Oleh: Alin Aldini, S.S., Anggota Komunitas Muslimah Menulis (KKM) Depok
DEPOKPOS – Kasus pengeroyokan guru oleh siswa di sebuah SMK di Jambi yang viral di media sosial bukan sekadar peristiwa kriminal biasa. Ia potret buram dunia pendidikan yang sedang kehilangan ruh dan nilai sebuah perbuatan. Peristiwa ini bermula dari teguran guru di kelas yang dibalas dengan sikap tidak sopan, lalu berujung pada kekerasan fisik. Di sisi lain, muncul pengakuan siswa bahwa sang guru kerap berkata kasar, menghina murid dan orang tua, bahkan melabeli mereka bodoh dan miskin. Konflik pun membesar, relasi guru–murid runtuh, dan kekerasan pun menjadi klimaksnya (detik.com, 17-01-2026).
Peristiwa ini memicu reaksi berbagai pihak. Koordinator Nasional JPPI menyebutnya sebagai pelanggaran hak anak atas pendidikan yang aman dan bebas dari kekerasan (Kompas.com, 16-01-2026). Pernyataan ini memang benar, tetapi belum sampai menyentuh akar persoalan. Sebab kasus ini bukan semata pelanggaran hukum atau konflik emosi sesaat. Ia gejala serius dari sistem pendidikan yang sedang sakit.
Relasi guru dan murid seharusnya dibangun di atas penghormatan, keteladanan, dan kasih sayang. Namun hari ini, relasi itu berubah menjadi relasi “teman”, bahkan transaksional. Di satu sisi, murid kehilangan adab dengan berkata yang cenderung kasar dan seharusnya digunakan hanya kepada teman, cenderung mengabaikan nasihat dengan alasan tidak usah bawa perasaan, melawan, bahkan berani mengeroyok guru.
Di sisi lain, ada guru yang kehilangan kepekaan mendidik seperti menghina, merendahkan, melukai harga diri murid dengan kata-kata yang merusak psikologis yang dilakukan dengan sengaja tanpa pemicu emosi apapun. Dua pihak sama-sama terjebak dalam lingkaran kekerasan yang semakin sulit diputus.
Fenomena ini tidak lahir secara tiba-tiba. Ini buah dari sistem pendidikan sekuler kapitalistik yang menjauhkan agama (Islam) dari proses pembentukan kepribadian manusia. Pendidikan direduksi menjadi sekadar proses transfer ilmu dan pencapaian angka/akademik semata. Sekolah berubah menjadi pabrik kompetensi, guru menjadi operator kurikulum, murid menjadi objek target capaian. Nilai adab, akhlak, dan pembentukan kepribadian tersingkir oleh tuntutan pasar dan administrasi.
Dalam sistem sekuler, pendidikan kehilangan orientasi spiritual. Guru dinilai dari kinerja administratif, murid dinilai dari nilai rapor dan ranking. Hubungan nurani (insaniyah) antara pendidik dan peserta didik melemah. Ketika tekanan kerja menumpuk dan karakter tidak terbentuk, emosi pun mudah meledak. Kekerasan menjadi jalan keluar yang salah namun kian lazim.
Islam memandang pendidikan dengan sangat berbeda. Pendidikan bukan sekadar mencetak orang pintar, tapi membentuk manusia beradab. Rasulullah SAW menegaskan, beliau diutus untuk menyempurnakan akhlak. Artinya, inti pendidikan adalah pembentukan karakter (kepribadian), bukan hanya kecerdasan.
Dalam sistem pendidikan Islam, adab berjalan bersama ilmu. Murid dididik untuk memuliakan guru, menghormati ilmu, dan menjaga lisannya. Takzim kepada guru bukan formalitas, melainkan fondasi keberkahan ilmu. Sebaliknya, guru diwajibkan mendidik dengan kasih sayang, kesabaran, dan keteladanan. Menghina murid, merendahkan keluarga, atau melabeli dengan kata-kata kasar adalah pengkhianatan terhadap amanah pendidikan.
Guru dalam Islam bukan sekadar pengajar, tapi figur teladan. Ia menjadi contoh hidup tentang akhlak, kejujuran, dan kesopanan. Sementara murid dibimbing menjadi pribadi yang santun, berdisiplin, dan bertanggung jawab. Relasi guru–murid dibangun sebagai relasi mulia, bukan relasi kuasa yang menekan atau relasi bebas tanpa batas.
Negara dalam sistem Islam memiliki peran besar memastikan pendidikan berjalan sesuai tujuan ini, mencetak kepribadian (Islam). Kurikulum disusun berlandaskan akidah Islam, sehingga setiap mata pelajaran diarahkan untuk membentuk pola pikir dan pola sikap (Islam), bukan sekadar memenuhi kebutuhan pasar. Negara menjamin lingkungan sekolah aman, beradab, dan kondusif bagi tumbuhnya akhlak mulia.
Kasus guru dikeroyok murid dan murid dihina guru adalah alarm keras bahwa pendidikan kita sedang kehilangan nilai dan ruh sebuah perbuatan. Selama sistem sekuler kapitalistik tetap menjadi fondasi, konflik, kekerasan, dan krisis adab akan terus berulang. Sudah saatnya pendidikan dikembalikan pada sistem yang sesuai fitrah manusia, membentuk manusia beriman, berilmu, dan berakhlak. Tanpa itu, sekolah hanya akan menjadi arena konflik, bukan ladang lahirnya generasi peradaban mulia.[]
