Artikel

Seni Rasa Syukur Keluarga Pak Iwan menjadi Harmoni di Sudut Dramaga

×

Seni Rasa Syukur Keluarga Pak Iwan menjadi Harmoni di Sudut Dramaga

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Di tengah hiruk-pikuk kawasan Dramaga, Bogor, yang padat dan dinamis, terdapat sebuah potret kehidupan yang mungkin terdengar klise namun menyimpan kekuatan luar biasa: sebuah keluarga dengan ayah sebagai pencari nafkah tunggal (single earner) dan ibu sebagai pengelola rumah tangga. Di era modern, di mana keluarga dengan pendapatan ganda (dual earner) sering dianggap sebagai solusi mutlak untuk bertahan hidup, keluarga Bapak Iwan (55) dan Ibu Yeni (46) menawarkan perspektif lain. Mereka membuktikan bahwa stabilitas bukan hanya tentang seberapa besar angka yang masuk ke rekening, melainkan seberapa bijak kita mengelola apa yang ada.

Kisah mereka bukanlah cerita tentang kemewahan, melainkan narasi tentang ketahanan, strategi, dan cinta yang dibangun di atas fondasi manajemen keluarga yang solid.

Sang Nahkoda dan Juru Mudi

Pak Iwan bukanlah pekerja kantoran yang duduk di balik meja ber-AC dari pukul sembilan hingga lima. Di usianya yang menginjak 55 tahun, ia adalah definisi pekerja keras sejati. Berbekal gelar Sarjana (S1), sebuah fakta yang menunjukkan betapa tingginya apresiasi keluarga ini terhadap pendidikan, Pak Iwan tidak gengsi untuk banting tulang di sektor informal. Ia berdagang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, namun ia juga memiliki senjata cadangan: keahlian mengelas dan keterampilan bangunan. Ketika perdagangan sedang sepi, percikan api las dan pekerjaan konstruksi menjadi penopang tambahan.

I

Sementara itu, Ibu Yeni (46) memegang kendali di rumah. Dalam istilah manajemen, jika Pak Iwan adalah Menteri Luar Negeri yang mengamankan sumber daya, maka Ibu Yeni adalah Menteri Dalam Negeri sekaligus Menteri Keuangan. Meski statusnya tidak bekerja di sektor publik, perannya jauh dari kata pasif. Ia memastikan setiap rupiah yang dibawa pulang Pak Iwan dikelola dengan presisi, memastikan rumah tetap layak huni, dan anak-anak terurus dengan baik.

Keluarga ini dikeruniai tiga orang anak dengan rentang usia yang cukup jauh, yang menandakan tantangan pengasuhan yang berbeda-beda. Si sulung (25) sudah mulai mandiri dengan profesi sebagai pengajar, anak tengah (19) sedang berjuang di bangku kuliah, dan si bungsu (9) masih duduk di Sekolah Dasar. Dinamika usia ini menuntut manajemen pola asuh yang adaptif, dari membimbing anak dewasa hingga mendampingi anak yang baru mengenal dunia.

Demokrasi di Meja Makan

Salah satu temuan paling menarik dari keluarga ini adalah bagaimana mereka mengambil keputusan. Dalam budaya patriarki tradisional, sering kali ayah menjadi pemegang kuasa mutlak. Namun, di rumah Pak Iwan, musyawarah adalah rajanya.

Ibu Yeni memang memegang mandat sebagai pengambil keputusan harian terutama soal menu makanan atau kebutuhan rumah tangga, namun keputusan besar selalu dibawa ke meja perundingan. Tidak ada diktator di sini. Ketika ada masalah, atau ketika ada kebutuhan mendesak, mereka duduk bersama. Uniknya, suara anak-anak pun didengar. Transparansi ini menciptakan sense of belonging yang kuat. Anak-anak tahu kondisi ekonomi orang tua mereka, bukan untuk membuat mereka cemas, tetapi untuk membangun empati dan pengertian.

Pembagian tugas domestik pun dilakukan dengan prinsip gotong royong, bukan paksaan. Anak-anak yang sudah besar memahami peran mereka. Membersihkan rumah atau membantu Ibu bukan lagi sekadar perintah, melainkan kesadaran bahwa kapal ini harus dijaga bersama agar tetap berlayar.

Alkemis Keuangan: Mengubah Jutaan Menjadi Cukup

Mengelola pendapatan rata-rata 3 hingga 4 juta rupiah per bulan untuk menghidupi lima orang dewasa dan anak-anak di wilayah penyangga kota adalah sebuah tantangan matematika yang rumit. Di sinilah letak kejeniusan manajemen Ibu Yeni.

Tanpa aplikasi keuangan canggih atau pembukuan akuntansi yang rumit, keluarga ini memiliki prioritas Harga Mati: Pangan, Listrik, dan Pendidikan.

Strategi mereka sederhana namun disiplin. Keinginan diletakkan di kursi belakang, sementara kebutuhan duduk di depan. Mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki kemewahan untuk bersikap impulsif. Uniknya, di tengah keterbatasan itu, mereka tetap memiliki pos dana darurat. Meski tidak besar dan tidak selalu rutin, kebiasaan menyisihkan uang untuk kejadian tak terduga seperti sakit atau kebutuhan mendadak adalah bukti literasi keuangan yang mumpuni.

Mereka menerapkan gaya hidup yang realistis. Jika tidak mampu membeli sesuatu hari ini, mereka tidak memaksakan diri berutang demi gengsi. Mereka memilih untuk menunggu atau mencari alternatif. Ini adalah bentuk ketahanan finansial yang sesungguhnya.

Investasi Terbesar: Pendidikan

Jika ada satu hal yang membuat Pak Iwan dan Ibu Yeni rela mengorbankan segalanya, itu adalah pendidikan anak-anak. Latar belakang Pak Iwan sebagai seorang sarjana tampaknya menanamkan visi yang kuat: Anak-anak harus lebih baik dari orang tuanya.

Ilustrasi. Sumber: CNN Indonesia

Fakta bahwa anak pertama mereka telah menjadi pengajar dan anak kedua sedang menempuh kuliah adalah bukti keberhasilan manajemen sumber daya mereka. Biaya kuliah bukanlah hal yang murah, apalagi dengan pendapatan yang fluktuatif dari berdagang. Namun, karena pendidikan diletakkan sebagai prioritas tertinggi dalam hierarki pengeluaran keluarga, hal yang tampak mustahil itu menjadi mungkin.

Bagi keluarga ini, kesejahteraan tidak diukur dari mobil apa yang terparkir di depan rumah atau merek pakaian apa yang dikenakan. Kesejahteraan adalah melihat anak-anak tumbuh sehat, taat beribadah, dan mengenakan toga sarjana. Itu adalah dividen tak ternilai dari investasi panjang mereka.

Menjaga Waras di Era Digital

Keluarga Pak Iwan tidak hidup di dalam goa. Mereka merangkul teknologi. Gadget dan internet digunakan untuk menunjang pendidikan anak dan komunikasi keluarga, terutama saat ada anggota keluarga yang sedang berada di luar rumah.

Namun, mereka sadar pisau bermata dua dari teknologi. Untuk si bungsu yang berusia 9 tahun, aturan main diterapkan dengan tegas. Ada jam malam untuk gadget. Jika nilai turun atau kewajiban lalai, sanksi pengurangan waktu bermain diberlakukan. Ini menunjukkan bahwa orang tua tidak gagap teknologi, melainkan bertindak sebagai pengawas aktif untuk memastikan teknologi menjadi alat bantu, bukan candu.

Bahagia Tanpa Syarat

Lalu, bagaimana mereka mengelola stres? Di saat keluarga modern lain mungkin membutuhkan staycation mahal atau belanja terapi untuk melepas penat, keluarga Pak Iwan memiliki resep yang lebih organik, yaitu Kebersamaan.

Saat lelah melanda setelah seharian berdagang atau mengurus rumah, obat mereka adalah berkumpul di ruang tengah. Berbincang ringan, saling mendengarkan keluh kesah, atau sekadar menonton televisi bersama. Komunikasi terbuka menjadi katup pelepasan tekanan yang efektif. Ketika salah satu merasa berat, yang lain menopang. Dukungan sosial dari tetangga dan kerabat di lingkungan Dramaga yang guyub juga menjadi jaring pengaman emosional mereka.

Sebuah Pelajaran tentang “Cukup”

Kisah keluarga Pak Iwan dan Ibu Yeni mengajarkan kita untuk mendefinisikan ulang makna ‘Kaya’. Mereka mungkin tidak kaya harta dalam standar materialistis, namun mereka kaya akan ketenangan, kaya akan kepercayaan antar anggota keluarga, dan kaya akan harapan masa depan melalui pendidikan anak-anaknya.

Manajemen Sumber Daya Keluarga (MSDK) yang mereka terapkan bukanlah teori dari buku teks yang kaku, melainkan seni kehidupan yang luwes. Mereka mengajarkan bahwa dengan komunikasi yang jujur, prioritas yang jelas, dan kerja sama tim yang solid, sebuah keluarga bisa tetap berdiri tegak dan harmonis, meski hanya bertumpu pada satu tiang penyangga ekonomi. Di rumah sederhana di Dramaga itu, kita belajar bahwa kebahagiaan seringkali bersembunyi di dalam rasa syukur dan rasa cukup.

Penulis :
Muhammad Fazza Ilham Ersafero
Keysha Shaqila Iqbal
Galuh Febby Setyani
Fiena Rachmanda
Naisyilla Hasna Risnandar
Fiqra Fadilla Rahmadani

Dosen Pengampu :
Dr. Ir. Diah Krisnatuti M.S
Prof. Dr. Megawati Simanjuntak S.P., M.Si.
Dr. Irni Rahmayani Johan S.P., M.M.
Dr. Ir. Istiqlaliyah Muflikhati M.Si.

Departemen Ilmu Keluarga dan Konsumen, Fakultas Ekologi Manusia, IPB University