Artikel

Budaya Telat: Kebiasaan Sepele yang Sebenarnya Berdampak Besar pada Gen Z

×

Budaya Telat: Kebiasaan Sepele yang Sebenarnya Berdampak Besar pada Gen Z

Sebarkan artikel ini

Oleh: Kaffin Zakkiya dan Galih Nova, Mahasiswa UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

DEPOKPOS – Di zaman sekarang, teknologi sudah maju dan informasi bergerak sangat cepat. Harusnya, mengatur waktu menjadi semakin mudah karena ada kalender digital, alarm, pengingat, dan notifikasi yang membantu kita tetap disiplin. Namun kenyataannya, kebiasaan telat justru semakin sering terjadi, terutama di kalangan anak muda. Kebiasaan yang tampak sepele ini ternyata memberi dampak besar, baik bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitar. Saat ini, banyak orang tidak lagi menganggap keterlambatan sebagai masalah. Telat beberapa menit dianggap wajar. Ucapan seperti “yang penting datang”, “telat dikit nggak apa-apa”, atau “cuma lima menit kok” semakin sering terdengar.

Di sekolah, kampus, tempat kerja, organisasi, hingga acara keluarga, keterlambatan sering dibiarkan begitu saja selama tidak berlebihan. Lama-kelamaan, muncul pola pikir bahwa waktu tidak perlu dihargai dengan serius. Hal ini semakin diperparah oleh fleksibilitas era digital. Rapat bisa diundur, kelas bisa diganti online, tugas bisa dikirim tengah malam, dan hampir semua jadwal bisa “diatur nanti”. Karena merasa semuanya fleksibel, orang jadi semakin sering tidak tepat waktu.

Dampak dari Kebiasaan Telat yang Sering Dianggap Remeh

Membuat Orang Lain Kurang Percaya
Jika seseorang sering telat, orang lain akan menganggapnya tidak bisa diandalkan. Kepercayaan yang sangat penting dalam hubungan sosial pun bisa hilang.
Mengganggu Produktivitas Bersama
Satu orang telat dapat membuat kegiatan mundur. Rapat terlambat mulai, jadwal kacau, dan banyak waktu terbuang untuk menunggu.
Meningkatkan Kebiasaan Menunda

Penyebab Budaya Telat pada Anak Muda

Gangguan dari dunia digital seperti media sosial, game, dan hiburan yang membuat orang lupa waktu.
Mental “nanti saja” yang menjadikan menunda sebagai kebiasaan.
Lingkungan yang terlalu santai sehingga keterlambatan sering dianggap normal.
Kurangnya kemampuan mengatur waktu dan menentukan prioritas.

Cara Mengurangi Kebiasaan Telat

Datang 5–10 menit lebih awal.
Mengatur pengingat dua kali: untuk persiapan dan waktu berangkat.
Mengurangi gangguan sebelum waktu berangkat.
Menyusun agenda harian yang realistis.
Menyadari bahwa menghargai waktu orang lain berarti menghargai diri sendiri.