Scroll untuk baca artikel
Tekno

Rekan Kerja Anda Berikutnya Mungkin Bukan Manusia

×

Rekan Kerja Anda Berikutnya Mungkin Bukan Manusia

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Bayangkan sebuah dunia dimana jutaan pekerjaan digantikan oleh sistem otomatis. Perusahaan berjalan dengan tim yang jauh lebih kecil, berbagai tugas yang sebelumnya dikerjakan manusia kini diselesaikan oleh mesin, dan banyak keterampilan yang selama ini dianggap berharga perlahan kehilangan nilainya. Terdengar tidak masuk akal, tapi sebagian orang percaya hal itu tidak bisa dihindari jika manusia gagal beradaptasi dengan perkembangan AI yang terus berevolusi dan siap menggantikan manusia.

AI sekarang semakin canggih, mereka mampu membuat teks, meniru suara manusia, bahkan membuat video realistis yang akan sulit kita bedakan. Seiring semakin mudahnya akses terhadap teknologi ini, maka muncullah overthinking publik: apa yang akan terjadi ketika manusia tidak lagi mampu membedakan perilaku manusia dengan perilaku yang dihasilkan oleh mesin?

Salah satu contohnya dapat kita lihat pada bidang cyber security tentang bagaimana AI dapat menjadi peluang sekaligus risiko dalam waktu yang bersamaan. Tim keamanan modern terlalu mengandalkan AI untuk analisis log dalam jumlah besar, deteksi aktivitas mencurigakan, dan meningkatkan kemampuan deteksi ancaman.

Sebelumnya pekerjaan ini butuh analisis manual berjam-jam tapi kini bisa selesai lebih cepat dengan bantuan sistem otomatis, bagi sebagian orang beranggapan kalau hal tersebut menguntungkan pihak analis karena mereka dapat fokus pada tugas yang membutuhkan keputusan manusia, tapi apakah hal tersebut dapat menggaransi eksistensi masa depan tenaga
kerja manusia?

Berdasarkan hasil diskusi saya dengan seorang Cyber Defense Analyst, vulnerability research dan pen testing selama ini sangat bergantung pada analis berpengalaman yang membutuhkan banyak waktu untuk memeriksa sistem, mencari kelemahan, dan mengevaluasi berbagai kemungkinan jalur serangan. Tapi, AI masa kini sudah mulai mampu membaca pola, dan connecting the dots sehingga mereka bisa menganalisis cyber attack lebih cepat.

Hal yang mungkin kita lewatkan adalah ternyata teknologi tersebut juga dapat membantu attacker untuk menjalankan misinya seperti melakukan recon, memperbaiki phishing campaign, mengotomatisasi analisis malware, dan meningkatkan efektivitas kegiatan yang biasa dilakukannya. Bahkan attacker juga mulai mengembangkan malware yang semakin kompleks dan sulit dideteksi untuk melewati security tools dan bertahan dalam sistem target selama mungkin.

Bila Anda pernah dengar mengenai Claude Mythos, ini juga merupakan salah satu contoh menarik karena sistem ini sempat menjadi sorotan komunitas cyber security. Bukan hanya karena tingkat kecerdasannya, tetapi karena kemampuan AI tersebut dalam melakukan advanced vulnerability research dan autonomous security analysis secara lebih mandiri dibanding generasi sebelumnya.

Saya juga pernah membaca sebuah artikel yang membahas tentang pelaku serangan siber tingkat lanjut atau biasa dikenal Advanced Persistent Threat (APT), mereka digadang berpotensi menjadi force multiplier karena bisa meningkatkan kecepatan dan efisiensi cyber ops dengan bantuan AI.
At this point, kita tidak lagi bahas tentang AI Intelligence, tapi tentang alignment yang artinya proses melatih, merancang, dan mengawasi sistem AI harus memiliki tujuan dan tindakan yang selaras dengan niat, nilai, dan etika manusia. Sedangkan hal sebaliknya disebut misalignment.

Saat membahas tentang misalignment, saya jadi teringat salah satu film Marvel favorit saya yang berjudul Avengers: Age of Ultron. Bagi Anda yang belum tahu alur ceritanya, teknologi Ultron diciptakan untuk melindungi manusia dan menjaga perdamaian dunia, tapi AI tersebut menjadi salah kaprah dan bertindak dengan caranya sendiri. Dia menyimpulkan kalau manusia merupakan sumber utama kehancuran dunia, maka peradaban manusia harus dihancurkan.

Walaupun alur cerita di film tersebut merupakan science fiction, tapi dapat kita simpulkan bahwa sebenarnya ini semua bukan tentang “robot jahat”, tapi tentang misalignment yang dapat berujung berbahaya meskipun tujuan awalnya terlihat positif. Kembali ke pembahasan awal, bisa jadi rekan kerja kita selanjutnya bukan manusia, tapi masa depan tetap akan menjadi milik mereka yang mampu beradaptasi. Maka fokus utama kita sekarang adalah bukan bersaing melawan AI tapi belajar memanfaatkannya sebagai alat dalam membantu kita menjalankan pekerjaan.

Dhetya Trisanda Gadis
Universitas Binawan
Program Studi Bisnis Digital