Scroll untuk baca artikel
Health

Aspek Biomekanik dan Klinis Iliotibial Band Syndrome dalam Fisioterapi

×

Aspek Biomekanik dan Klinis Iliotibial Band Syndrome dalam Fisioterapi

Sebarkan artikel ini

Oleh Muhammad Yusuf Rafif, mahasiswa D4 Fisioterapi, Fakultas Ilmu Kesehatan dan Teknologi Universitas Binawan

DEPOKPOS – Iliotibial Band Syndrome (ITBS) merupakan cedera overuse yang paling sering dialami oleh pelari dengan prevalensi mencapai 54,5% dari semua cedera olahraga ekstremitas bawah. Kondisi ini ditandai dengan nyeri pada sisi lateral lutut yang dapat mengganggu performa atlet dan aktivitas fungsional sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis aspek biomekanik dan klinis ITBS serta mengevaluasi pendekatan penatalaksanaan fisioterapi yang berbasis bukti ilmiah untuk mengoptimalkan pemulihan pasien. Metode penelitian menggunakan systematic literature review dengan menganalisis 10 jurnal ilmiah berbahasa Indonesia dari tahun 2020-2025 yang fokus pada penatalaksanaan fisioterapi ITBS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penatalaksanaan fisioterapi yang komprehensif meliputi kombinasi modalitas terapi, terapi latihan khusus untuk penguatan otot hip abductor, stretching, dan myofascial release terbukti efektif dalam menurunkan nyeri, meningkatkan rentang gerak sendi, dan mengembalikan kemampuan fungsional pasien. Kesimpulannya adalah pendekatan fisioterapi yang mengintegrasikan terapi manual, modalitas fisik, dan program latihan berbasis biomekanik merupakan standar emas dalam penatalaksanaan ITBS dengan hasil optimal untuk jangka panjang.

Iliotibial Band Syndrome (ITBS) merupakan salah satu cedera overuse yang paling umum terjadi pada pelari dengan prevalensi mencapai 54,5% di antara komunitas pelari, yang memengaruhi kemampuan mereka untuk terus melakukan aktivitas olahraga (L. Ade Sintia Devi et al., 2022) Kondisi ini terjadi akibat iritasi pada iliotibial band, struktur jaringan fibrosa yang memanjang dari hip lateral menuju tibia lateral dan berinsersio pada tuberkulum Gerdy pada tibia proksimal. ITB S ditandai dengan nyeri pada sisi lateral lutut yang berkembang secara bertahap dan dapat membatasi aktivitas fungsional baik pada atlet maupun pada populasi umum yang melakukan aktivitas fisik berulang. Romadhona et al. (2025), menjelaskan bahwa iliotibial band syndrome terjadi ketika terjadi gesekan berulang antara iliotibial band dan lateral femoral epicondylus pada gerakan fleksi 30° dan ekstensi lutut, yang menyebabkan peradangan pada area kontak.

Patofisiologi ITBS melibatkan kombinasi faktor intrinsik dan ekstrinsik yang saling berinteraksi. Putri & Rahman (2024), menjabarkan bahwa faktor risiko yang dapat menyebabkan ITBS mencakup berlari di permukaan bukit, aktivitas bersepeda intensif, kesalahan dalam pemilihan alas kaki, teknik latihan yang salah, dan perubahan intensitas latihan yang tiba-tiba. Analisis biomekanik pada pasien ITBS menunjukkan adanya kelemahan otot hip abductor, terutama gluteus medius, yang mengakibatkan kontrol dinamis pada panggul menjadi berkurang dan menyebabkan peningkatan hip adduction dan internal rotation. Kumarantini, Dukomalamo & Wibowo (2019), dalam penelitian cross-sectional mereka menemukan bahwa Q-angle, parameter kunci dalam menilai alignment lutut, memiliki hubungan signifikan dengan risiko ITBS pada pelari di Denpasar, dengan prevalensi ITBS sebesar 34,3% pada pelari dengan knee alignment abnormal.

Penatalaksanaan ITBS memerlukan pendekatan holistik yang mempertimbangkan aspek biomekanik, fungsi otot, fleksibilitas miofasial, dan pola gerakan fungsional. Mahasih et al. (2023), dalam penelitian quasi experimental mereka membandingkan efektivitas self myofascial release dengan latihan penguatan, menemukan bahwa keduanya efektif dalam menurunkan nyeri pada ITBS tetapi dengan mekanisme yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara komprehensif aspek biomekanik dan klinis ITBS serta menggambarkan strategi penatalaksanaan fisioterapi berbasis bukti yang dapat dicapai untuk mengoptimalkan hasil rehabilitasi pasien.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan metode systematic literature review untuk menganalisis jurnal-jurnal ilmiah berbahasa Indonesia yang membahas penatalaksanaan fisioterapi pada iliotibial band syndrome. Pencarian literatur dilakukan melalui database Google Scholar, portal jurnal elektronik Indonesia, dan repository universitas dengan kata kunci utama meliputi: iliotibial band syndrome, ITBS, fisioterapi ITBS, penatalaksanaan biomekanik ITBS, dan rehabilitasi pelari cedera lutut lateral.

Kriteria inklusi yang digunakan dalam penelitian ini mencakup: (1) jurnal asli (original articles) berbahasa Indonesia yang tersedia dalam format full text atau dapat diakses; (2) artikel membahas secara spesifik tentang iliotibial band syndrome atau penatalaksanaan fisioterapi pada cedera lateral knee; (3) artikel mengandung data empiris dari penelitian klinis atau case study; (4) periode publikasi 2020-2025 untuk memastikan relevansi dengan praktik klinis terkini dan perkembangan evidence-based practice. Data yang dikumpulkan meliputi karakteristik metodologi penelitian, intervensi fisioterapi yang digunakan, hasil terukur seperti pengurangan nyeri, peningkatan rentang gerak sendi dan aktivitas fungsional, serta rekomendasi klinis untuk penatalaksanaan ITBS.

Analisis data dilakukan secara naratif dengan mensintesis temuan dari 10 jurnal terpilih untuk mengidentifikasi pola penatalaksanaan yang konsisten dan efektif. Fokus analisis diarahkan pada tiga aspek utama: (1) pemahaman tentang aspek biomekanik dan faktor risiko ITBS; (2) pendekatan klinis dalam diagnosis dan evaluasi pasien ITBS; (3) strategi penatalaksanaan fisioterapi yang mencakup modalitas terapi, program terapi latihan, teknik manual therapy, dan intervensi edukasi pasien untuk mencapai pemulihan yang optimal.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Aspek Biomekanik dan Faktor Risiko ITBS

Pemahaman mendalam tentang aspek biomekanik ITBS sangat penting untuk merancang program penatalaksanaan fisioterapi yang efektif. Malfira & Reza Hilmy (2017), melakukan penelitian cross-sectional melibatkan 99 pelari berusia 30-45 tahun dan menemukan bahwa knee alignment, khususnya Q-angle, memiliki hubungan signifikan dengan risiko ITBS (p=0,001) dengan korelasi moderat (r=0,369). Penelitian ini menunjukkan bahwa pelari dengan genu varus dan genu valgus memiliki prevalensi ITBS yang lebih tinggi, menekankan pentingnya analisis alignment sendi dalam evaluasi ITBS. Mekanisme terjadinya ITBS melibatkan gesekan berulang antara iliotibial band dan lateral femoral epicondylus pada area impingement yang terjadi pada rentang fleksi 20-30° lutut, terutama saat aktivitas lari intensif atau perubahan arah gerakan yang mendadak (Kumarantini et al., 2025).

Faktor-faktor intrinsik yang berkontribusi pada perkembangan ITBS meliputi kelemahan otot hip abductor, keterbatasan fleksibilitas pada otot hip flexor, tensor fasciae latae, dan piriformis, serta abnormalitas foot mechanics seperti pronasi berlebihan. Nurochman dan Nurochman & Santoso (2023), dalam studi kasus mereka pada lima mahasiswa fisioterapi dengan ITBS, menunjukkan bahwa semua pasien menunjukkan kelemahanpada hip abductor dan tingkat kekuatan otot yang berkurang pada region panggul. Faktor ekstrinsik mencakup volume latihan yang berlebihan tanpa periode pemulihan yang cukup, perubahan tiba-tiba pada intensitas atau durasi aktivitas, penggunaan alas kaki yang tidak sesuai dengan biomechanics individual, dan permukaan latihan yang tidak ideal (Purnomo et al., 2023). Dalam case report bahwa semua pasien dengan ITBS yang diteliti memiliki riwayat perubahan aktivitas atau peningkatan volume latihan sebelum onset gejala, menekankan pentingnya manajemen beban aktivitas yang progresif dalam pencegahan ITBS.

Penatalaksanaan Fisioterapi ITBS

Modalitas Terapi dan Manajemen Nyeri

Penatalaksanaan ITBS dimulai dengan manajemen nyeri dan peradangan melalui berbagai modalitas terapi fisik yang telah terbukti efektif secara klinis. Hutchinson et al. (2022), menerapkan infra red (IR) sebagai modalitas utama dalam mengatasi nyeri dan peradangan pada ITBS, dengan hasil menunjukkan peningkatan significant dalam rentang gerak sendi lutut dari 30° abduksi/5° adduksi pada baseline menjadi 45° abduksi/15° adduksi setelah 12 sesi intervensi selama 4 minggu. Marthaulina et al. (2021), dalam laporan kasus mereka menggunakan kombinasi Low Level Laser Therapy (LLLT), stretching exercise, dan kinesio taping dalam penatalaksanaan ITBS dextra dengan hasil menunjukkan penurunan nyeri yang signifikan dan peningkatan kemampuan fungsional pasien.

Terapi Latihan Spesifik dan Manual Therapy

Program terapi latihan yang spesifik dirancang untuk mengatasi kelemahan otot hip abductor melalui penguatan progressive exercise yang ditargetkan pada gluteus medius, gluteus maximus, dan tensor fasciae latae. Mengimplementasikan IASTM (Instrument Assisted Soft Tissue Mobilization), TENS model akupunktur, dan program latihan fungsional selama 12 sesi dalam enam minggu, menghasilkan penurunan nyeri yang signifikan dari baseline nyeri diam 3/10 menjadi 0/10 pada follow up ketiga, serta peningkatan kekuatan otot hip dari 4 menjadi 5 pada manual muscle testing, dan peningkatan ROM hip fleksi dari 140° menjadi 175° (Nurochman & Santoso, 2023).

Putri & Rahman (2024) dalam penelitian mereka mengimplementasikan protokol manual terapi yang komprehensif meliputi stretching otot gastrocnemius, traksi pada sendi ankle, reposisi pada tulang fibula, stretching otot quadriceps, dan gerakan fisiologis lutut berupa fleksi dan ekstensi. Setelah empat sesi manual terapi selama dua minggu diikuti dua kali follow up, semua lima pasien menunjukkan resolusi complete dari gejala dengan NRS turun menjadi 0/10 pada semua pasien, peningkatan rentang gerak sendi fleksi lutut aktif mencapai 135° (normal range), dan peningkatan aktivitas fungsional dengan FADI score meningkat mendekati 100, menunjukkan recovery complete pada aktivitas sehari-hari.

Edukasi Pasien dan Manajemen Aktivitas Jangka Panjang

Edukasi pasien merupakan pilar penting dalam kesuksesan penatalaksanaan jangka panjang ITBS dan pencegahan kekambuhan. Program edukasi mencakup pemahaman tentang patofisiologi ITBS, identifikasi trigger activities, prinsip load management dengan peningkatan volume aktivitas tidak lebih dari 10% per minggu, dan protokol warm-up serta cool-down yang adekuat (Kumarantini et al., 2025). Romadhona et al. (2025), dalam laporan kasus mereka menekankan pentingnya edukasi pasien tentang modified return-to-activity protocol, penguatan rumahan yang konsisten, dan identifikasi early warning signs seperti peningkatan nyeri atau swelling yang memerlukan penyesuaian program aktivitas. Instruksi home exercise program yang terstruktur dengan petunjuk visual memastikan kontinuitas penatalaksanaan di luar setting klinis dan meningkatkan adherence pasien terhadap rekomendasi fisioterapis untuk mencapai hasil optimal jangka panjang (Mahasih et al., 2023).

Iliotibial Band Syndrome merupakan cedera kompleks yang memerlukan pendekatan penatalaksanaan fisioterapi yang terintegrasi, menggabungkan pemahaman aspek biomekanik, evaluasi klinis yang komprehensif, dan implementasi program intervensi berbasis bukti ilmiah. Analisis terhadap sepuluh jurnal ilmiah berbahasa Indonesia menunjukkan bahwa pendekatan fisioterapi yang menggabungkan modalitas terapi fisik seperti infra red dan shock wave therapy, teknik manual therapy berupa stretching dan soft tissue mobilization, program terapi latihan spesifik untuk penguatan otot hip abductor dan core stability, serta edukasi pasien tentang manajemen aktivitas terbukti efektif dalam menurunkan nyeri, meningkatkan rentang gerak sendi, dan mengembalikan kemampuan fungsional pasien. Intervensi yang disesuaikan dengan karakteristik individual pasien dan faktor-faktor spesifik yang berkontribusi pada perkembangan ITBS menghasilkan outcomes yang optimal, dengan pasien mampu kembali ke aktivitas fungsional dan olahraga tanpa keterbatasan.