Scroll untuk baca artikel
Opini

Krisis Murid Baru di SD Negeri: Di Balik Kecemasan Orang Tua dan Darurat Sistem Pendidikan

×

Krisis Murid Baru di SD Negeri: Di Balik Kecemasan Orang Tua dan Darurat Sistem Pendidikan

Sebarkan artikel ini
Krisis Murid Baru di SD Negeri: Di Balik Kecemasan Orang Tua dan Darurat Sistem Pendidikan

Oleh: Saffanah Ilmi Mursyidah, Praktisi Pendidikan

Tahun ajaran baru kembali bergulir, namun pemandangan miris justru mewarnai dunia pendidikan kita. Berbagai pemberitaan menyoroti fenomena krisis murid baru di sejumlah Sekolah Dasar Negeri (SDN) di berbagai daerah. Jangankan memenuhi kuota rombongan belajar, beberapa sekolah negeri bahkan melaporkan tidak mendapatkan satu pun murid baru. Seperti halnya, SDN 1 Gedung Meneng, Bandar Lampung, yang dilaporkan hanya menerima dua orang siswa baru tahun ini. (sumber: metrotvnews.com)

Pemerintah melalui instansi terkait menyodorkan solusi regrouping atau penggabungan beberapa sekolah. Sayangnya, ini bukan jalan keluar yang paripurna karena justru menimbulkan masalah baru, yakni jarak tempuh siswa ke sekolah yang semakin jauh. Menghadapi fenomena ini, kita perlu membedah persoalan secara lebih mendalam: mengapa sekolah negeri yang notabene gratis mulai ditinggalkan?

Secara permukaan, kita bisa melihat adanya perubahan struktur demografi. Penurunan angka kelahiran dan fenomena aging population (penduduk menua) di berbagai daerah menjadi salah satu pemicu. Kegagalan kebijakan ekonomi yang berujung pada tingginya biaya hidup nyatanya membuat kesejahteraan makin sulit diraih, sehingga banyak pasangan muda yang berpikir ulang untuk memiliki anak. Ditambah lagi, gelombang urbanisasi akibat ketimpangan pendapatan desa dan kota membuat sebaran anak usia sekolah di daerah tertentu makin menyusut.

Namun, jika dianalisis lebih tajam, ada faktor sosiologis yang jauh lebih dominan yaitu terjadinya pergeseran orientasi pendidikan di tengah masyarakat. Orang tua saat ini cenderung memilih menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah swasta, khususnya sekolah yang mengedepankan pendidikan agama, pembentukan akhlak, dan rutinitas ibadah.

Migrasi minat ini bukanlah tanpa alasan. Ini adalah bentuk mekanisme pertahanan (defense mechanism) para orang tua yang dilanda kecemasan luar biasa terhadap maraknya kerusakan moral dan kenakalan remaja. Maraknya kasus perundungan (bullying), kekerasan, hingga tindak kriminalitas di kalangan pelajar membuat orang tua merasa sekolah umum tak lagi menjadi ruang yang aman.

Fenomena ini sejatinya menampar wajah pendidikan nasional kita. Kegelisahan orang tua menunjukkan bahwa gonta-ganti kurikulum yang dilakukan pemerintah berulang kali terbukti gagal membendung arus kerusakan generasi. Kurikulum boleh berubah, tetapi selama sistem pendidikan masih berpijak pada paradigma sekuler-liberal, masalah utamanya tidak akan pernah terselesaikan.

Sistem sekuler-liberal memisahkan nilai-nilai agama dari kehidupan nyata. Pendidikan didesain hanya untuk mengejar pencapaian akademik dan materi, sementara fondasi moral dan spiritual direduksi menjadi sekadar pelajaran formalitas beberapa jam dalam sepekan. Output dari sistem ini mudah ditebak yaitu melahirkan generasi yang mungkin cakap secara teknis, namun kehilangan kompas moral.

Untuk memutus mata rantai kerusakan ini, kita perlu melihat bagaimana paradigma Islam membangun arsitektur peradaban melalui pendidikan. Dalam Islam, pendidikan adalah kebutuhan dasar manusia sekaligus pilar utama tegaknya peradaban. Oleh karena itu, negara memikul tanggung jawab penuh untuk menjamin ketersediaan dan pemerataan pendidikan berkualitas tinggi, yang dapat diakses secara gratis oleh seluruh rakyat tanpa terkecuali.

Dalam sejarah penerapan sistem pendidikan Islam yang pernah dipraktikkan dalam institusi Khilafah, kurikulum dibangun di atas fondasi akidah Islam. Tujuannya sangat jelas yaitu mewujudkan output generasi yang memiliki kepribadian Islam (Syakhshiyah Islamiyah) sekaligus mumpuni dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Untuk mewujudkannya, negara hadir sepenuhnya dalam menjamin kualitas sumber daya manusia (guru), infrastruktur, serta sarana prasarana tanpa membebani kantong rakyat.

Di titik inilah, kesadaran masyarakat harus ditingkatkan. Menyelamatkan anak dengan memasukkannya ke sekolah swasta berbiaya mahal mungkin bisa menjadi solusi jangka pendek bagi individu yang mampu. Namun, bagaimana dengan jutaan anak lain yang tak punya pilihan?

Kesadaran para orang tua harus dinaikkan dari level proteksi individualistik menjadi sebuah kesadaran politik. Masyarakat harus menyadari bahwa kerusakan moral generasi hari ini adalah kerusakan sistemik yang lahir dari rahim penerapan sistem sekuler-liberal.

Maka, ikhtiar untuk menyelamatkan generasi tidak bisa berhenti pada ranah domestik keluarga. Diperlukan upaya dakwah di segala aspek kehidupan untuk membangun kesadaran masyarakat luas. Sebuah gerakan yang mengedukasi umat agar tergerak melakukan perubahan hakiki yaitu mencabut sistem sekuler-liberal yang merusak, dan menggantinya dengan sistem Islam yang memanusiakan dan memuliakan generasi. Sebab, hanya dengan sistem yang sahih, masa depan anak-anak umat benar-benar terjamin.

 

Tentang Penulis:  Saffanah Ilmi Mursyidah, praktisi pendidikan dan pemerhati isu-isu umat dan sosial politik Islam. Aktif menulis di berbagai media dakwah.