DEPOKPOS – Bel istirahat selalu menjadi momen yang paling ditunggu siswa sekolah dasar. Begitu bel berbunyi, anak-anak berhamburan keluar kelas. Dahulu, sebagian membuka bekal dari rumah, sebagian lagi berlari ke kantin untuk membeli jajanan. Kini, di banyak sekolah, suasana itu perlahan berubah. Anak-anak berbaris menerima makanan dari Program Makan Bergizi Gratis (MBG), lalu duduk bersama menikmati menu yang sama.
Pemandangan tersebut mungkin tampak biasa. Namun, jika diamati lebih saksama, perubahan yang terjadi bukan hanya soal makanan. Di balik aktivitas makan bersama, sekolah sedang menghadirkan pengalaman baru yang mengajarkan anak-anak tentang disiplin, kebersamaan, dan tanggung jawab.
Selama ini, pembahasan mengenai MBG lebih banyak berfokus pada anggaran, distribusi, kualitas makanan, maupun berbagai tantangan dalam pelaksanaannya. Ketika muncul dugaan keracunan makanan di beberapa daerah, perhatian publik pun tertuju pada keamanan pangan dan sistem pengawasan. Pemerintah merespons dengan melakukan evaluasi agar program tetap berjalan sesuai tujuan, yakni meningkatkan kualitas gizi peserta didik.
Sorotan tersebut tentu penting. Program yang menjangkau jutaan siswa memang harus memiliki standar keamanan dan pengawasan yang baik. Namun, di tengah berbagai perdebatan itu, ada satu sisi yang jarang mendapat perhatian, yaitu perubahan sosial yang muncul di lingkungan sekolah.
Sekolah bukan hanya tempat anak belajar membaca, menulis, atau berhitung. Sekolah juga menjadi ruang tempat mereka belajar hidup bersama. Di sanalah anak mengenal aturan, memahami hak dan kewajiban, belajar menghargai orang lain, serta membangun kebiasaan yang kelak membentuk karakternya.
MBG menghadirkan ruang belajar itu melalui kegiatan yang sangat sederhana: makan bersama.
Saat mengantre mengambil makanan, anak belajar menunggu giliran. Ketika duduk bersama teman-temannya, mereka belajar berbagi ruang dan menghargai perbedaan. Ada yang makan lebih cepat, ada yang lebih lambat. Ada yang menyukai seluruh menu, ada pula yang perlu belajar menerima makanan yang berbeda dari kebiasaannya di rumah. Setelah selesai makan, mereka membersihkan tempat makan dan menjaga kebersihan lingkungan sekolah.
Tanpa disadari, kegiatan-kegiatan kecil tersebut merupakan proses belajar sosial yang berlangsung setiap hari. Nilai-nilai seperti disiplin, tanggung jawab, gotong royong, kepedulian, dan rasa hormat terhadap orang lain tumbuh bukan karena dihafalkan, melainkan karena dipraktikkan secara langsung.
Dalam dunia pendidikan, proses seperti ini dikenal sebagai hidden curriculum atau kurikulum tersembunyi. Artinya, tidak semua pembelajaran berasal dari buku pelajaran atau penjelasan guru. Sebagian besar justru lahir dari budaya sekolah dan pengalaman yang dialami siswa setiap hari.
Dari perspektif Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), pengalaman tersebut merupakan bagian dari proses sosialisasi. Anak belajar menjadi anggota masyarakat melalui interaksi nyata dengan lingkungan sekitarnya. Mereka belajar bahwa hidup bersama membutuhkan aturan, kerja sama, dan rasa saling menghargai. Nilai-nilai tersebut menjadi bekal penting ketika mereka tumbuh dan berinteraksi di tengah masyarakat.
Meski demikian, manfaat tersebut tidak akan muncul secara otomatis. Keberhasilan MBG tetap bergantung pada kualitas pelaksanaannya. Dugaan keracunan makanan yang sempat terjadi di beberapa daerah menjadi pengingat bahwa keamanan pangan tidak boleh diabaikan. Demikian pula pemerataan distribusi dan ketepatan sasaran penerima manfaat perlu terus dievaluasi agar tujuan program benar-benar tercapai.
Evaluasi tidak seharusnya dipahami sebagai tanda bahwa program ini gagal. Sebaliknya, evaluasi merupakan bagian dari proses memperbaiki kebijakan publik agar manfaatnya semakin besar. Program sebesar MBG tentu membutuhkan penyempurnaan yang dilakukan secara berkelanjutan, baik oleh pemerintah, sekolah, penyedia makanan, maupun masyarakat.
Di tingkat sekolah, guru memiliki peran yang tidak kalah penting. Kegiatan makan bersama dapat menjadi kesempatan untuk menanamkan nilai-nilai yang mungkin sulit diajarkan hanya melalui ceramah di kelas. Mengingatkan siswa agar mengantre dengan tertib, menghabiskan makanan secukupnya, membantu teman yang membutuhkan, dan menjaga kebersihan merupakan bentuk pendidikan karakter yang berlangsung dalam situasi nyata.
Karakter tidak tumbuh dalam satu hari. Ia dibentuk melalui kebiasaan-kebiasaan kecil yang dilakukan secara berulang. Karena itu, kegiatan makan bersama memiliki makna yang lebih luas daripada sekadar memenuhi kebutuhan gizi. Di dalamnya terdapat proses belajar yang mengajarkan anak menghargai orang lain, bertanggung jawab atas tindakannya, serta memahami pentingnya hidup berdampingan.
Pada akhirnya, keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis tidak hanya dapat diukur dari jumlah porsi makanan yang dibagikan atau besarnya anggaran yang digunakan. Keberhasilannya juga dapat dilihat dari perubahan-perubahan kecil yang terjadi di lingkungan sekolah. Jika anak-anak pulang dengan kebiasaan baru untuk lebih tertib, lebih peduli, dan lebih menghargai sesama, maka program ini telah memberikan manfaat yang melampaui tujuan awalnya.
Di balik sepiring makanan, tersimpan pelajaran yang mungkin tidak pernah tertulis di buku pelajaran. Anak-anak memang datang ke sekolah untuk belajar ilmu pengetahuan, tetapi melalui kebiasaan sederhana seperti makan bersama, mereka juga sedang belajar menjadi warga masyarakat yang mampu hidup dengan disiplin, saling menghormati, dan peduli terhadap lingkungan sekitarnya. Mungkin, di situlah makna lain dari Program Makan Bergizi Gratis yang belum banyak disadari.
Ditulis oleh Istiqhara Taqrira, mahasiswa Proaram Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), Universitas Negeri Makassar