Scroll untuk baca artikel
Opini

Izinkan Anak Melukat, Orang Tua Keliru Memahami Toleransi

×

Izinkan Anak Melukat, Orang Tua Keliru Memahami Toleransi

Sebarkan artikel ini
Izinkan Anak Melukat, Orang Tua Keliru Memahami Toleransi

Oleh: Siti Aisyah, S.Sos., Koordinator Kepenulisan Komunitas Muslimah Menulis (KMM) Depok

Anak adalah amanah yang harus dijaga, bukan hanya kebutuhan duniawinya, tetapi juga akidahnya. Namun, atas nama mengenalkan budaya dan menghargai keberagaman, seorang anak justru diperbolehkan mengikuti ritual agama lain, seperti melukat (ritual penyucian diri dalam tradisi Hindu Bali yang merupakan bagian dari praktik keagamaan dan spiritual). Hal ini menjadi sorotan ketika seorang artis Ibu Kota membolehkan putri sulungnya mengikuti ritual melukat. Ia pun mengatakan, “Iman itu soal hati.”

Sekilas, alasan tersebut terdengar sebagai bentuk penghargaan terhadap keberagaman budaya. Namun, bagi seorang Muslim, persoalannya tidak sesederhana mengenal budaya. Ketika sebuah kegiatan merupakan bagian dari ritual keagamaan, seorang Muslim perlu memahami batas yang telah ditetapkan syariat. Sebab, keimanan bukan hanya perkara yang tersimpan di dalam hati, melainkan harus diwujudkan dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Anak adalah Amanah

Anak adalah amanah Allah SWT. Orang tua tidak hanya wajib memenuhi kebutuhan fisik anak, seperti makanan, pakaian, pendidikan, dan kesehatan. Lebih dari itu, orang tua memiliki tanggung jawab dalam menjaga akidah serta membentuk kepribadian anak agar tumbuh sebagai seorang Muslim yang taat.

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an surah at-Tahrim ayat 6, “Wahai orang-orang yang beriman! Peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka….”

Ayat tersebut menunjukkan besarnya tanggung jawab orang tua terhadap keluarganya. Orang tua semestinya menjadi pihak pertama yang mengenalkan kepada anak siapa Rabb-nya, apa tujuan hidupnya, bagaimana cara beribadah, serta mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan menurut syariat.

Karena itu, ketika seorang anak justru diarahkan atau diizinkan mengikuti ritual agama lain, persoalannya tidak lagi sekadar tentang kegiatan budaya. Ada tanggung jawab pendidikan akidah yang perlu diperhatikan. Anak perlu diajarkan, toleransi bukan berarti mencampuradukkan ibadah dan bahwa menghormati pemeluk agama lain tidak berarti mengikuti ritual keagamaannya.

Keliru Memaknai Toleransi

Islam mengajarkan umatnya untuk hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain secara damai. Islam juga melarang berbuat zalim dan memerintahkan berlaku adil kepada siapa pun. Namun, toleransi tidak berarti seorang Muslim harus mengikuti atau melakukan ritual agama lain. Jangan sampai orang tua keliru memaknai toleransi.

Allah SWT telah memberikan batas yang jelas dalam Al-Qur’an surah al-Kafirun ayat 6, “Untukmu agamamu dan untukku agamaku.”

Ayat tersebut menunjukkan adanya batas tegas dalam persoalan agama. Seorang Muslim dapat menghormati orang lain tanpa harus mengorbankan keyakinannya. Seorang Muslim juga dapat mempelajari budaya masyarakat lain tanpa harus mengikuti ritual keagamaannya.

Mengenal budaya berbeda dengan mengikuti ibadah agama lain. Menghormati pemeluk agama lain berbeda dengan membenarkan keyakinannya. Hidup berdampingan secara damai juga berbeda dengan mencampuradukkan ajaran agama.

Maka, ketika melukat merupakan bagian dari ritual keagamaan Hindu, seorang Muslim tidak semestinya menjadikannya aktivitas yang diikuti atas nama toleransi atau pengenalan budaya. Persoalannya bukan sekadar aktivitas lahiriah, tetapi keterlibatan dalam ritual keagamaan yang tidak bersumber dari ajaran Islam.

Iman Bukan Sekadar Urusan Hati

Fenomena tersebut tidak lepas dari sekularisme, paham yang memisahkan agama dari kehidupan. Agama diposisikan sebagai urusan hati, sementara tindakan diserahkan kepada kebebasan manusia selama dianggap baik.

Dari sinilah muncul anggapan, “iman itu soal hati”, sehingga ukuran benar dan salah bergeser dari wahyu kepada perasaan. Selama suatu tindakan dianggap baik dan tidak mengganggu ketenangan hati, tindakan tersebut pun mudah dinilai dapat dibenarkan.

Padahal, Islam tidak memisahkan akidah, syariat, dan akhlak. Ketiganya bersumber dari wahyu Allah SWT dan menjadi pedoman dalam kehidupan. Karena itu, seorang Muslim wajib menjadikan hukum Allah sebagai standar dalam menentukan sikap dan perbuatan, bukan sekadar mengikuti perasaan atau pertimbangan budaya.

Bekali Anak dengan Akidah

Seorang Muslim semestinya memiliki pemahaman yang jelas tentang akidah, syariat, dan akhlak. Ia harus memahami tidak semua aktivitas yang disebut sebagai budaya boleh diikuti begitu saja. Ketika di dalamnya terdapat ritual keagamaan, seorang Muslim perlu mengetahui status hukumnya sebelum ikut serta.

Terlebih lagi bagi orang tua. Mereka bukan sekadar bertugas menjadikan anak pintar dan mampu bersaing dalam kehidupan. Orang tua juga bertanggung jawab membentuk anak agar memiliki kepribadian Islam (pola pikir dan pola sikapnya Islam).

Anak harus dibekali pemahaman yang benar sehingga mampu membedakan mana yang sesuai dengan Islam dan mana yang bertentangan dengan akidahnya. Dengan bekal tersebut, anak tidak mudah menganggap semua hal yang dikemas sebagai budaya dan keberagaman otomatis boleh dilakukan.

Islam Mengatur Seluruh Aspek Kehidupan

Persoalan melukat sebenarnya tidak berdiri sendiri. Ia merupakan bagian dari persoalan yang lebih besar, yaitu bagaimana seorang Muslim memahami dan menjalankan agamanya dalam kehidupan.

Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah dalam persoalan ibadah ritual. Islam juga mengatur hubungan manusia dengan sesama, keluarga, masyarakat, pendidikan, ekonomi, hingga kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

Dengan penerapan Islam secara kaffah, umat akan mendapatkan pemahaman yang utuh tentang bagaimana menjalani kehidupan sesuai dengan syariat. Dalam konteks keluarga, orang tua akan memahami, anak adalah amanah yang harus dijaga akidahnya. Dalam pendidikan, anak tidak hanya diarahkan menjadi manusia yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki kepribadian Islam. Sementara dalam kehidupan bermasyarakat, umat memahami bagaimana bersikap toleran tanpa mengorbankan akidah.

Menjaga Generasi, Menjaga Akidah

Dengan demikian, toleransi tidak seharusnya dimaknai secara keliru. Seorang Muslim dapat menghormati agama lain, hidup berdampingan secara damai, dan berbuat baik kepada sesama, tetapi tetap teguh menjaga akidah serta tidak mengikuti ritual keagamaan agama lain.

Di sinilah orang tua memiliki posisi yang sangat strategis dalam menjaga generasi. Jangan sampai atas nama mengenalkan budaya atau mengajarkan toleransi, anak justru tidak mendapatkan pemahaman yang benar tentang batas-batas akidahnya.

Anak bukan sekadar generasi yang harus diwarisi harta dan pendidikan. Ia amanah yang kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Karena itu, sudah semestinya orang tua membekali anak dengan pemahaman Islam yang benar agar di tengah derasnya arus keberagaman dan perubahan zaman, mereka tetap kokoh sebagai seorang Muslim dan tidak mudah terbawa pada praktik yang bertentangan dengan syariat. []