali parsial, masalahnya jadi cuma “tambal sulam” dan nggak pernah menyentuh akar masalah.

Menuju Kemerdekaan Hakiki

Lalu, gimana solusinya? Kemerdekaan sejati itu bukan cuma bebas dari penjajahan fisik, tapi juga bebas dari “penjajahan pikiran”. Merdeka yang sebenarnya adalah ketika kita tidak lagi diperbudak oleh materi atau sistem yang menindas, melainkan hanya menghamba kepada Sang Pencipta.

Dalam pandangan ini, kemerdekaan hakiki berarti pengelolaan SDA untuk rakyat. Hasil tambang dan kekayaan alam dikelola negara sepenuhnya untuk membiayai sekolah dan rumah sakit gratis buat semua. Ditambah pula aturan yang adil yakni menggunakan syariat Islam secara menyeluruh yang menjamin keadilan bagi setiap warga negara tanpa pandang bulu.

Jadi, tahun depan saat kita pasang bendera lagi, yuk kita jadikan itu pengingat, kemerdekaan bukan cuma soal seremoni satu hari, tapi soal bagaimana setiap ibu tidak perlu pusing pilih antara beli beras atau obat, dan setiap anak bisa bermimpi setinggi langit tanpa terhalang biaya.[]