Scroll untuk baca artikel
Health

Peran Fisioterapi dalam Meningkatkan Kualitas Hidup pada Penderita Multiple Sclerosis

×

Peran Fisioterapi dalam Meningkatkan Kualitas Hidup pada Penderita Multiple Sclerosis

Sebarkan artikel ini
Peran Fisioterapi dalam Meningkatkan Kualitas Hidup pada Penderita Multiple Sclerosis

Oleh Tifanny Aprilivaldy Syifa Wardana, Mahasiswa Universitas Binawan

Penyakit Multiple Sclerosis(MS) adalah penyakit neurodegeneratif yang bersifat kronis, yang menyebabkan gangguan pada fungsi motorik, sensorik, dan kognitif, sehingga berdampak negatif terhadap kualitas hidup pasien. Fisioterapi memainkan peran penting dalam proses rehabilitasi pasien Multiple Sclerosissebagai bentuk intervensi yang tidak menggunakan obat, bertujuan untuk meningkatkan kemampuan gerak, mobilitas, serta kesejahteraan aspek psikologis dan sosial.

Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur sistematis dengan mencari jurnal open-access dari tahun 2020 hingga 2025 melalui beberapa database seperti Consensus, PubMed, Scopus, MDPI, BMJ Open, dan ResearchGate. Kriteria inklusi mencakup penelitian yang melibatkan pasien dengan Multiple Sclerosis, intervensi berupa fisioterapi atau latihan yang terstruktur, serta hasil yang diukur melalui kualitas hidup, fungsi motorik, dan kapasitas fungsional.

Hasil menunjukkan bahwa fisioterapi dengan metode seperti latihan penguatan otot, latihan keseimbangan, latihan aerobik, latihan fungsional, serta penggunaan teknologi berbasis seperti telehealth dan virtual reality secara signifikan meningkatkan kualitas hidup, mengurangi rasa lelah, dan meningkatkan tingkat kemandirian pasien.

Intervensi ini lebih efektif dibandingkan metode farmakologis dalam meningkatkan fungsi fisik serta aspek psikososial, dan memiliki risiko efek samping yang sangat rendah. Penelitian lanjutan dianjurkan untuk mengeksplorasi efektivitas jangka panjang, penggabungan dengan terapi tambahan, serta program yang didasarkan pada komunitas.

Multiple Sclerosis (MS) adalah penyakit neurodegeneratif kronis yang menyerang sistem saraf pusat dengan cara merusak lapisan pelindung saraf, sehingga menyebabkan gangguan pada kemampuan gerak, persepsi, dan pikiran. Gejala yang muncul, seperti kelemahan otot, gangguan koordinasi, kelelahan, dan keterbatasan mobilitas, dapat menyebabkan penurunan kualitas hidup pasien secara signifikan. Data epidemiologis menunjukkan bahwa frekuensi penyakit Multiple Sclerosis(MS) semakin meningkat di seluruh dunia, dengan tingkat kejadian tertinggi tercatat di wilayah Eropa dan Amerika Utara.

Di sisi lain, terdapat kecenderungan peningkatan kasus di negara-negara berkembang, yang diduga dipengaruhi oleh perubahan gaya hidup dan pola-pola baru dalam hal kesehatan masyarakat. Kondisi ini mengurangi kemampuan fungsional pasien hingga 40 hingga 60 % dibandingkan dengan populasi yang sehat, sehingga memengaruhi kemandirian mereka serta partisipasi sosial mereka (Hayuningrum, Fikri, Sari, & Purnomo, 2025).

Dalam proses rehabilitasi, fisioterapi merupakan bentuk intervensi non-farmakologis yang memiliki peran sangat penting. Pendekatan ini mencakup latihan fisik yang terorganisasi, penguatan otot, latihan untuk menjaga keseimbangan, meningkatkan mobilitas sendi, serta memberikan edukasi kepada pasien. Penelitian menunjukkan bahwa program latihan fisik yang terstruktur dapat meningkatkan kapasitas fungsional pasien hingga antara 20 hingga 35 %, serta mengurangi tingkat kelelahan sebesar 15 hingga 25 %, sehingga meningkatkan kemampuan pasien untuk melakukan aktivitas sehari-hari secara mandiri (Simanullang, Dwany, Y.Purba, Djami, & Irawati, 2021). Selain itu, pendekatan fisioterapi yang terencana, terarah, dan disesuaikan dengan kebutuhan pasien terbukti mempercepat pemulihan fisik dan psikososial, yang secara langsung meningkatkan kualitas hidup (Putri, Nursasi, Sari, & Permatasari, 2025).

Pemanfaatan teknologi telehealth dalam bidang fisioterapi memberikan solusi bagi pasien yang mengalami keterbatasan akses ke layanan kesehatan. Intervensi ini memungkinkan interaksi secara langsung, pengawasan terhadap latihan secara remote, serta penyesuaian program latihan secara pribadi. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani program fisioterapi melalui telehealth mengalami peningkatan kualitas hidup sebesar 18 hingga 22 % dibandingkan pasien yang tidak menggunakan pemantauan digital (Pristianto, Murtafiah, & Primadasa, 2021).

Pendekatan yang melibatkan beberapa bidang ilmu, seperti kombinasi antara latihan fisik dengan metode rehabilitasi lainnya, misalnya latihan berbasis virtual reality, terapi stimulasi kognitif, atau penguatan otot inti, memiliki dampak tambahan yang sangat penting. Sebagai contoh, virtual reality dapat meningkatkan stabilitas dan keseimbangan tubuh hingga 30%, sedangkan latihan kognitif yang diiringi aktivitas fisik dapat meningkatkan kualitas hidup psikologis dan sosial pasien (Suma, 2022).

Secara kualitatif, pasien mengatakan bahwa kemandirian mereka meningkat, rasa sakit dan kelelahan berkurang, motivasi untuk tetap aktif secara sosial dan fisik meningkat, serta mereka mendapatkan dukungan psikososial melalui interaksi rutin dengan fisioterapis. Ini mendukung temuan kuantitatif mengenai peningkatan kualitas hidup pasien. Penggunaan instrumen pengukuran kualitas hidup yang sudah diverifikasi di Indonesia (Kualitas Hidup Indonesia, a = 0,88) memungkinkan penilaian dampak fisioterapi secara valid dan dapat diandalkan (Resmiya & Misbach, 2019).

Dengan demikian, fisioterapi tidak hanya berperan sebagai bentuk intervensi untuk memulihkan kondisi fisik pasien MS, tetapi juga menjadi strategi penting dalam meningkatkan kualitas hidup secara keseluruhan, melalui peningkatan fungsi gerak, penguatan kemandirian, serta pemberian dukungan aspek psikososial. Pendekatan berbasis bukti ini menekankan pentingnya mengintegrasikan fisioterapi dalam manajemen MS, terutama dalam penelitian kualitatif yang mengeksplorasi pengalaman subjektif pasien tentang peningkatan kualitas hidup mereka.

Penelitian ini menerapkan pendekatan tinjauan literatur sistematis dengan tujuan untuk memperlihatkan peran fisioterapi dalam meningkatkan kualitas hidup pasien Multiple Sclerosis(MS). Pengumpulan data dilakukan dengan mengakses jurnal berbasis open-access yang diterbitkan dalam periode tahun 2020 hingga 2025. Sumber literatur berasal dari PubMed, Scopus, MDPI, BMJ Open, serta ResearchGate.

Kriteria inklusi penelitian meliputi Subjek penelitian adalah pasien yang memiliki diagnosis Multiple Sclerosis; Intervensi meliputi fisioterapi, program latihan fisik yang terstruktur, rehabilitasi neurologis, atau kombinasi dari berbagai metode tersebut dengan teknologi telehealth atau virtual reality; Hasil penelitian ini melaporkan tentang kualitas hidup pasien, kemampuan bergerak, kapasitas fungsi tubuh, atau aspek-aspek psikososial mereka; dan Jenis penelitian yang dipertimbangkan mencakup Randomized Controlled Trials (RCT), penelitian kuasi eksperimen, studi kohort, studi kasus, serta tinjauan pustaka yang berkaitan dengan rehabilitasi fisioterapi.

Studi yang digunakan dibandingkan berdasarkan jenis intervensi, durasi terapi, serta hasil kuantitatif dan kualitatif terhadap kualitas hidup pasien. Data tersebut kemudian dianalisis secara menyeluruh untuk memberikan gambaran yang jelas mengenai dampak fisioterapi terhadap peningkatan fungsi fisik, kemampuan bergerak, kemandirian, serta kesejahteraan psikososial pasien penyakit Parkinson, serta mengevaluasi efektivitas metode pengobatan konvensional dan berbasis teknologi. Pendekatan ini membantu dalam mengenali praktik terbaik serta bukti ilmiah terbaru mengenai rehabilitasi fisioterapi yang diterapkan kepada pasien Multiple Sclerosis.

Peran Fisioterapi dalam Rehabilitasi Multiple Sclerosis

Fisioterapi memiliki peran penting dalam proses rehabilitasi pasien Multiple Sclerosis(MS) sebagai pendekatan non-farmakologis yang berkelanjutan dan terintegrasi. Tujuan dari terapi ini bukan hanya memperbaiki kemampuan motorik, tetapi juga membantu mengurangi rasa lelah, meningkatkan keseimbangan, mobilitas, serta kualitas hidup secara keseluruhan (Hayuningrum, Fikri, Sari, & Purnomo, 2025). Dalam klinis, pasien penderita Multiple Sclerosismengalami gangguan pada sistem saraf pusat yang menyebabkan kelemahan otot, kekakuan, gangguan koordinasi gerak, serta penurunan kemampuan daya tahan aerobik. Latihan fisioterapi terarah membantumeminimalkan gejala ini dengan:

Menguatkan otot inti serta otot bagian bawah tubuh, meningkatkan stabilitas postural dan kemampuan bergerak.
Mengoptimalkan pola berjalan dan keseimbangan agar dapat mencegah terjadinya jatuh.
Program latihan aerobik dan resistensi ringan dapat membantu mengurangi kelelahan kronis.

Penelitian menunjukkan bahwa program latihan yang terstruktur dapat meningkatkan skor MSIS-29 hingga 20–30% dan menurunkan skor Fatigue Severity Scale (FSS) sekitar 15–25%. Hasil ini mencerminkan peningkatan fungsi fisik serta aspek psikososial pasien (Simanullang, Dwany, Y.Purba, Djami, & Irawati, 2021). Interaksi dengan fisioterapis dapat meningkatkan semangat, rasa percaya diri, dan ketaatan pasien terhadap program latihan yang berlangsung dalam jangka waktu lama. Selain itu, fisioterapi juga berperan dalam mengoptimalkan proses rehabilitasi yang melibatkan beberapa bidang ilmu, yaitu aspek neurologis, psikologis, dan sosial, sehingga pasien tidak hanya mengalami perbaikan di bidang fisik tetapi juga meningkatkan kualitas hidup secara menyeluruh. Pasien melaporkan peningkatan dalam kemandirian, kemampuan untuk lebih percaya diri, serta kemampuan untuk terlibat dalam berbagai kegiatan sosial, yang selaras dengan temuan kuantitatif mengenai peningkatan skor kualitas hidup.

Mekanisme Biomekanik, Fisiologis, dan Neurofisiologis

Efektivitas fisioterapi pada pasien Multiple Sclerosisdapat dijelaskan melalui tiga mekanisme utama:

a. Biomekanik

Latihan penguatan otot serta latihan fungsional membantu meningkatkan stabilitas sendi dan kemampuan koordinasi tubuh secara lebih baik. Penguatan otot inti dan otot bagian bawah tubuh membantu menyebar beban secara merata, mengurangi tekanan yang terjadi pada tulang dan sendi, serta meminimalkan kemungkinan terjadinya jatuh (Suma, 2022). Latihan fungsional membantu meningkatkan efisiensi gerakan dalam kegiatan sehari-hari, seperti berjalan, naik tangga, dan berdiri-sit-to-stand. Hal ini membantu pasien tetap mandiri dalam menjalani aktivitas sehari-hari.

b. Fisiologis

Latihan aerobik dan resistensi meningkatkan aliran darah, pemberian oksigen ke jaringan, serta fungsi metabolisme otot dan saraf. Peningkaran darah yang lebih baik ke jaringan saraf perifer dapat mempercepat proses metabolisme sel, mengurangi peradangan, serta membantu mengurangi rasa lelah (Pristianto, Murtafiah, & Primadasa, 2021). Studi menunjukkan penurunan skor FSS hingga 20% setelah menjalani latihan aerobik terstruktur selama 8 minggu, yang menunjukkan adanya efek fisiologis yang cukup signifikan.

c. Neurofisiologis

Latihan fisik dapat memicu pelepasan berbagai neurotransmiter dan neurotropin, termasuk endorfin, dopamin, serotonin, serta Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF). Ini mendukung kemampuan otak untuk beradaptasi, meningkatkan keterampilan gerak tubuh, serta mengubah cara tubuh merasakan sakit melalui mekanisme yang disebut hypoalgesia yang terpicu oleh olahraga (EIH). Proses ini menunjukkan penurunan kelelahan dan nyeri meskipun kerusakan mielin pada MS masih terjadi (Simanullang, Dwany, Y.Purba, Djami, & Irawati, 2021).

Jenis Latihan Fisioterapi yang Efektif

a. Latihan Penguatan Otot (Strengthening Exercise)

Fokuslah pada otot inti, paha depan, serta otot bagian bawah tubuh. Latihan ini membantu mengurangi beban pada %dian, meningkatkan fleksibilitas, dan mengurangi kekakuan. Penelitian menunjukkan peningkatan kapasitas fungsional hingga 25-30% setelah melakukan latihan penguatan selama 8-12 minggu dengan frekuensi 2-3 kali dalam seminggu (Hayuningrum, Fikri, Sari, & Purnomo, 2025).

b. Latihan Keseimbangan dan Koordinasi (Balance & Coordination Training)

Mengurangi risiko terjatuh, meningkatkan postur tubuh, dan memperbaiki koordinasi tubuh. Latihan fungsional, seperti berjalan secara bertahap dan melatih aktivitas kehidupan sehari-hari, terbukti dapat meningkatkan skor MSFC serta keseimbangan dinamis (Suma, 2022).

c. Latihan Aerobik (Aerobic Exercise)

Latihan dengan intensitas ringan hingga sedang dapat meningkatkan kemampuan kardiorespirasi, mengurangi rasa lelah, serta memperkuat daya tahan tubuh secara fisik. Hasil penelitian menunjukkan penurunan sebesar 20% pada skor FSS setelah menjalani program selama 8 minggu (Pristianto, Murtafiah, & Primadasa, 2021).

d. Latihan Berbasis Teknologi (Telehealth & Virtual Reality)

Telehealth memungkinkan pelatihan di rumah dengan bimbingan langsung, sedangkan virtual reality meningkatkan semangat, keterlibatan pasien, dan hasil fungsi mereka. Dua pendekatan tersebut terbukti meningkatkan kepatuhan terhadap latihan dan kualitas hidup psikososial (Pristianto, Murtafiah, & Primadasa, 2021; Suma, 2022)

e.Latihan Fungsional dan ADL

Meniru aktivitas sehari-hari dan memperbaiki kemandirian. Studi menunjukkan peningkatan skor pada ujian Timed Up and Go Test (TUG) sebesar 15-20 %, yang menunjukkan peningkatan dalam mobilitas dan kemampuan melakukan aktivitas harian (Hayuningrum, Fikri, Sari, & Purnomo, 2025).

Perbandingan dengan Intervensi Farmakologis

Intervensi farmakologis yang diberikan kepada pasien Multiple Sclerosis(MS), seperti obat imunomodulator (interferon beta, glatiramer acetate) serta antispastik (baclofen atau tizanidine), bertujuan untuk mengendalikan gejala yang muncul, mencegah terjadinya flare-up, serta memperlambat perkembangan penyakit. Meskipun obat-obatan ini mampu mengurangi peradangan dan aktivitas sistem kekebalan tubuh, mereka tidak secara langsung meningkatkan kemampuan bergerak, keseimbangan, atau kemandirian pasien dalam melakukan aktivitas sehari-hari. Efek samping jangka panjang, seperti gangguan pencernaan, kelelahan, atau risiko keracunan hati, juga menjadi perhatian dalam penggunaan obat secara berkelanjutan.

Fisioterapi, di sisi lain, bertujuan untuk pemulihan fungsi gerak, kekuatan otot, keseimbangan, koordinasi gerak, serta kapasitas daya tahan tubuh, sekaligus membantu aspek psikologis dan sosial pasien. Intervensi ini dapat digabungkan dengan terapi farmakologis untuk menciptakan efek sinergis, di mana obat berfungsi untuk mengendalikan aktivitas penyakit, sementara fisioterapi membantu meningkatkan kualitas hidup, kemampuan fungsi fisik, serta partisipasi sosial. Penelitian menunjukkan bahwa pasien yang menjalani kombinasi terapi fisioterapi dan pengobatan farmakologis mengalami peningkatan skor pada MSIS-29 dan SF-36 yang lebih signifikan dibandingkan pasien yang hanya menerima pengobatan farmakologis saja (Simanullang, Dwany, Y.Purba, Djami, & Irawati, 2021). Ini menunjukkan bahwa fisioterapi bukanlah pengganti obat, melainkan bagian penting dalam strategi rehabilitasi bagi penderita MS.

Dampak Psikososial

Latihan fisioterapi tidak hanya meningkatkan kemampuan fisik pasien MS, tetapi juga memiliki dampak yang penting terhadap kondisi psikososial mereka. Kegiatan fisik yang teratur dapat meningkatkan motivasi, keyakinan diri, dan interaksi sosial seseorang, yang secara langsung memengaruhi kualitas hidup secara mental dan emosional. Pasien melaporkan peningkatan rasa percaya diri, kemampuan mengelola stres, serta kepuasan hidup, yang sejalan dengan peningkatan skor pada SF-36 dan MSIS-29.

Selain itu, interaksi berkala dengan fisioterapis memberikan dukungan psikososial yang penting, seperti penyampaian informasi mengenai penyakit, penggalangan semangat untuk terlibat aktif dalam latihan, serta peningkatan kemandirian. Penelitian kualitatif menunjukkan bahwa pasien yang secara aktif mengikuti program fisioterapi merasa lebih terlibat dalam mengelola kondisi kesehatannya, mengalami penurunan tingkat kecemasan dan depresi, serta meningkatkan keterlibatan dalam berbagai aktivitas sosial dan pekerjaan (Resmiya & Misbach, 2019). Efek psikososial menjadi bagian yang sangat penting dalam proses rehabilitasi penyakit Parkinson karena kualitas psikologis seseorang memengaruhi seberapa baik pasien mengikuti program latihan serta intervensi medis yang diberikan.

Implikasi Klinis

Fisioterapi menjadi lebih efektif jika dilakukan secara teratur dan berkelanjutan, sebaiknya 3 sampai 4 kali dalam seminggu selama 8 sampai 12 minggu. Pada program tersebut, terdapat kombinasi berbagai jenis latihan seperti penguatan otot, peningkatan keseimbangan, latihan aerobik, latihan fungsional, serta peningkatan mobilitas sendi. Evaluasi berkala dengan menggunakan alat bantu standar seperti MSIS-29, FSS, SF-36, dan MSFC sangat penting untuk mengevaluasi efektivitas intervensi serta menyesuaikan tingkat intensitas latihan secara bertahap, seperti yang disebutkan dalam penelitian Hayuningrum et al. (2025).

Kepatuhan pasien bukanlah faktor utama dalam mencapai keberhasilan rehabilitasi. Pasien yang secara aktif mengikuti program latihan menunjukkan peningkatan fungsi motorik dan kualitas hidup yang lebih cepat terjadi dan lebih lama bertahan dibandingkan dengan pasien yang tidak aktif. Selain itu, penggunaan teknologi seperti telehealth atau virtual reality dapat meningkatkan partisipasi pasien, terutama bagi mereka yang memiliki keterbatasan mobilitas atau kesulitan mengakses fasilitas rehabilitasi.

Implikasi klinis lainnya meliputi penurunan risiko jatuh, pengurangan kelelahan yang berkepanjangan, serta peningkatan kemampuan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari (ADL), yang secara keseluruhan membantu meningkatkan kemandirian dan partisipasi sosial pasien MS.

Fisioterapi berperan penting dalam meningkatkan kualitas hidup pasien Multiple Sclerosis(MS) dengan menggabungkan berbagai jenis latihan seperti penguatan otot, keseimbangan, aerobik, fungsional, serta penggunaan teknologi seperti telehealth dan virtual reality. Intervensi ini tidak hanya meningkatkan kemampuan gerak dan kemampuan bergerak pasien, tetapi juga memberikan manfaat di bidang psikososial seperti meningkatkan semangat, keyakinan diri, kemandirian, serta keterlibatan sosial pasien.

Bukti berdasarkan data kuantitatif menunjukkan adanya peningkatan skor MSIS-29 sebesar 20 hingga 30 %, penurunan skor pada Fatigue Severity Scale (FSS) sebesar 15 hingga 25 %, serta peningkatan signifikan dalam kapasitas fungsional setelah peserta mengikuti program latihan yang terstruktur. Dari sudut pandang neurofisiologis, latihan fisik memicu proses neuroplastisitas, meningkatkan produksi endorfin, dan mengaktifkan sistem analgesik bawaan tubuh yang berperan dalam mengurangi persepsi rasa sakit.

Fisioterapi terbukti lebih efektif dibandingkan pengobatan dengan obat-obatan dalam meningkatkan kemampuan tubuh dan kualitas kehidupan secara umum, dengan risiko efek samping yang relatif rendah. Pendekatan yang terorganisir, penyesuaian latihan sesuai kebutuhan individu, serta pemantauan berkelanjutan oleh ahli fisioterapi merupakan faktor penting dalam mencapai keberhasilan proses rehabilitasi. Penelitian berikutnya dianjurkan untuk mengevaluasi efektivitas jangka panjang dari fisioterapi, menggabungkan dengan terapi komplementer serta nutrisi, dan menerapkan program berbasis komunitas guna meningkatkan akses dan kesinambungan hasil rehabilitasi pada pasien MS di berbagai latar belakang sosial-ekonomi.