Scroll untuk baca artikel
Health

Kenali Apa Itu Skoliosis?

×

Kenali Apa Itu Skoliosis?

Sebarkan artikel ini
Kenali Apa Itu Skoliosis?

DEPOKPOS – Scoliosis adalah kelainan tulang belakang yang memengaruhi kurva alami kelengkungan tulang belakang sehingga kelengkungannya bisa mengarah ke samping atau berbentuk huruf S atau C. Skoliosis juga di lihat sebagai suatu penyimpangan tulang belakang di lateral dari garis tengah atau terjadi lengkungan yang abnormal pada vertebrata. Skoliosis juga ketidaksegarisan tulang belakang yaitu tulang belakang lebih condong melengkung ke arah lateral membentuk kurva, yang mengarah ke arah kanan ataupun kiri. Kelainan skoliosis ini sepintas akibat perubahan bentuk tulang belakang secara tiga dimensi, yaitu perubahan sturktur penyokong tulang belakang seperti jaringan lunak sekitarnya dan struktur lainnya.

Jenis jenis skoliosis

Berdasarkan penyebabnya, skoliosis terbagi menjadi beberapa jenis, berikut masing-masing penjelasannya:

1. Skoliosis Kongenital

Pada tipe ini, bayi sudah memiliki skoliosis saat dilahirkan. Umumnya, kondisi ini disebabkan oleh kelainan pertumbuhan tulang belakang semasa bayi dalam kandungan. Misalnya, ada beberapa bagian tulang belakang yang tidak terbentuk atau hanya terbentuk sebagian. Jenis skoliosis ini tergolong jarang ditemui.

2. Early Onset Scoliosis

Tipe skoliosis ini biasanya ditemukan pada anak-anak yang belum memasuki usia remaja, tepatnya di bawah usia 10 tahun.

Anak-anak dengan skoliosis early onset ini berisiko mengalami gangguan fungsi paru. Pada anak-anak, pertumbuhan tulang masih berlangsung, sehingga skoliosis berpotensi memburuk dan dapat menyebabkan cacat pada tulang rusuk. Kondisi ini dapat memengaruhi fungsi paru.

Penanganan skoliosis ini bisa menantang karena populasi tidak homogen, sering kali kompleks secara medis, dan terkadang membutuhkan beberapa tindakan operasi.

3. Adolescent Idiopathic Scoliosis

Ini merupakan jenis skoliosis yang paling banyak ditemukan, yaitu skoliosis pada usia 10-18 tahun. Kata “idiopathic” merujuk pada penyebab skoliosis yang belum diketahui. Meskipun dapat ditemukan pada laki-laki maupun perempuan, tetapi jenis skoliosis ini lebih banyak menyerang perempuan.

4. Skoliosis Degeneratif

Pada tipe ini, skoliosis terdiagnosis setelah dewasa (sering kali di atas usia 50 tahun). Penyebab terseringnya adalah proses penuaan, sehingga dapat menyebabkan skoliosis pada mereka yang sebelumnya memiliki tulang belakang normal, atau perburukan pada mereka yang sebelumnya sudah terdiagnosis memiliki skoliosis.

Proses penuaan dapat menyebabkan kerusakan pada sendi dan bantalan antar tulang pada tulang belakang. Kerusakan yang tidak serupa pada semua ruas tulang belakang dapat menyebabkannya menjadi melengkung ke samping.

5. Skoliosis Neuromuskuler

Skoliosis jenis ini disebabkan oleh berbagai masalah pada sistem saraf (termasuk otak dan sumsum tulang belakang) atau otot. Contohnya antara lain adalah lumpuh otak (cerebral palsy) dan distrofi otot Duchenne (Duchenne muscular dystrophy).

Sistem saraf dan otot diperlukan untuk menyokong tulang belakang. Jadi, bila terjadi gangguan pada sistem tersebut, skoliosis dapat terjadi.

Kondisi skoliosis umumnya dapat berkembang memburuk, terutama pada orang-orang yang tidak mampu berjalan.

6. Syndromic Scoliosis

Kondisi ini merupakan skoliosis yang muncul sebagai akibat dari sindrom tertentu (kumpulan gejala yang muncul secara bersamaan). Umumnya, mereka yang terkena sindrom ini (yang kerap berhubungan dengan masalah pada jaringan ikat tubuh) sudah diketahui berisiko mengalami skoliosis, sehingga sering kali dilakukan deteksi dini.

Sindrom yang dimaksud di antaranya adalah: sindrom Marfan, sindrom Ehlers-Danlos, sindrom Down, sindrom Prader-Willi, sindrom Rett, dan sindrom Beale.

7. Kifosis Scheuermann

Kifosis adalah kelainan tulang belakang ketika terjadi lengkungan abnormal ke arah depan (membungkuk). Kondisi ini disebabkan oleh perbedaan laju pertumbuhan antara bagian depan dan belakang dari tulang belakang semasa anak-anak, yang mana bagian depan tumbuh lebih lambat. Akibatnya, terjadi kelainan bentuk tulang belakang yang menyebabkannya tidak dapat tertumpuk dengan rapi, sehingga melengkung ke depan.

Gejala skoliosis

Gejala skoliosis berbeda-beda, tergantung dari tingkat keparahan kondisinya. Namun secara umum, beberapa gejala yang ditimbulkan oleh kondisi skoliosis adalah:

Tubuh penderita cenderung condong ke satu sisi.
Nyeri punggung.
Mengalami ketegangan otot.
Kaku pada punggung.
Tulang belakang terlihat melengkung.
Tulang belikat tampak menonjol di salah satu sisi.
Tinggi pinggang tidak sama.
Salah satu kaki lebih panjang saat berdiri tegak.
Bahu miring.
Salah satu pinggul lebih menonjol daripada sisi lainnya.

Apabila derajat lengkungan skoliosis sudah cukup parah, penderita biasanya akan merasa tidak nyaman pada punggung. Selain itu, kondisi ini dapat menyebabkan perputaran tulang belakang yang dapat membuat derajat lengkungan semakin parah, bahkan salah satu sisi tulang rusuk atau otot menjadi menonjol.

Diagnosis skoliosis

Diagnosis skoliosis dimulai dengan melakukan anamnesis (wawancara medis) untuk mengetahui keluhan serta riwayat kesehatan pasien secara keseluruhan. Kemudian, dilanjutkan dengan melakukan pemeriksaan fisik, meliputi pemeriksaan pada area tulang belakang, bahu, tulang rusuk, serta pinggul. Pemeriksaan ini bertujuan untuk melihat dan menilai derajat lengkungan abnormal atau tonjolan di area tersebut.

Kemudian, beberapa pemeriksaan penunjang yang biasanya dilakukan untuk membantu menegakkan diagnosis skoliosis adalah:

Foto rontgen, untuk mendapatkan gambaran tulang belakang menggunakan sinar X.
CT scan, untuk melihat kondisi kerangka tulang dalam bentuk gambar 3D.
MRI, untuk mendapatkan gambaran tulang belakang beserta jaringan di sekitarnya dengan lebih detail.

Tingkat keparahan skoliosis dinilai dari derajat kelengkungan tulang belakang (cobb angle) sebagai berikut:

0–10 derajat: Belum didiagnosis sebagai skoliosis, namun memerlukan pengawasan apabila terdapat faktor risiko.
10–25 derajat: Skoliosis ringan (mild scoliosis).
25–40 derajat: Skoliosis sedang (moderate scoliosis).
40–60 derajat: Skoliosis berat (severe scoliosis).

Penyebab skoliosis

Skoliosis tidak disebabkan oleh kebiasaan membawa barang berat (seperti menyelempangkan tas sekolah di salah satu sisi bahu), olahraga atau aktivitas fisik, postur yang buruk saat berdiri atau tidur, maupun pola makan dengan kalsium rendah.

Penyebab skoliosis idiopatik belum diketahui, dan mungkin diakibatkan oleh predisposisi genetik. Biasanya skoliosis idiopatik terjadi pada usia muda. Jenis skoliosis ini cenderung lebih umum terjadi pada anak perempuan. Namun, jika diderita oleh anak laki-laki, kondisinya bisa lebih parah.

Skoliosis degeneratif disebabkan oleh degenerasi tulang belakang asimetris. Kondisi ini dapat terjadi pada pasien skoliosis idiopatik sejak usia muda, atau seiring bertambahnya usia.

Nama: Rizqiah Mardhatillah Arsyad Riadi
Prodi: Fisioterapi
Matkul: Bahasa Indonesia
Universitas Binawan