DEPOKPOS – Keluarga adalah lingkungan pertama dan paling berpengaruh dalam membentuk karakter, perilaku, dan kondisi psikologis anak.
Jika keluarga tidak bisa menjalankan tugas dasarnya, seperti memberi kasih sayang, keamanan emosional, dan komunikasi yang baik, maka akan muncul kondisi yang disebut disfungsi keluarga.
Penelitian ini bertujuan untuk menjelaskan dampak dari disfungsi keluarga terhadap kondisi psikologis anak serta mencari solusi yang diberikan melalui perspektif muamalah Islam.
Penelitian ini menggunakan metode studi literatur dengan mengacu pada Hyoscyamina (2011), Tamam (2018), serta temuan empiris Ratna Megawangi yang menunjukkan bahwa 95% dari gangguan psikologis pada anak berasal dari keluarga yang tidak bahagia.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa disfungsi keluarga bisa menyebabkan berbagai gangguan emosional, perilaku, dan sosial pada anak, seperti kecemasan, depresi, agresi, hingga penurunan prestasi akademik.
Di sisi lain, perspektif muamalah Islam memberikan nilai-nilai utama seperti sakinah, mawaddah, rahmah, musyawarah, dan keadilan dalam peran keluarga sebagai panduan dalam membentuk keluarga yang harmonis.
Penelitian ini menekankan bahwa memperkuat fungsi keluarga melalui pendekatan psikologi dan nilai Islam merupakan langkah penting dalam menciptakan generasi yang sehat secara mental dan spiritual.
KATA KUNCI : disfungsi keluarga, psikologi anak, muamalah Islam, keluarga sakinah, perkembangan emosional.
PENDAHULUAN
Keluarga memainkan peran penting dalam pembentukan karakter dan kesejahteraan psikologis seseorang. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ”keluarga” dapat didefinisikan sebagai (a) kelompok yang terdiri dari ayah, ibu, dan anak-anak; (b) kelompok orang yang tinggal bersama dalam satu rumah tangga dan saling menanggung; (c) kerabat; dan (d) unit kekerabatan paling penting dalam struktur sosial.
Oleh karena itu, keluarga dapat dilihat sebagai sistem yang tidak hanya mengatur hubungan biologis tetapi juga membantu individu membangun nilai, perilaku, dan keseimbangan emosional sejak masa kanak-kanak.
Islam, sebagai agama yang membawa rahmat bagi alam, melihat keluarga sebagai institusi yang sangat penting dan bernilai ibadah. Islam tidak hanya memungkinkan pernikahan, tetapi juga mendorong kehidupan berkeluarga sebagai cara yang bermanfaat untuk melaksanakan syariat.
Keluarga dalam pandangan Islam bukan sekadar tempat tinggal bagi mereka yang memiliki ikatan darah. Keluarga juga merupakan tempat di mana setiap anggota mendapatkan bimbingan moral, spiritual, dan sosial.
Oleh karena itu, salah satu kewajiban moral dan spiritual setiap muslim adalah menjaga keharmonisan keluarga. Mempelajari nilai-nilai agama dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari, baik dalam keluarga maupun dalam hubungan sosial, adalah salah satu cara untuk mewujudkan keluarga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah. (Tamam, 2018)
Membangun kehidupan rumah tangga yang harmonis tentu menjadi cita-cita setiap individu, namun hal tersebut tidak mudah dicapai tanpa kesadaran, ilmu, dan tanggung jawab bersama antara suami dan istri. Islam menempatkan suami sebagai pemimpin keluarga yang bertanggung jawab terhadap kesejahteraan fisik dan spiritual keluarganya, sementara istri berperan sebagai pendamping dan pendidik utama bagi anak-anak. Keluarga yang harmonis menghadirkan rasa aman, ketenangan, kebahagiaan, serta kasih sayang antaranggota. Sebagaimana sabda Rasulullah SAW:
“Rumahku adalah surgaku.” (HR. Baihaqi)
Namun, fakta sosial saat ini menunjukkan bahwa tidak semua keluarga memiliki kemampuan untuk mencapai kondisi ideal tersebut. Banyak keluarga menghadapi ketegangan, konflik, atau perpecahan karena tekanan sosial ekonomi, ketidakseimbangan peran, atau agama yang tidak konsisten.
Kondisi ini menyebabkan fenomena disfungsi keluarga, di mana sistem keluarga tidak dapat melakukan tugas dasar mereka untuk memberikan rasa aman, dukungan emosional, dan pendidikan moral kepada anak-anaknya.
Keluarga yang tidak fungsional menimbulkan masalah sosial dan berdampak langsung pada kesehatan mental anak. Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang penuh dengan konflik sering menunjukkan gangguan emosi, kesulitan beradaptasi sosial, dan bahkan penurunan prestasi akademik.
Dalam pandangan Islam, ini juga menunjukkan ketidakmampuan untuk memenuhi janji Allah SWT untuk menjaga dan mendidik keluarga dengan kasih sayang dan keadilan.
Oleh karena itu, penting untuk meninjau kembali bagaimana disfungsi keluarga dapat memengaruhi kondisi psikologis anak, serta bagaimana nilai-nilai muamalah Islam dapat memberikan solusi dalam memperkuat fungsi keluarga sebagai institusi yang menumbuhkan kesejahteraan mental dan spiritual bagi generasi penerus.
METODE PENELITIAN
Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi literatur. Terdapat dua sumber utama digunakan sebagai dasar untuk menganalisis topik ini, yaitu :
Hyoscyamina (2011)
Membahas bagaimana keluarga membentuk kepribadian anak, faktor-faktor yang menyebabkan keluarga menjadi tidak sehat, serta dampak dari hal tersebut terhadap pertumbuhan dan perkembangan anak.
Tamam (2018)
Menjelaskan arti keluarga menurut Al-Qur’an, termasuk struktur keluarga, fungsi-fungsi seperti pendidikan, perasaan, dan sosial, serta nilai-nilai yang harus diterapkan agar keluarga bisa membangun suasana yang damai dan harmonis.
Selain itu, beberapa teori psikologi perkembangan dan sistem keluarga juga digunakan sebagai bahan pendukung untuk memperkaya analisis, terutama teori ekologi Bronfenbrenner dan konsep attachment.
PEMBAHASAN
Konsep Disfungsi Keluarga Dalam Perspetif Psikologi
Keluarga merupakan suatu sistem sosial dimana setiap anggota saling berintraksi dan mempengaruhi satu sama lain. Jika sistem ini tidak berjalan dengan baik maka akan muncul kondisi yang dikenal dengan istilah disfungsi keluarga. Menurut Minuchin (1974), disfungsi keluarga merujuk pada ketidakharmonisan dalam hubungan anatar keluarga yang berdampak pada gangguan dalam komunikasi, pembagian peran dan dukungan emosional. Pada keluarga yang mengalami disfungsional anggota – anggotanya sering mengalami tekanan mental akibat kurangnya rasa aman, kepercayaan dan kasih sayang.
Dalam teori ekologi perkembangan, Bronfenbernner (1979) menjelaskan bahwa keluarga adalah mikrosistem terdekat yang berdampak langsung pada pertumbuhan anak. Saat sistem ini tidak berfungsi dengan baik, anak – anak akan menghadapi kesulitan dalam mencapai keseimbangan emosional dan sosial.
Putri dan Hasan (2021) juga menambahkan bahwa keluarga yang tidak menjalankan perannya dengan baik cenderung menyababkan ketidakseimbangan psikologis anak yang dapat menimbulkan stres, kecemasan dan kesulitan dalam berinteraksi sosial.
Faktor Penyebab Disfungsi Keluarga
Menurut Wirawan dalam Hyoscyamina (2011) terdapat berbagai faktor yang sering memicu disfungsi keluarga, diantaranya :
Kurangnya Kemampuan Berinteraksi Antarpersonal
Keterbatasan dalam interaksi membuat anggota keluarga kesulitan untuk menyelesaikan masalah secara kolektif.
Banyak keluarga yang tidak siap mengahadapi perubahan atau krisis karena kurangnya kemampuan untuk beradaptasi. Hal ini menyebabkan terjadinya jarak emosional dan kesulitan dalam beradaptasi dengan situasi baru.
Kesulitan Dalam Berkomunikasi
Berkomunikasi secara tidak efektif menjadi penyebab utama munculnya konflik didalam keluarga. Apabila setiap anggota tidak mampu menyampaikan perasaan mereka dengan jujur, makan akan menimbulkan kesalahpahaman serta perasaan terasingkan.
Minimnya Kedekatann Emosional
Keluarga yang jarang menghabiskan waktu bersama atau tidak membangun kepercayaan akan kehilangan kehangatan dan rasa kebersamaan. Anak – anak yang tumbuh daalam keadaan ini cenderung kekurangan rasa aman atau secure attachment dan mengalami kesulitan dalam menjalin hubungan sosial.
Ketidakjelasan Aturan Dalam Keluarga
Keluarga memerlukan aturan yang disepakati untuk mengatur peran dan tanggung jawab setiap anggota keluarga. Apabila aturan tersebut tidak konsisten maka anggota keluarga akan merasa bingung mengenai batasan prilaku yang dianggap benar dan salah.
Rahasia atau Sejarah Yang Belum Terpecahkan
Adapula rahasia dalam keluarga, seperti konflik masa lalu, utang atau masalah yang tidak diungkapkan yang dapat menyebabkan ketegangan psikologis. Ketertutupan ini membawa beban emosional yang dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Dalam Islam kejujuran dan keterbukaan dianggap sebagai nilai – nilai penting yang menjaga keharmonisan dalam keluraga.
Rendahnya Komitmen Terhadap Keluarga
Komitmen dianggap sebagai kunci untuk menciptakan keharmonisan dalam keluarga. Apabila salah satu anggota enggan terlibat aktif dalam menyelesaikan masalah, rasa kebersamaan dan tanggung jawab akan menurun.
Ketidakstabilan Mengahadapi Pengaruh Lingkungan
Keluarga kerap menghadapi tekanan dari luar seperti intervensi keluarga besar, media sosial atau situasi ekonomi. Tanpa adanya komunikasi yang baik dan nilai spiritual yang kokoh, stabilitas keluarga dapat terganggu.
Dampak Disfungsi Keluarga Terhadap Kondisi Psikologis Anak
Disfungsi keluarga dapat sangat berpengaruh pada kondisi psikologis anak. Jika keluarga tidak bisa memberikan suasana penuh kasih sayang, stabil, dan dapat berkomunikasi dengan baik, anak akan merasa tertekan secara emosional.
Penelitian yang dilakukan oleh Ratna Megawangi, Ph.D., seorang dosen di bidang gizi masyarakat dan sumberdaya keluarga IPB, menubahwa hanya 5% anak yang tumbuh dalam keluarga bahagia yang mengalami gangguan psikologis, sedangkan 95% dari anak yang mengalami gangguan psikologis tumbuh dalam keluarga tidak bahagia dan memiliki hubungan yang tidak baik antara orang tua dan anak (Megawangi, dikutip dalam Pikiran Rakyat, 18 April 2004). Data ini menunjukkan bahwa keadaan keluarga adalah faktor utama dalam menentukan kesehatan mental anak.
Secara lebih jelas, anak dari keluarga yang mengalami disfungsi cenderung mengalami gangguan emosional, seperti kecemasan, rasa tidak aman, stres terus-menerus, hingga depresi. Ketidakstabilan hubungan antara orang tua sering kali menciptakan suasana rumah yang penuh ketegangan, sehingga anak terus-menerus berada dalam keadaan waspada dan merasa takut. Jika dibiarkan terus-menerus, hal ini dapat mengganggu kemampuan anak dalam mengelola emosinya.
Selain itu, disfungsi keluarga juga dapat memicu gangguan perilaku, seperti sikap agresif, kenakalan remaja, melarikan diri, atau perilaku impulsif.
Karena kurangnya pengawasan dan bimbingan, anak cenderung mencari perhatian dengan cara yang tidak sehat. Anak-anak yang hidup dalam lingkungan keluarga yang tidak harmonis juga bisa berkembang menjadi pribadi yang sulit mempercayai orang lain, tertutup, atau bahkan mudah tersinggung, hal ini menunjukkan adanya masalah dalam interaksi sosial mereka.
Dari sisi akademik, tekanan emosional yang dialami anak dapat mengakibatkan menurunnya prestasi belajar, hilangnya motivasi, dan rendahnya kemampuan berkonsentrasi. Anak yang hidup di lingkungan rumah yang tidak aman biasanya kehilangan energi untuk belajar karena fokus mereka justru tertuju pada usaha untuk bertahan dari konflik yang terjadi di rumah.
Temuan Hyoscyamina (2011) juga mendukung hal ini.
Dalam penelitiannya disebutkan bahwa kurangnya komunikasi, rendahnya kelekatan emosional, serta lemahnya fungsi keluarga menyebabkan anak tumbuh tanpa rasa aman. Padahal, rasa aman adalah dasar penting dalam pembentukan karakter, kepercayaan diri, dan pengembangan moral anak.
Dengan demikian, berbagai dampak tersebut menunjukkan bahwa kualitas fungsi keluarga sangat menentukan perkembangan psikologis anak secara menyeluruh.
Keluarga dalam Perspektif Muamalah
Dalam Islam, keluarga bukan hanya tempat tinggal atau sekumpulan orang yang hidup bersama. Lebih dari itu, keluarga dianggap sebagai “persekutuan hidup” yang dibentuk untuk menciptakan ketenangan, kasih sayang, dan saling melengkapi satu sama lain. Al-Qur’an menjelaskan bahwa keluarga merupakan bagian penting dari kehidupan manusia ia adalah tempat pertama di mana seseorang belajar nilai, moral, perasaan, dan hubungan sosial.
Bahkan, Tamam (2018) mengatakan bahwa keluarga adalah nikmat dari Allah yang tidak hanya perlu disyukuri, tetapi juga harus dijaga dan dirawat dengan sungguh-sungguh.
Keluarga sebagai Persekutuan Hidup yang Dibangun melalui Ikatan Suci
Dari perspektif Islam, keluarga tidak muncul begitu saja. Ia dibentuk melalui pernikahan, yang dalam Al-Qur’an disebut sebagai mîtsâqan ghalîzan, yaitu perjanjian yang kuat dan menuntut tanggung jawab. Ikatan ini menunjukkan bahwa hubungan antara suami dan istri bukan hanya hubungan biologis, tetapi juga komitmen spiritual untuk saling mendukung dan saling menguatkan.
Karena itu, pernikahan menjadi dasar pertama dari sistem sosial terkecil bernama keluarga, yang nantinya akan melahirkan generasi baru serta menentukan arah kehidupan masyarakat.
Mewujudkan Sakinah, Mawaddah, dan Warahmah
Salah satu tujuan utama dibentuknya keluarga dalam Islam adalah menciptakan suasana sakinah, yaitu ketenangan hati dan pikiran. Al-Qur’an menyatakan bahwa pasangan diciptakan “agar kamu merasa tenteram kepadanya” (Ar-Rum: 21). Dari situ akan tumbuh mawaddah (cinta) dan rahmah (kasih sayang).
Menurut Tamam (2018), ketiga hal ini bukan hanya teori, tetapi nilai yang harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari. Misalnya, bagaimana suami dan istri saling menghormati, bagaimana anggota keluarga saling mendengarkan, dan bagaimana anak merasa aman di bawah perlindungan orang tuanya. Keluarga tanpa sakinah, mawaddah, dan rahmah akan mudah goyah dan rentan menjadi disfungsional.
Nilai – Nilai Muamalah Dalam Kehidupan Keluarga
Muamalah dalam konteks keluarga bukan hanya tentang urusan transaksi, tetapi tentang bagaimana orang-orang saling berinteraksi berdasarkan etika Islam. Beberapa prinsip utama yang dijelaskan oleh Tamam (2018) antara lain:
Berinteraksi dengan baik (al-mu’āsyarah bi al-ma’rūf)
Al-Qur’an memerintahkan suami dan istri untuk saling bergaul dengan cara yang baik, saling menghormati, dan memperhatikan perasaan masing-masing.
Berinteraksi dengan baik tidak hanya tentang sikap, tetapi juga tentang cara berbicara, cara membuat keputusan, dan bagaimana menyelesaikan masalah secara dewasa.
Saling melindungi dan melengkapi
Al-Qur’an menyebut suami dan istri sebagai “pakaian” satu sama lain (Al-Baqarah: 187). Analogi ini berarti bahwa pasangan harus menjadi pelindung, yang menutupi kelemahan, serta sumber kenyamanan bagi pasangan. Dalam hubungan keluarga, ini membantu menciptakan kestabilan emosional bagi anak.
Bekerja sama dan bermusyawarah
Islam menekankan pentingnya musyawarah dalam keluarga.
Segala keputusan penting—seperti cara mendidik anak, pengambilan keputusan pendidikan, atau pengelolaan keuangan—sebaiknya dibicarakan bersama agar tidak terjadi ketimpangan dalam peran, yang bisa menyebabkan masalah dalam keluarga.
Pembagian tugas yang adil dan seimbang
Tamam (2018) menyatakan bahwa keluarga yang sehat berjalan ketika setiap anggotanya menjalankan perannya dengan tepat. Suami, istri, dan anak masing-masing memiliki tugas dan hak yang jelas. Peran ini bukan untuk mengikat, tetapi untuk menciptakan keluarga yang rapi dan stabil. Keterlambatan dalam pembagian peran sering kali menjadi penyebab utama konflik di keluarga modern.
Keluarga sebagai Tempat Pembentukan Akhlak dan Keseimbangan Sosial
Dalam Islam, keluarga juga bertugas sebagai pusat pendidikan akhlak.
Di rumah, anak belajar kejujuran, kesabaran, tanggung jawab, dan empati—semua nilai dasar muamalah yang akan dipakai dalam kehidupan. Tamam (2018) mengatakan bahwa keberhasilan keluarga dalam membentuk akhlak akan berdampak langsung pada kualitas masyarakat.
KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pembahasan, dapat disimpulkan bahwa disfungsi keluarga memberikan dampak yang sangat besar terhadap perkembangan psikologis anak. Ketidakharmonisan hubungan orang tua, kurangnya komunikasi, rendahnya kedekatan emosional, serta ketidakjelasan peran dan aturan dalam keluarga menjadi penyebab utama terganggunya kondisi mental anak.
Temuan Ratna Megawangi menunjukkan bahwa 95% gangguan psikologis pada anak berasal dari keluarga yang tidak bahagia atau disfungsional. Anak yang tumbuh dalam lingkungan keluarga seperti ini lebih rentan mengalami kecemasan, depresi, gangguan perilaku, kesulitan dalam berinteraksi sosial, serta penurunan kemampuan akademik.
Dari perspektif muamalah Islam, keluarga tidak hanya dianggap sebagai ikatan biologis, tetapi juga sebagai institusi yang memiliki tanggung jawab moral dan spiritual. Nilai sakinah, mawaddah, dan rahmah menjadi pondasi utama dalam membentuk keluarga yang harmonis. Selain itu, prinsip al-mu’asyarah bi al-ma’ruf, kerja sama, musyawarah, serta pembagian peran secara adil merupakan pedoman praktis yang dapat diterapkan dalam keluarga untuk mencegah terjadinya disfungsi serta mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal.
Dengan demikian, memperkuat fungsi keluarga merupakan langkah penting yang tidak hanya relevan dalam psikologi modern, tetapi juga sejalan dengan ajaran Islam.
Keluarga yang utuh, harmonis, dan penuh kasih sayang merupakan benteng utama dalam menciptakan generasi yang sehat secara jiwa, akhlak, dan perilaku.
SARAN
Bagi Orang Tua
Tingkatkan kualitas komunikasi dengan anak melalui dialog yang hangat, terbuka, dan penuh empati.
Ciptakan lingkungan rumah yang aman dan nyaman secara emosional agar anak merasa dihargai dan dicintai.
Terapkan prinsip keadilan dalam pembagian tugas keluarga dan hindari perilaku yang menimbulkan tekanan berlebih pada anak.
Perkuat nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari untuk membangun karakter dan stabilitas emosional anak.
Bagi Anak dan Remaja
Mencari dukungan dari orang dewasa yang dipercaya (guru, konselor, atau keluarga lain) jika mengalami tekanan psikologis akibat kondisi keluarga.
Mengembangkan keterampilan sosial dan emosi untuk membangun ketahanan diri (resilience).
Bagi Tenaga atau Konselor
Melakukan deteksi dini terhadap siswa yang menunjukkan gejala stres, kecemasan, atau masalah perilaku yang mungkin bersumber dari kondisi keluarga.
Memberikan pendampingan psikologis dan edukasi mengenai pola asuh sehat kepada orang tua melalui program sekolah.
Bagi Peneliti Selanjutnya
Dapat memperluas penelitian dengan menggunakan metode wawancara, observasi, atau studi kasus agar diperoleh gambaran lebih mendalam mengenai dinamika keluarga disfungsional.
Mengkaji lebih detail penerapan nilai muamalah dalam keluarga modern serta keterkaitannya dengan kesehatan mental anak.
Disusun Oleh :
Paramitha Agustin
PROGRAM STUDI PSIKOLOGI FAKULTAS PSIKOLOGI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR HAMKA 2025
