Scroll untuk baca artikel
Health

Efektivitas Fisioterapi Tingkatkan Gerak Sendi pada Pasien Frozen Shoulder

×

Efektivitas Fisioterapi Tingkatkan Gerak Sendi pada Pasien Frozen Shoulder

Sebarkan artikel ini

Oleh Azizah Maulidina, Program Studi Fisioterapi, Fakultas ilmu Kesehatan Dan Teknologi, Universitas Binawan.

DEPOKPOS – Frozen shoulder merupakan kondisi musculoskeletal yang ditandai oleh kekakuan kapsul sendi dan nyeri bahu yang membatasi lingkup gerak sendi. Salah satu metode fisioterapi yang umum digunakan adalah mobilisasi sendi (joint mobilization). Tujuan penulisan ini adalah untuk mengevaluasi efektivitas mobilisasi sendi dalam meningkatkan lingkup gerak sendi pada pasien frozen shoulder. Metode yang digunakan adalah tinjauan literature dari berbagai uji klinis yang meneliti tentang mobilisasi sendi terhadap ROM, nyeri, dan fungsi bahu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mobilisasi sendi secara signifikan meningkatkan ROM aktif dan pasif pada fleksi, abduksi, dan rotasi bahu, serta menurunkan rasa nyeri.
Kata Kunci: Frozen Shoulder, Mobilisasi Sendi, Fisioterapi

Frozen shoulder merupakan kelainan musculoskeletal pada sendi bahu yang sering dijumpai dalam praktik klinis ortopedi dan kerap menimbulkan tantangan dalam penatalaksanaan medis. Kondisi ini dicirikan oleh keterbatasan signifikan pada lingkup gerak sendiri gleohumeral, baik secara aktif maupun pasif yang muncul bersamaan dengan keluhan nyeri. Secara epidemiologis, angka kejadian frozen shoulder berada pada kisaran 2%-5% populasi dan menunjukan prevalensi yang lebi tinggi pada kelompok perempuan. Perubahan pola hidup modern serta meningkatnya angka komorbiditas diyakini berkontribusi terhadap peningkatan insidensi kondisi ini. Meski telah banyak diteliti, mekanisme biologis yang mendasari terjadinya frozen shoulder masih belum sepenuhnya terjelaskan dan memerlukan eksplorasi ilmiah lebih lanjut.

Frozen shoulder diklasifikasikan menjadi tiga tahapan utama, yaitu fase inflamasi yang ditandai dengan nyeri bahu disertai penurunan lingkup gerak secara bertahap, fase kekakuan dengan stabilisasi keterbatasan ROM aktif dan pasif, serta fase resolusi yang ditandai oleh perbaikan fungsi gerak secara progresif hingga gejala berangsur menghilang (Dirgantari, 2023).

Frozen shoulder atau yang lebih dikenal secara klinis sebagai kondisi Adhesive Capsulitis, merupakan kondisi patologis bahu yang berkembang secara perlahan dan ditandai oleh kombinasi nyeri dan kekakuan sendiri. Istilah frozen shoulder secara spesifik digunakan untuk menggambarkan kondisi dengan progresivitas gejala yang berlangsung dalam rentang waktu yang relative panjang, umumnya sekitar 18 bulan. Konsep mengenai gangguan ini pertama kali diperkenalkan oleh Simon-Emmanuel Duplay pada tahun 1872 dengan istilah Periartrisis Glenohumeral, yang kemudian menjadi pemahaman modern bagi patologi bahu tersebut (Gasibat, et al., 2023).

Penatalaksanaan frozen shoulder secara umum meliputi terapi farmakologis, injeksi intraartkular, serta tindakan nonfarmakologis seperti fisioterapi. Fisioterapi menjadi pilihan utama karena bersifat noninvasive dan berfokus pada pemulihan fungsi sendi melalui latihan terapeutik, mobilisasi sendi, dan pengendalian nyeri. Intervensi fisioterapi mampu memperbaiki fleksibilitas kapsul sendi serta meningkatkan koordinasi neuromuscular pada bahu (Wang, et al., 2023).

Pada praktik klinis, salah satu teknik fisioterapi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan mobilitas sendi bahu adalah mobilisasi sendi. Tujuannya adalah untuk mengurangi adhesi, meningkatkan fleksibilitas jaringan lunak, dan mengembalikan lingkungan gerak normal sendi. Meskipun metode ini banyak digunakan, efektivitas spesifik sendi dalam meningkatkan ROM masih menjadi fokus penelitian (Rahbar, et al., 2022).

Meskipun fisioterapi banyak digunakan dalam praktis klinis, masih terdapat variasi hasil penelitian terkait efektivitas jenis intervensi yang diterapkan. Oleh sebab itu, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah seberapa efektif mobilisasi sendi dalam meningkatkan lingkup gerak sendi pada pasien frozen shoulder? Sehingga tujuan dari penulisan ini adalah untuk menganalisis efektivitas mobilitasasi sendi terhadap ROM dan nyeri pada pasien dengan kondisi tersebut.

Artikel ini menggunakan metode kajian literature dengan menelaah penelitian terdahulu yang mengkaji tentang efek mobilisasi sendi pada pasien frozen shoulder. Subjek dari penelitian ini adalah pasien dewasa yang memiliki keterbatasan ROM aktif dan pasif akibat frozen shoulder idiopatik maupun sekunder.

Teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan menelusuri data buku, artikel, maupun jurnal fisioterapi terbuka. Artikel yang disertakan mencakup uji klinis secara acak dan tinjauan sistematis menilai perubahan ROM, pengurangan nyeri, dan peningkatan fungsi bahu sebelum dan sesudah intervensi mobilisasi sendi menggunakan alat ukur yang valid (Rahbar, et al., 2022).

Hasil penelitian menunjukkan bahwa mobilisasi sendi memberikan peningkatan lingkup gerak yang signifikan pada pasien frozen shoulder. ROM pada refleksi, abduksi, dan rotasi eksternal meningkat baik secara aktif maupun pasif setelah intervensi. Hal ini sebagaimana yang dikemukan pada penelitian Gupta, Vats, & Ramprabhu (2024) yang menunjukkan bahwa peningkatan ROM abduksi rata-rata 20-30% setelah 4-6 minggu program mobilisasi teratur.

Selain peningkatan ROM, nyeri pada pasien juga menurun secara bermakna. Hal ini dapat terlihat dari skor Visual Analog Scale (VAS) yang menurun setelah beberapa sesi mobilisasi sendi, menunjukkan bahwa mobilisasi dapat mengurangi ketegangan kapsul dan meningkatkan kenyamanan pasien selama gerakan (Rahbar, et al., 2022).

Mobilisasi sendi efektif meningkatkan lingkup gerak pada pasien frozen shoulder karena gerakan pasif terkontrol membantu meregangkan kapsul sendi yang kaku dan mengurangi adhesi. Hal ini sejalan dengan prinsip biomekanik yang menyatakan bahwa gerakan berulang dan terkontrol dapat memulihkan elastisitas jaringan lunak dan memperbaiki fleksibilitas sendi (Gupta, Vats. & Ramprabhu, 2024).

Penurunan nyeri yang terjadi setelah mobilisasi sendi kemungkinan disebabkan oleh stimulasi reseptor sendi yang mengurangi reflex spastik pada otot bahu dan meningkatkan toleransi terhadpa gerakan. Efek analgesic ini mendukung pemulihan fungsi sendi (Rahbar, et al., 2022).

Mobilisasi sendi dibandingkan dengan latihan aktif murni menunjukkan peningkatan ROM yang lebih cepat pada fase awal frozen shoulder, sehingga metode ini direkomendasikan sebagai intervensi utama sebelum fase pemulihan aktif penuh dimulai.

Mobilisasi sendi terbukti efektif dalam meningkatkan lingkup gerak sendi dan mengurangi nyeri pada pasien frozen shoulder. Intervensi ini meningkatkan ROM fleksi, abduksi, dan rotasi, serta berkontrubusi pada pemulihan fungsi sehari-hari. Konsistensi dan frekuensi terapi merupakan faktor penting dalam keberhasilan mobilisasi sendi sebagai metode fisioterapi utama.