DEPOK – Islam tidak mengenal konsep Faslu diin anil hayah atau pemisahan agama dengan kehidupan. Hal tersebut disampaikan Aktivis Dakwah, Ustaz Dede Wahyudin di hadapan 32 jemaah ikhwan Saung DPR, Perumahan Panorama Putra Mandiri, Cipayung, Depok, Sabtu (24/10/2026).
Agama dan kehidupan itu seharusnya sejalan. Memisahkan urusan agama tersendiri dan kehidupan sendiri, menurut Ustaz Dede itulah yang dinamakan sekulerisme. “Justru islam hadir untuk mengatur seluruh aktivitas kehidupan. Baik dalam hal mendidik anak, pergaulan, bekerja/muamalah, mengatur urusan keluarga atau rumah tangga, bermasyarakat hingga urusan hukum dan pemerintahan.”
Di acara dakwah santai ala podcast edisi perdana yang mengusung tema “Penyeimbang Dunia dan Akhirat” itu Dede mengutip surat Al-Mulk ayat 2, yang berbunyi “Allah yang menciptakan mati dan hidup, untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.”
Oleh karenanya, jelas Dede, aktivitas manusia di dunia khususnya muslim semestinya berorientasi pada kehidupan setelah kematian, yakni akhirat. Jika manusia paham darimana ia berasal, untuk apa hidup, dan akan ada kehidupan setelah kematian, tentu ia akan berusaha menyelaraskan seluruh aktivitas kehidupannya hanya dalam rangka ketaatan pada Allah.
”Baik amalnya dalam ayat tersebut bukan berarti banyak secara jumlah atau bilangan ibadahnya, melainkan kekhusyukan dan keikhlasan ukurannya. Ini termasuk amalan hati, sebab hanya Allah yang bisa menakar dan menilainya.”
Orang yang hanya mengejar akhirat dan fokus pada ibadah pribadi saja, jelas Dede, tetap akan dimintai pertanggungjawaban. Mengapa abai kepada keluarga? mengapa melupakan lingkungannya? sebab ia pun bagian dari masyarakat. Sebaliknya, mereka yang hanya fokus bekerja atau mengejar dunia tapi melupakan ibadah dan kewajibannya sebagai muslim, juga akan merugi.
Lebih lanjut Dede mengatakan, keseimbangan dunia dan akhirat dapat dilakukan dengan dua cara. Pertama, meneladan nabi dalam seluruh aspek kehidupan. Suri tauladan terbaik ada dalam diri Rasulullah SAW, di mana beliau adalah seorang kepala keluarga, suami, pemimpin umat, sekaligus panglima perang. Semua peran dapat dijalankan dengan baik dan dijalani penuh ketaatan pada Allah. Nabi tidak hanya mementingkan ibadah maghdoh, apalagi berorientasi mengejar materi, kedudukan ataupun popularitas, melainkan seluruh gerak-geriknya hanya mengejar rida Allah SWT.
Kedua, menuntut ilmu (thalabul ilmi). Ini kunci, sebab mukmin yang meninggalkan taman-taman syurga dan menjauhi majelis ilmu rentan terkena penyakit futur (turun semangat ibadahnya) dan hubbud duniya atau cinta dunia.
”Ilmu agama akan menuntun seseorang beraktivitas sesuai aturan Allah. Sehingga ia mampu mengerjakan ibadah maghdoh seperti shalat, tilawah, puasa, zakat, haji dengan baik sesuai rukun-rukunnya.”
Selain itu, jelas Dede, dengan ilmu mukmin juga akan paham bahwa islam pun mengatur berbagai urusan yang lebih luas semisal jual beli, pergaulan islam, ekonomi, hukum hingga pemerintahan. Karenanya, apa-apa yang menyangkut aktivitas di luar ibadah maghdoh pun akan berusaha dijalankan sesuai tuntunan nabi sekuat yang ia bisa.
”Jadi, mengikuti petunjuk nabi, berarti juga memilih jalan keselamatan dan sudah pasti tidak menyelisihi aturan Allah. Selain itu, menuntut ilmu terlebih tsaqofah islam akan menuntun mukmin lebih selektif mengerjakan aktivitas berpahala yang bertujuan meraih rida Allah. Sehingga seimbanglah kehidupan dunia dan akhiratnya.” pungkasnya [Mega Marlina]
Podcast Dakwah Bapak-Bapak PPM ; Penyeimbang Dunia dan Akhirat
Dakwah santai ala podcast edisi perdana yang mengusung tema "Penyeimbang Dunia dan Akhirat"
