Scroll untuk baca artikel
Health

Analisis Fisioterapi pada Cedera Sprain: Mekanisme, Faktor Resiko dan Pengaruh Durasi Kerja terhadap Stabilitas Muskuloskeletal

×

Analisis Fisioterapi pada Cedera Sprain: Mekanisme, Faktor Resiko dan Pengaruh Durasi Kerja terhadap Stabilitas Muskuloskeletal

Sebarkan artikel ini
Analisis Fisioterapi pada Cedera Sprain: Mekanisme, Faktor Resiko dan Pengaruh Durasi Kerja terhadap Stabilitas Muskuloskeletal

Oleh Juniar Priwindra Yanti, mahasiswa D4 Fisioterapi di Universitas Binawan

Sprain atau keseleo adalah cedera pada ligament, yaitu jaringan ikat kenyal yang menghubungkan antar tulang dan berfungsi sebagai stabilitator sendi. Jenis sprain yang paling umum di temukan dalam praktik klinis adalah lateral ankle sprain (keseleo pergelangan kaki luar). Cedera ini terjadi ketika sendi di paksa bergerak melampaui rentang gerak normalnya (ROM), yang mengakibatkan peregangan atau robekan pada serat ligamen.

Dalam dunia fisioterapi, penanganan sprain telah bergeser dari sekadar istirahat total mejadi mobilisasi dini yang terkontrol. Tantangan utama dari cedera ini bukanlah nyeri akutnya, melainkan risiko terjadinya Instabilitas Pergelangan Kaki Kronis (CAI), di mana pasien mengalami keseleo berulang akibat kegagalan fungsi proprioseptif (sensor posisi tubuh).

METODE PENELITIAN

Artikel ini disusun menggunakan metode studi literatur deskriptif. Data yang digunakan diambil dari beberapa basis data medis seperti PubMed, PEDro, dan Google Scholar. Kata kunci yang digunakan dalam pencarian adalah “fisioterapi”, “keseleo pergelangan kaki”, “kinerja otot”, dan “kelelahan kerja”. Penulis fokus pada hubungan antara protokol rehabilitasi klinis dengan faktor ergonomi lingkungan kerja untuk mengetahui keterkaitan atara kelelahan fisik dan resiko mengalami cedera.

ANATOMI DAN KLASIFIKASI CEDERA

Berdasarkan tingkat keparahannya, fisioterapi membagi cedera keseleo menjadi tiga tingkat:

1.Tingkat 1 (Ringan): Terjadi peregangan kecil pada ligament, tanpa menyebabkan ketidakstabilan pergelangan kaki.
2.Tingkat II (Sedang): Ligamen terobek sebagian, disertai dengan pembengkakan dan nyeri yang cukup menganggu.
3.Tingkat III (Berat): Ligamen terobek sepenuhnya, menyebabkan pergelangan kaki menjadi tidak stabil.

FAKTOR RISIKO TERJADINYA SPRAIN

Faktor risiko mengalami keseleo bersifat kompleks dan dapat menjadi dua bagian:

A.Faktor Intrinsik (Internal)

Riwayat Cedera: Faktor risiko tunggal terbesar adalah pernah mengalami keseleo sebelumnya yang tidak direhabilitasi dengan sempurna.
Kelemahan Otot Evertor: Otot di bagian luar betis yang lemah tidak mampu melindungi pergelangan kaki saat terjadi tiba-tiba.
Defisit Proprioseptif: Gangguan pada saraf sensorik yang menyebabkan kesulitan mengenali posisi pergelanga kaki.

B.Faktor Ekstrinsik (Eksternal)

Lingkungan Aktivitas: Permukaan yang tidak rata atau licin.
Jenis Sepatu: Penggunaan sepatu yang tidak mendukung kestabilan lengkung kaki atau sepatu dengan hak tinggi.

PENANGANAN FISIOTERAPI MODERn

Menggunakan pendekatan bertahap untuk memastikan pemulihan fungsional:
Fase Awal (0-72 jam): Menggunakan cara POLICE (Protect, Optimal Loading, Ice, Compression, Elevation). Lebih baik memberi beban sedikit-sedikit (Optimal Loading) dibandimgkan tidak bergerak sama sekali, agar proses sembuh jaringan bisa lebih cepat.
Fase Sub-Akut: Memberi perawatan tangan untuk membuat sendi lebih fleksibel dan Latihan otot pergelangan kaki untuk memperkuat bagian itu.
Fase Fungsional: Latihan keseimbangan dengan menggunakan alat balance board agar jalur sensitif dalam tubuh bisa kembali bekerja, sehingga cedera tidak terulang lagi.

Cedera keseleo bukan hanya luka kecil yang bisa sembuh hanya dengan dipijat atau istirahat saja. Perlu ada perawatan fisioterapi secara teratur agar fungsi penstabil sendi bisa kembali normal.Ada hubungan antara lama bekerja dan resiko cedera, kelelahan badan karena bekerja terlalu lama bisa melemahkan otot, sehingga ligamen lebih rentan terkena kerusakan. Karena itu, pengelolaan waktu kerja dan latihan otot secara mandiri di tempat kerja sangat penting untuk mencegah cedera terjadi kembali.