Oleh Tim Mahasiswa FKM UI. Adisty Nurbani Setiono, Caesario Natanael Putra Rasdhian, Dicky Mahendra Zaglul. Meutya Adani Syihan
Fakta Insiden Diare Pada Bayi
Diare adalah kondisi meningkatnya frekuensi buang air besar menjadi tiga kali atau lebih dalam sehari, disertai tinja yang lebih cair. Pada balita, diare dapat dengan cepat menyebabkan dehidrasi, gangguan gizi, hingga risiko kematian bila tidak ditangani. Di berbagai negara berkembang, termasuk Indonesia, diare masih menjadi salah satu penyebab utama morbiditas dan mortalitas anak. Provinsi Papua Tengah mencatat prevalensi diare balita sebesar 8,7% berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka yang lebih tinggi dibandingkan rata-rata nasional. Kondisi ini diperburuk oleh keterbatasan akses air bersih yang masih menjadi tantangan utama di wilayah tersebut.
Upaya memahami tingginya angka diare pada balita di Papua Tengah juga perlu melihat dinamika sosial dan perilaku masyarakat terkait penggunaan air. Banyak keluarga tidak memiliki alternatif selain menggunakan air sungai, waduk kecil, atau sumber air hujan yang disimpan dalam wadah terbuka. Kondisi tersebut memberikan peluang besar bagi kontaminasi, baik dari limbah hewan, aktivitas domestik, maupun sanitasi lingkungan yang kurang memadai. Selain itu, praktik pengolahan air minum sering kali terbatas pada metode sederhana seperti menyaring atau mendiamkan air, tanpa proses pemanasan atau klorinasi yang sebenarnya lebih efektif membunuh patogen. Minimnya fasilitas kesehatan di beberapa distrik juga menambah tantangan, karena jarak tempuh yang jauh dan biaya perjalanan membuat sebagian keluarga menunda atau bahkan tidak membawa balita yang sakit diare ke layanan kesehatan. Hal ini berpotensi menyebabkan dehidrasi parah yang seharusnya dapat dicegah dengan pemberian oralit sejak dini. Di sisi lain, kurangnya sosialisasi tentang pentingnya menjaga kebersihan tangan, kebiasaan mencuci peralatan makan, serta penggunaan jamban sehat membuat penyebaran kuman penyebab diare sulit dikendalikan. Oleh karena itu, permasalahan diare pada balita di Papua Tengah tidak dapat diselesaikan hanya melalui pengobatan semata, tetapi memerlukan kombinasi intervensi berbasis lingkungan, perilaku, dan akses pelayanan yang merata.
Mengapa Kualitas Air Tidak Bisa Dinilai pada Tampilan Fisiknya Saja?
Dalam kehidupan sehari-hari, sebagian besar masyarakat menilai air minum “aman” hanya berdasarkan tampilan fisiknya, yakni terlihat jernih, tidak berbau, dan tidak berwarna. Namun secara ilmiah, penilaian visual tidak selalu menggambarkan kondisi sebenarnya. Air yang tampak jernih dapat saja mengandung bakteri atau virus penyebab diare, sedangkan air yang terlihat keruh tidak selalu menandakan keberadaan patogen. Kontaminasi air sering terjadi setelah pengambilan, misalnya dari wadah yang tidak higienis atau proses penyimpanan yang buruk. Dengan demikian, penilaian kualitas air berdasarkan fisik saja dapat menyesatkan dan tidak cukup untuk menentukan risikonya terhadap kesehatan balita.
Selain itu, kebiasaan masyarakat yang hanya mengandalkan pancaindra membuat risiko kesehatan sering terabaikan. Tanpa pemeriksaan laboratorium atau uji kualitas sederhana, keberadaan kontaminan seperti E. coli, parasit, atau bahan kimia berbahaya tidak dapat terdeteksi. Di wilayah dengan akses laboratorium terbatas, penggunaan alat uji cepat atau edukasi tentang praktik penyimpanan air yang aman menjadi sangat penting. Pendekatan ini membantu mencegah asumsi keliru bahwa air “terlihat aman” berarti benar-benar aman dikonsumsi, terutama bagi balita yang lebih rentan terhadap penyakit bawaan air.
Fakta Ilmiah Insiden Diare di Papua Tengah
Studi berbasis data SKI 2023 yang menganalisis 812 balita di Papua Tengah menemukan bahwa 12,2% anak mengalami diare dalam beberapa minggu terakhir. Sementara itu, sebanyak 10,2% rumah tangga tercatat menggunakan air minum dengan kualitas fisik yang buruk (keruh, berbau, berwarna, berbusa, atau berasa). Meskipun demikian, penelitian menunjukkan bahwa kualitas fisik air tidak berhubungan signifikan dengan kejadian diare. Temuan penting justru terlihat pada jenis sumber air: rumah tangga yang menggunakan sarana air tidak layak memiliki risiko lebih dari tiga kali lipat mengalami diare dibandingkan mereka yang mengakses sumber air layak. Hal ini menunjukkan bahwa aspek keamanan mikrobiologis sumber air jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar tampilan fisik air.
Penjelasan ilmiah terhadap fenomena ini cukup jelas. Banyak patogen penyebab diare tidak dapat dilihat dengan mata telanjang dan tidak memengaruhi warna atau bau air. Di sisi lain, praktik penyimpanan air dalam jerigen atau ember yang tidak bersih, pengambilan air dengan gayung terkontaminasi, serta kebiasaan cuci tangan yang kurang dapat meningkatkan risiko paparan bakteri, meskipun sumber air awalnya aman. Dengan demikian, diare pada balita lebih banyak dipengaruhi oleh akses terhadap sarana air aman serta perilaku higiene rumah tangga, bukan semata-mata kondisi fisik air yang tampak dari permukaan.
Dampak dan Pentingnya Intervensi Multifaktor
Dampak sosial dan kesehatan dari diare pada balita sangat besar. Anak dengan diare berulang rentan mengalami kekurangan gizi, penurunan imunitas, dan gangguan tumbuh kembang. Bagi keluarga, biaya pengobatan dan akses layanan kesehatan menjadi beban tambahan, terutama di daerah terpencil. Ketimpangan akses terhadap air bersih juga memperkuat siklus kemiskinan dan menghambat pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan terkait air bersih dan kesehatan. Oleh karena itu, upaya pencegahan diare di Papua Tengah memerlukan intervensi multifaktor, mulai dari pembangunan sarana air aman, edukasi perilaku hidup bersih, hingga kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan organisasi non-pemerintah.
Maka dari itu, perlu ditegaskan bahwa penilaian kualitas air tidak dapat berhenti pada aspek fisik semata, setiap anak berhak mendapatkan air yang benar-benar aman, dimanapun mereka tinggal. Selain itu, intervensi multifaktor harus didukung dengan sistem pemantauan kualitas air yang berkelanjutan. Penguatan laboratorium daerah, pelatihan tenaga kesehatan, serta penggunaan teknologi sederhana untuk deteksi kontaminasi dapat membantu masyarakat mengenali risiko sejak dini. Pendekatan ini memungkinkan tindakan cepat sebelum anak terpapar air yang tidak aman. Dengan dukungan data yang lebih akurat, program pencegahan dapat dirancang lebih tepat sasaran dan efektif menurunkan kejadian diare pada balita.

