MUHAMMAD HAFIDZ AL BAIHAQI, PROGRAM STUDI FISIOTERAPI
DEPOKPOS – Stroke adalah penyebab kedua terbanyak kematian dan salah satu faktor utama kecacatan di seluruh dunia. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan terapi Gerak Rentang (ROM) pada pasien stroke yang mengalami masalah dalam mobilitas fisiknya. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus pada dua pasien stroke di RS Muhammadiyah Darul Istiqomah, dengan kriteria intervensi untuk pasien stroke yang menunjukkan penerapan terapi ROM baik aktif maupun pasif, mengalami kelemahan otot serta memenuhi kriteria inklusi, yaitu pasien yang memiliki kelemahan di ekstremitas dan pasien stroke non-hemoragik. Hasil penelitian terhadap kedua responden menunjukkan bahwa setelah menjalani terapi ROM selama tiga hari, mereka mengalami peningkatan pada kekuatan otot, yang ditunjukkan dengan adanya peningkatan dalam skala kekuatan otot. Kesimpulannya, implementasi terapi yang dilakukan untuk meningkatkan kekuatan otot meliputi pemberian terapi Gerak Rentang (ROM) dan melakukan pengamatan sebelum dan sesudah terapi Gerak Rentang (ROM) dilaksanakan.
Kata kunci: Kekuatan otot; stroke; ROM; studi kasus; gangguan mobilitas
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melaporkan bahwa setiap tahun terdapat 13,7 juta kasus stroke baru dan sekitar 5,5 juta orang meninggal akibat penyakit ini. Sekitar 70% dari kondisi stroke dan 87% kematian serta disabilitas yang disebabkan oleh stroke terjadi di negara-negara dengan pendapatan rendah dan menengah. Di negara maju, angka stroke menurun sebesar 42%. Stroke merupakan penyebab utama kedua kecamatan dan salah satu alasan terbesar terjadinya disabilitas secara global. Diperkirakan pada tahun 2030 akan ada sekitar 30 juta individu yang mengalami stroke. Menurut data dari World Stroke Organization (WSO), pada tahun 2019, 13,7 juta orang terdiagnosis dengan stroke, di mana 52% dari mereka adalah pria dan 60% berusia di bawah 70 tahun. Apabila pasien stroke tidak mendapatkan penanganan medis segera, hal ini dapat mengakibatkan kelumpuhan serta menimbulkan berbagai komplikasi, seperti kesulitan bergerak, gangguan fungsi, masalah dalam kegiatan sehari-hari, dan disabilitas permanen. Hal tersebut
Berdasarkan penelitian yang dilakukan terhadap 121 pasien stroke, ditemukan bahwa 90% atau 109 pasien menghadapi masalah keperawatan berupa gangguan mobilitas fisik. Kurangnya aktifitas fisik setelah mengalami stroke dapat mengurangi rentang gerak sendi, dan jika kondisi ini berlanjut, dapat mengakibatkan ketergantungan total, cacat permanen, bahkan kematian. Olahraga rentang gerak (ROM) secara perlahan dapat membantu memperbaiki kelemahan otot pasien. Ketika penderita stroke mulai melakukan aktivitas fisik melalui terapi yang aman, nafsu makan mereka akan mulai meningkat. Peningkatan yang bertahap dapat membantu menghindari rasa putus asa. Otot yang terkena dampak akibat stroke masih memiliki kesempatan untuk pulih dengan latihan ROM.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat bahwa setiap tahun, 15 juta orang di seluruh dunia mengalami stroke. Di antara mereka, 5 juta meninggal dunia dan 5 juta lainnya mengalami cacat permanen. Tekanan darah tinggi menjadi penyebab lebih dari 12,7 juta kasus stroke secara global. Jenis stroke yang paling umum adalah iskemik dan hemoragik. Stroke iskemik menyumbang sekitar 83% dari total kasus stroke, sementara sisanya 17% adalah stroke hemoragik, yang melibatkan sekitar 550. 000 orang.
Sebuah studi awal yang dilakukan pada 4 pasien stroke di RS Muhammadiyah Darul Istiqomah, Kaliwungu Kendal, pada tanggal 5 Juni 2023, mengungkap bahwa stroke adalah salah satu penyakit utama yang terjadi pada pasien lansia yang dirawat di ruang inap. Berdasarkan wawancara, 2 dari 4 responden yang mengalami stroke melaporkan adanya gangguan dalam mobilitas fisik. Responden I menyatakan bahwa kaki dan tangan kanannya lemah, sedangkan responden II melaporkan bahwa ekstremitas tangan dan kaki sebelah kanan sulit untuk digerakkan. Responden I mencoba mengatasi masalah mobilitas dengan pijat tradisional, sementara responden II lebih memilih mengonsumsi jamu herbal atau obat tradisional. Dalam studi pendahuluan ini, kedua penderita stroke yang mengalami gangguan mobilitas fisik belum pernah mengetahui atau menerapkan terapi rentang gerak (ROM). Sejak bulan Juni 2023, kasus tersebut mengalami kenaikan sekitar 60%.
Signifikansi rentang gerak (ROM) sangat penting dalam pelaksanaan tindakan keperawatan untuk mengurangi cacat dan kelemahan otot ekstremitas pada pasien dengan gangguan mobilitas fisik akibat stroke. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk melakukan penelitian observasional dengan judul “Penerapan rentang gerak (ROM) pada gangguan mobilitas fisik yang berkaitan dengan penurunan kekuatan otot pada pasien stroke di RS Muhammadiyah Darul Istiqomah. ” Penerapan rentang gerak (ROM) pasif dan aktif pada pasien stroke yang mengalami kesulitan mobilitas sangat diminati oleh penulis untuk dieksplorasi lebih lanjut.
METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan adalah studi kasus. Peneliti fokus pada kasus pasien stroke yang mengalami kesulitan dalam bergerak secara fisik, dan kemudian menerapkan teknik ROM untuk menangani masalah mobilitas fisik yang terkait dengan berkurangnya kekuatan otot pada pasien stroke. Peneliti berencana untuk mengukur kekuatan otot responden sebelum dan setelah mereka menerima intervensi ROM, serta mengamati reaksi responden setelah intervensi tersebut, dan mencatat hasil dari penelitian ini. Responden terdiri dari pasien stroke dengan kelemahan pada ekstremitas serta yang mengalami stroke non-hemoragik. Instrumen penelitian melibatkan peneliti yang akan mengajarkan teknik ROM aktif dan pasif, formulir untuk mengamati tingkat kekuatan otot, dan evaluasi keperawatan berdasarkan metode SOAP.
Proses pengumpulan data dilakukan dengan melakukan studi pendahuluan dan memberikan asuhan keperawatan kepada pasien stroke sesuai dengan kriteria yang ditetapkan. Sebelum melakukan intervensi ROM, peneliti meminta izin kepada responden melalui informed consent. Penelitian ini dilaksanakan di RS Muhammadiyah Darul Istiqomah Kaliwungu Kendal, dan berlangsung pada bulan Juni 2023.
PEMBAHASAN
Pada bagian ini, dibahas isu keperawatan yang dihadapi oleh dua pasien yang mengalami masalah mobilitas fisik. Gangguan mobilitas fisik merujuk pada kemampuan seseorang untuk bergerak dengan bebas, gampang, dan teratur demi memenuhi kebutuhan aktivitasnya agar tetap menjaga kesehatannya.
Analisis menunjukkan bahwa penerapan terapi ROM berhasil meningkatkan kekuatan otot untuk menangani masalah mobilitas fisik pada kedua pasien, yaitu pasien I dan II, karena dengan pelaksanaan terapi ROM yang dilakukan selama tiga hari, terjadi peningkatan kekuatan otot. Sebelumnya, nilai kekuatan otot pasien berada pada angka 2, dan setelah tiga hari menjadi 4. Meskipun peningkatan kekuatan otot tidak menunjukkan perubahan yang signifikan setiap harinya, latihan secara bertahap dan waktu yang berlalu dapat memperkuat otot, sehingga pasien yang awalnya tidak dapat bergerak menjadi mampu bergerak sebagian. Studi kasus ini sejalan dengan teori bahwa terapi ROM adalah salah satu metode latihan yang efektif dalam proses rehabilitasi untuk mencegah terjadinya kecacatan pada pasien stroke.
Latihan ROM merupakan serangkaian gerakan yang dikerjakan pada sendi untuk meningkatkan kekuatan otot. Terapi ROM dapat diterapkan dengan aman pada kondisi pasien dan berdampak positif baik secara fisik. Latihan ringan seperti ROM memiliki beberapa manfaat, antara lain lebih mudah dipelajari dan diingat oleh pasien serta keluarganya, dan juga dapat dilakukan dengan biaya rendah, khususnya bagi penderita stroke.
Beberapa faktor yang dapat memengaruhi kekuatan otot termasuk aktivitas sehari-hari. Tingkat aktivitas harian dapat berpengaruh pada kekuatan otot, di mana orang yang aktif cenderung memiliki kekuatan otot yang lebih baik dibandingkan yang tidak aktif. Usia terkait secara negatif dengan kekuatan otot; yaitu semakin tua seseorang, baik laki-laki maupun perempuan, maka kekuatan ototnya akan berkurang. Kontraksi otot cenderung lebih kuat dan cepat jika suhu otot sedikit lebih tinggi dibandingkan suhu normal. Pola makan sehat juga berperan; aturlah asupan makanan untuk mendapatkan bahan-bahan yang kaya protein. Karbohidrat tidak harus dikesampingkan, karena selain membantu memperlancar metabolisme, makanan kaya protein dan rendah karbohidrat juga mampu memberikan rasa kenyang yang lebih lama, yang berpengaruh pada kekuatan otot.
Penerapan terapi ROM dijelaskan bahwa sebelum memulai, pasien harus disiapkan dengan nyaman. Kemudian, terapi dilanjutkan pada bagian tangan dengan melakukan gerakan fleksi, ekstensi, adduksi, merapatkan jari-jari, dan mendekatkan ibu jari ke telapak tangan. Ini bertujuan untuk aktifkan otot tangan dan jari-jari agar bisa kembali melakukan aktivitas. Selanjutnya, fokus berpindah ke kaki dengan gerakan fleksi, ekstensi, dan adduksi untuk mengaktifkan otot-otot kaki. Durasi pelaksanaan selama 15 menit terbukti efektif dalam meningkatkan otot untuk mengatasi hambatan dalam mobilitas fisik, dan hal ini didukung oleh penelitian bertajuk “Penerapan Range Of Motion (ROM) Pada Gangguan Mobilitas Fisik Berhubungan Dengan Penurunan Kekuatan Otot Pada Pasien Stroke,” yang menunjukkan adanya peningkatan kekuatan otot pada tangan dan kaki.
terjadi secara perlahan namun tidak mencolok.
Studi ini berkaitan dengan judul “Penerapan Rentang Gerak (ROM) pada Masalah Mobilitas Fisik Terkait Penurunan Kekuatan Otot pada Pasien Stroke. ” Latihan ROM pasif menunjukkan bahwa latihan tersebut berpengaruh pada rentang gerak sendi di anggota tubuh atas dan bawah pada pasien stroke. Latihan ROM pasif bisa menjadi pilihan untuk meningkatkan kekuatan otot. Hasil dari analisis menunjukkan bahwa ROM yang diterapkan pada pasien stroke dapat memperluas rentang gerak sendi, di mana selama latihan ROM, terjadi kontraksi dan relaksasi yang mengarah pada peregangan serabut otot serta peningkatan sirkulasi darah di area sendi yang mengalami kelumpuhan
sehingga ada penambahan rentang gerak abduksi dan adduksi di anggota tubuh atas dan bawah, khususnya di sendi-sendi besar.
KESIMPULAN
Peneliti merancang asuhan keperawatan yang mencakup penerapan terapi ROM (Rentang Gerak) untuk pasien stroke non-hemoragik yang mengalami masalah pada mobilitas fisik. Proses ini dilakukan melalui pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi selama tiga hari. Berdasarkan hasil pengkajian, terungkap bahwa sebagian ekstremitas pasien tidak dapat bergerak. Untuk meningkatkan kekuatan otot, langkah yang diambil adalah memberikan terapi ROM (Rentang Gerak) serta melakukan observasi sebelum dan sesudah terapi diberikan. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa kekuatan otot pada pasien I yang awalnya 2 meningkat menjadi 3 setelah intervensi, sementara pada pasien II, kekuatan otot yang sebelum intervensi juga 2 naik menjadi 4 setelah intervensi dilakukan. Dengan merujuk pada hasil penelitian yang dilakukan oleh TN. Y dan TN. E dari tanggal 19 hingga 25 Juni 2021, dapat disimpulkan bahwa terdapat keuntungan dan dampak positif dari penerapan intervensi ROM (Rentang Gerak) pada pasien stroke di RS Muhammadiyah Darul Istiqomah Kaliwungu Kendal.
