Artikel

Membangun Masyarakat Beretika : Peran Krusial Orang Tua dalam Pembinaan Etika Anak dari Sudut Pandang Muamalah

×

Membangun Masyarakat Beretika : Peran Krusial Orang Tua dalam Pembinaan Etika Anak dari Sudut Pandang Muamalah

Sebarkan artikel ini

Oleh Nisrina Ramadhani Putri, Mahasiswa Jurusan Psikologi, Fakultas Psikologi Universitas Muhammadiyah Prof. Dr. Hamka

Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern ini, masyarakat dihadapkan pada berbagai permasalahan tentang etika.

Permasalahan mengenai ketidakjujuran dalam melakukan sesuatu, menurunnya rasa empati dalam diri, serta rendahnya rasa tanggung jawab sosial yang dimiliki menjadi suatu fenomena yang seringkali kita hadapi dalam kehidupan sehari-hari. Fakta-fakta keseharian ini melambangkan kenyataan bahwa perkembangan teknologi dan ekonomi tidak sejalan dengan kematangan moral masyarakat.

Maka dari itu, hal ini menjadi kebutuhan yang mendesak untuk para pemerintah, pengajar, dan orang-orang berjasa lainnya yang akan mendidik masa depan bangsa ini terutama orang tua karena sebagai pendorong utama untuk membangun masyarakat yang beretika.

Peningkatan dan penurunan etika dalam diri seseorang dapat berdampak positif serta negatif terhadap hubungan keluarga dan sosial, ekonomi, dan juga kehidupan bermasyarakat. Etika dapat dibentuk dari lingkungan ataupun cara orang tua mendidik individu tersebut, etika sendiri tidak terbentuk secara instan, etika akan mengalami perkembangan setiap kehidupan manusia, serta etika yang baik akan selalu berproses melalui pembelajaran sejak usia dini. Individu yang memiliki prinsip baik tentang kejujuran, keadilan, dan rasa empati yang tinggi akan menciptakan lingkungannya yang nyaman dan harmonis. Sedangkan, individu yang memiliki prinsip buruk tentang etika ini, hubungan sosial yang ia ciptakan bisa menjadi rapuh dan mudah terkena konflik.

Keluarga merupakan faktor pemegang utama yang berpengaruh untuk etika anak di kemudian hari, karena keluarga adalah lingkungan pertama yang anak pelajari. Di dalam keluarga, anak pertama kali akan belajar tentang perilaku, sikap, dan nilai-nilai di sekitarnya. Orang tua menjadi panutan pribadi untuk anak dan nantinya yang akan menentukan cara pandang anak tentang etika dan moral. Apa yang menjadi pengalamannya di rumah merupakan perilaku anak di dunia luar. Kestabilan orang tua untuk menjalankan nilai-nilai etika tersebut akan memprediksi keberhasilan sikap anak dalam beretika di masyarakat.

Keluarga khususnya orang tua menjadi panutan untuk anak-anak, hal ini berkaitan dengan teori psikologi dalam bidang psikologi kognitif dan perkembangan, yaitu Social Learning Theory oleh Albert Bandura. Menurut Bandura, anak mempelajari perilaku, nilai dan etika melalui:

  • Observational learning (mengamati),
  • Modelling (meniru figur signifikan, orang tua)
  • Reinforcement (penguatan dari lingkungan)

Jadi, anak tidak belajar etika hanya dari nasihat orang tua nya saja, tetapi juga dari apa yang ia lihat dan alami secara langsung di dalam keluarga. Keluarga merupakan lingkungan utama di mana anak mempelajari etika dan nilai moral melalui proses observational learning dan modelling. Albert Bandura menegaskan bahwa anak tidak hanya meniru perilaku yang ia lihat, tetapi juga menginternalisasi nilai, norma, dan sikap moral yang ditunjukkan oleh figur signifikan seperti orang tua (Bandura, 1977 dalam Nabavi & Bijandi, 2011).

Berbagai penelitian menegaskan bahwa keluarga, khususnya orang tua, memiliki peran sentral dalam pembentukan etika dan karakter anak, karena keluarga merupakan lingkungan pertama anak belajar memahami nilai, norma, dan perilaku sosial. Pola asuh yang diterapkan orang tua secara konsisten, hangat, dan penuh keteladanan terbukti berkontribusi besar terhadap internalisasi nilai moral, pembentukan sikap positif, serta perkembangan karakter anak dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan pola asuh yang konsisten, penuh kehangatan, dan disertai contoh perilaku yang baik dari orang tua terbukti berperan besar dalam membantu anak menginternalisasi nilai-nilai moral, mengembangkan sikap positif, serta membangun karakter yang tercermin dalam kehidupan sehari-hari (Nur’aeni & Lubis, 2022). Penelitian ini diperkuat oleh penelitian dari Zakiyyatul tahun 2024 yang menunjukkan bahwa hubungan interaktif orang tua dan lingkungan keluarga yang bersifat suportif berperan penting dalam pembentukan karakter anak usia dini, termasuk berkembangnya sikap tanggung jawab, empati, serta perilaku etis dalam interaksi sosial (Zakiyyatul, 2024). Sejalan dengan itu, Safitri dan Diana tahun 2023 menegaskan bahwa internalisasi nilai akhlak dalam keluarga tidak semata-mata terjadi melalui penerapan aturan, melainkan lebih efektif melalui keteladanan orang tua dalam mengimplementasikan nilai-nilai moral secara nyata dalam kehidupan sehari-hari (Safitri & Diana, 2023). Oleh karena itu, berdasarkan ketiga penelitian tersebut secara konsisten menegaskan bahwa kualitas pola asuh yang diterapkan orang tua, disertai dengan keteladanan positif yang merupakan faktor yang sangat berpengaruh dalam pembentukan etika dan moral anak sejak usia dini.

Dalam sudut pandang agama Islam, terutama terkait pembinaan etika sosial berkaitan dengan konsep muamalah. Secara etimologis, muamalah diartikan sebagai suatu bentuk perlakuan atau tindakan. Sedangkan dari sisi terminologis, muamalah dipahami sebagai konsep dalam Islam yang berisi seperangkat aturan tertentu yang bertujuan mengatur berbagai urusan di dunia fisik manusia. Aturan-aturan tersebut dirancang agar memberikan manfaat bagi seluruh pihak yang terlibat, sehingga berdampak pada terciptanya kehidupan sosial yang harmonis dengan menjunjung tinggi nilai-nilai keagamaan dan kemasyarakatan (Akbar et al., 2022). Dalam hal ini, muamalah mempertegaskan nilai-nilai seperti keadilan, kejujuran, bersikap amanah, saling menghormati satu sama lain, dan tidak merugikan orang lain, yang dimana nilai-nilai ini menjadi landasan utama dalam menciptakan individu serta masyarakat yang beretika. Berdasarkan QS. An-Nahl [16:90] tentang perintah berlaku adil dan berbuat kebajikan serta QS. Al-Hujurat [49:13] tentang etika sosial dan hubungan antar manusia, yang berbunyi:

اِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْاِحْسَانِ وَاِيْتَاۤئِ ذِى الْقُرْبٰى وَيَنْهٰى عَنِ الْفَحْشَاۤءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ

Artinya:
Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu dapat mengambil pelajar. {An-Nahl 16:90}

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْاۚ اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْۗ اِنَّ اللّٰهَ عَلِيْمٌ خَبِيْرٌ

Artinya:
Hai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling takwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal. {Al-Hujurat 49:13}.

Implementasi pembinaan etika anak dapat dilakukan dengan mudah dan cukup sederhana, dilihat dari sudut pandang muamalah. Peran dan tanggung jawab orang tua yang terpenting adalah mendidik anak sejak dini dengan membiasakan anak-anak untuk bersikap adil dalam segala hal serta menghargai hak orang lain. Secara etika, mereka harus bersikap jujur dan bertanggung jawab terhadap apa yang mereka lakukan. Dengan praktik dasar muamalah, anak tidak hanya mengerti melalui teori saja tetapi juga akan lebih mengerti bagaimana mereka harus bertindak dan mempraktekkannya. Berdasarkan QS. Al-Isra’ [17:23-24] tentang tanggung jawab orang tua dan pendidikan dalam keluarga, yang berbunyi:

وَقَضٰى رَبُّكَ اَلَّا تَعْبُدُوْٓا اِلَّآ اِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ اِحْسٰنًاۗ اِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ اَحَدُهُمَآ اَوْ كِلٰهُمَا فَلَا تَقُلْ لَّهُمَآ اُفٍّ وَّلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَّهُمَا قَوْلًا كَرِيْمًا

Artinya:
Dan Tuhanmu telah memerintahkan agar kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah berbuat baik kepada ibu bapak. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berusia lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah engkau mengatakan kepada keduanya perkataan “ah” dan janganlah engkau membentak keduanya, dan ucapkanlah kepada keduanya perkataan yang baik {23}.

Berikut QS. Al-Isra [17:24]

وَاخْفِضْ لَهُمَا جَنَاحَ الذُّلِّ مِنَ الرَّحْمَةِ وَقُلْ رَّبِّ ارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيٰنِيْ صَغِيْرًاۗ

Dan rendahkanlah dirimu terhadap keduanya dengan penuh kasih sayang dan ucapkanlah, “Wahai Tuhanku! Sayangilah keduanya sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku pada waktu kecil.” {24}.

Dengan demikian, membangun masyarakat beretika harus ditanamkan dan dibiasakan dari lingkungan keluarga, terutama dari rumah. Orang tua memiliki peran krusial atau peran yang sangat berpengaruh besar sebagai pendidik utama untuk anak-anaknya dengan menanamkan nilai etika kepada anak. Dengan menjadikan Al-Qur’an, muamalah, dan ilmu sebagai landasan pembinaan etika anak, keluarga dapat berkontribusi secara nyata dalam menciptakan masa depan bangsa yang bersikap adil, harmonis, dan memiliki akhlak yang mulia. Masyarakat beretika bukan hanya sekedar teori ataupun harapan dalam perkataan seseorang, melainkan hasil dari nilai-nilai pendidikan yang ditanam sejak dini dalam keluarga terutama orang tua.