Oleh Devania Luthfiah Zuhrah, mahasiswa D4 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Binawan
DEPOKPOS – Frozen shoulder atau kapsulitis adhesif merupakan kondisi yang ditandai dengan nyeri dan keterbatasan lingkup gerak sendi bahu secara progresif. Modalitas fisioterapi telah terbukti efektif dalam mengatasi kondisi ini melalui berbagai intervensi terapi. Tujuan: Artikel ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh modalitas fisioterapi terhadap peningkatan lingkup gerak sendi pada pasien frozen shoulder. Metode: Tinjauan literatur dengan menganalisis penelitian-penelitian terbaru dari jurnal-jurnal ilmiah yang tersedia. Hasil: Berbagai modalitas fisioterapi termasuk infrared, TENS (Transcutaneous Electrical Nerve Stimulation), massage, latihan aktif resisten, dan terapi manual terbukti dapat meningkatkan lingkup gerak sendi secara signifikan. Kesimpulan: Pendekatan multimodal fisioterapi yang dikombinasikan dengan latihan yang terprogram secara sistematis efektif dalam meningkatkan lingkup gerak sendi dan menurunkan nyeri pada pasien frozen shoulder.
Frozen shoulder atau yang dikenal dengan istilah kapsulitis adhesif merupakan kondisi patologis bahu yang ditandai dengan nyeri dan keterbatasan lingkup gerak sendi secara progresif (Didik et al., 2019). Kondisi ini merupakan gangguan muskuloskeletal yang cukup umum terjadi, terutama pada populasi usia 30-60 tahun dan memiliki prevalensi lebih tinggi pada wanita dibandingkan pria (Andhika Fatir Ath-Thariq et al., 2025). Karakteristik utama frozen shoulder adalah kehilangan range of motion (ROM) aktif dan pasif pada sendi glenohumeral, yang biasanya dimulai dengan rasa nyeri dan secara bertahap mengalami pembatasan gerak (Anggun Rahmawati Putri, 2016)
Patofisiologi frozen shoulder melibatkan proses inflamasi dan fibrosis pada kapsul sendi glenohumeral, ligamen, dan jaringan di sekitarnya (Puspitasari, n.d.). Kondisi ini dapat terjadi secara primer (idiopatik) tanpa penyebab yang jelas atau secara sekunder akibat trauma, pembedahan, atau kondisi patologis lainnya. Permasalahan utama yang dihadapi pasien frozen shoulder adalah nyeri yang berkelanjutan, penurunan kekuatan otot, spasme otot, dan penurunan kemampuan fungsional yang berdampak pada aktivitas sehari-hari (Aulia, 2022).
Penanganan frozen shoulder memerlukan pendekatan komprehensif yang melibatkan berbagai modalitas fisioterapi untuk mencapai hasil yang optimal (Nurhaliza et al., 2022). Berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa intervensi fisioterapi yang tepat dapat secara signifikan meningkatkan lingkup gerak sendi, mengurangi nyeri, menurunkan spasme otot, dan meningkatkan kekuatan otot pada pasien frozen shoulder (Zaimsyah, 2020). Modalitas yang tersedia meliputi terapi thermal (infrared), elektroterapi (TENS), massage, terapi latihan (exercise therapy), terapi manual (manual therapy), dan kombinasi dari berbagai modalitas tersebut (Wardani & Kuswardani, 2024).
Pentingnya penelitian ini terletak pada upaya untuk mengidentifikasi dan menganalisis efektivitas berbagai modalitas fisioterapi yang dapat digunakan secara optimal dalam menangani pasien frozen shoulder (Agustiningsih, 2023). Dengan pemahaman yang lebih mendalam tentang pengaruh modalitas fisioterapi terhadap peningkatan lingkup gerak sendi, diharapkan dapat memberikan panduan klinis yang lebih baik bagi praktisi fisioterapi dalam merencanakan dan melaksanakan program rehabilitasi yang efektif dan efisien.
Penelitian ini menggunakan desain tinjauan literatur (literature review) dengan pendekatan analisis deskriptif terhadap publikasi-publikasi ilmiah terbaru tentang pengaruh modalitas fisioterapi terhadap lingkup gerak sendi pada pasien frozen shoulder. Strategi pencarian literatur dilakukan melalui berbagai database elektronik termasuk Google Scholar, PubMed, dan portal jurnal institusional untuk mengidentifikasi penelitian-penelitian relevan yang dipublikasikan dalam kurun waktu 10 tahun terakhir (2016-2026).
Pengumpulan data dilakukan dengan membaca dan menganalisis secara sistematis setiap artikel yang memenuhi kriteria, dengan fokus pada: (1) jenis dan kombinasi modalitas fisioterapi yang digunakan, (2) durasi dan frekuensi pemberian terapi, (3) parameter outcome yang diukur, dan (4) hasil peningkatan lingkup gerak sendi yang dicapai. Instrument pengukuran lingkup gerak sendi yang sering digunakan dalam penelitian-penelitian tersebut adalah goniometer untuk mengukur ROM secara objektif, Shoulder Pain and Disability Index (SPADI) untuk mengukur fungsi dan nyeri, serta parameter klinis lainnya seperti manual muscle testing (MMT), numeric rating scale (NRS) untuk nyeri, dan pemeriksaan palpasi untuk spasme otot.
Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan membandingkan hasil-hasil dari berbagai penelitian untuk mengidentifikasi tren dan pola efektivitas modalitas fisioterapi yang berbeda. Data yang telah dikumpulkan diorganisir berdasarkan jenis modalitas yang digunakan dan hasil yang dicapai, kemudian dianalisis untuk menghasilkan sintesis pengetahuan tentang efektivitas dan rekomendasi penggunaan modalitas fisioterapi untuk pasien frozen shoulder.
Jenis-jenis Modalitas Fisioterapi untuk Frozen Shoulder
Pendekatan penanganan frozen shoulder melibatkan berbagai modalitas fisioterapi yang dapat digunakan baik secara individual maupun dalam kombinasi multimodal (Setiyawati, 2024). Penelitian yang dilakukan menunjukkan bahwa infrared dan TENS merupakan modalitas thermal dan elektroterapi yang paling sering digunakan dalam manajemen frozen shoulder. Infrared memiliki fungsi untuk mengurangi nyeri, meningkatkan sirkulasi darah, dan mempersiapkan jaringan sebelum dilakukan latihan atau terapi manual (Asriani, 2025).
Massage dan trigger point therapy juga menjadi komponen penting dalam protokol fisioterapi frozen shoulder, karena dapat mengurangi ketegangan otot, meningkatkan fleksibilitas jaringan lunak, dan memfasilitasi peningkatan ROM (Nurhaliza et al., 2022). Terapi latihan yang mencakup active resisted exercise, passive stretching, dan free active exercise telah terbukti efektif dalam meningkatkan lingkup gerak sendi secara progresif melalui mekanisme elongasi kapsul sendi dan peningkatan elastisitas jaringan (Wardani & Kuswardani, 2024). Terapi manual termasuk mobilisasi sendi dan manipulasi juga menunjukkan hasil yang signifikan dalam meningkatkan ROM, khususnya pada pasien dengan irritability level yang rendah hingga sedang.
Hold relax exercise dan mobilization with movement (MWM) merupakan teknik khusus yang menggabungkan prinsip proprioceptive neuromuscular facilitation (PNF) dan mobilisasi sendi fungsional (Widaningrum et al., 2021). Pendekatan multimodal yang mengintegrasikan beberapa modalitas secara sinergis terbukti memberikan hasil yang lebih baik dibandingkan penggunaan modalitas tunggal dalam mengatasi kompleksitas patofisiologi frozen shoulder (Aulia, 2022). Kombinasi infrared, TENS, massage, dan terapi latihan aktif resisten telah diimplementasikan dalam berbagai protokol klinis dengan hasil yang konsisten menunjukkan peningkatan ROM, penurunan nyeri, dan peningkatan fungsi bahu.
Efektivitas Modalitas Fisioterapi terhadap Peningkatan Lingkup Gerak Sendi
Penelitian klinis menunjukkan bahwa pemberian modalitas fisioterapi secara konsisten dan terstruktur menghasilkan peningkatan lingkup gerak sendi yang signifikan pada pasien frozen shoulder (Asriani, 2025). Sebuah studi kasus melaporkan bahwa setelah pemberian fisioterapi selama 3 kali pertemuan dengan menggunakan kombinasi infrared, TENS, massage, dan active resisted exercise, pasien mengalami peningkatan ROM, peningkatan kekuatan otot, penurunan spasme, dan pengurangan nyeri yang terukur melalui skala SPADI (Zaimsyah, 2020). Hasil penelitian lain menunjukkan bahwa dari enam kali sesi terapi yang mengkombinasikan ultrasound dan exercise therapy, terjadi peningkatan yang bermakna dalam lingkup gerak sendi bahu disertai dengan pengurangan nyeri yang signifikan (Widaningrum et al., 2021).
Terapi manipulasi menunjukkan efektivitas yang tinggi dalam meningkatkan lingkup gerak sendi pada pasien frozen shoulder dibandingkan dengan kelompok kontrol yang hanya menerima infrared dan TENS. Studi literatur yang menganalisis sepuluh jurnal penelitian menunjukkan bahwa semua studi yang diteliti mengonfirmasi adanya peningkatan lingkup gerak sendi pada kasus frozen shoulder setelah mendapatkan intervensi terapi manual yang tepat (Didik et al., 2019). Penelitian dengan desain randomized controlled trial melaporkan bahwa exercise therapy baik yang diberikan secara supervised maupun home-based exercise program menghasilkan peningkatan ROM, penurunan nyeri, dan peningkatan fungsi yang signifikan pada pasien frozen shoulder (Agustiningsih, 2023).
Pendekatan yang menggunakan hold relax exercise dan mobilization with movement selama empat kali terapi menghasilkan penurunan nyeri dan peningkatan lingkup gerak sendi yang terukur pada kasus frozen shoulder (Setiyawati, 2024). Kombinasi thermal therapy, electrotherapy, massage, dan targeted exercise therapy dalam lima kali sesi terapi berhasil mengurangi nyeri, menurunkan spasme otot, meningkatkan ROM bahu, meningkatkan kekuatan otot, dan meningkatkan aktivitas fungsional pasien secara keseluruhan. Meta-analisis yang komprehensif menunjukkan bahwa exercise therapy secara efektif meningkatkan ROM, fungsi, dan mengurangi nyeri, dengan hasil terbaik dicapai ketika program latihan diawasi secara profesional dibandingkan dengan home exercise program (Anggun Rahmawati Putri, 2016)
Mekanisme Fisiologis Peningkatan Lingkup Gerak Sendi
Peningkatan lingkup gerak sendi pada pasien frozen shoulder melalui modalitas fisioterapi terjadi melalui beberapa mekanisme fisiologis yang saling terkait (Nurhaliza et al., 2022). Terapi thermal seperti infrared menyebabkan peningkatan suhu jaringan lokal yang menghasilkan vasodilatasi, peningkatan sirkulasi darah, dan peningkatan elastisitas jaringan ikat. Efek ini memfasilitasi penurunan viskositas cairan sinovial, meningkatkan nutrisi ke kartilago sendi, dan mengurangi rigiditas kapsul yang kaku.
Electrotherapy melalui TENS bekerja dengan cara mengganggu transmisi sinyal nyeri melalui mekanisme gate control theory, sehingga mengurangi persepsi nyeri dan memungkinkan pasien untuk melakukan latihan yang lebih aktif (Zaimsyah, 2020). Massage dan trigger point therapy meningkatkan fleksibilitas jaringan lunak, mengurangi tension myofascial, dan memfasilitasi relaksasi otot-otot periartikular yang mengalami spasme (Anggun Rahmawati Putri, 2016). Terapi latihan yang terprogram dengan baik menyebabkan elongasi bertahap dari kapsul sendi melalui proses mechanotransduction, di mana stress mekanis yang diberikan secara repetitif menghasilkan remodeling jaringan kolagen (Wardani & Kuswardani, 2024).
Modalitas fisioterapi terbukti memberikan pengaruh yang signifikan terhadap peningkatan lingkup gerak sendi pada pasien frozen shoulder melalui berbagai mekanisme fisiologis. Pendekatan multimodal yang mengintegrasikan terapi thermal, elektroterapi, massage, terapi latihan, dan terapi manual secara terstruktur dan konsisten menunjukkan hasil yang optimal dalam meningkatkan ROM, mengurangi nyeri, menurunkan spasme otot, meningkatkan kekuatan otot, dan meningkatkan kemampuan fungsional bahu. Pemberian modalitas fisioterapi harus disesuaikan dengan fase penyakit dan tingkat irritability pasien untuk mencapai efektivitas maksimal. Intervensi fisioterapi yang diberikan secara teratur dan progresif, dikombinasikan dengan edukasi pasien dan program latihan rumah yang terstruktur, dapat memberikan hasil jangka panjang yang memuaskan dalam rehabilitasi pasien frozen shoulder.

