Oleh Fazlina Airin Primandini
Dalam beberapa tahun terakhir, istilah gaslighting telah mengalami pergeseran pemahaman yang semakin spesifik dan secara sistematis merujuk pada manipulasi mental yang memanfaatkan atau berkaitan dengan pengaruh psikologis yang terjadi di lingkungan pribadi atau publik. Tindakan ini bukan hanya terfokus di ruang pribadi, melainkan juga memiliki pola besar yang kompleks di lingkungan umum, yang melibatkan pembentukan pandangan psikologis terhadap audiens di ruang publik secara berulang.
Dalam situasi ini, banyak orang merasakan kelelahan mental, kebingungan moral, serta perasaan tidak berdaya dalam menghadapi kenyataan sosial. Usaha untuk melawan manipulasi sering kali terhenti pada pendekatan yang hanya mengandalkan rasio, sedangkan manipulasi psikologis memengaruhi tidak hanya pada aspek logika, tetapi juga pada perasaan dan makna kehidupan. Di titik inilah sangat penting untuk memahami peran akidah, bukan hanya sebagai sebuah kepercayaan teologis, melainkan sebagai dasar psikologis yang dapat menjaga kejernihan berpikir dan ketahanan sikap saat menghadapi tekanan dari manipulasi publik.
Gaslighting dan Manipulasi dalam Ruang Publik
Gaslighting adalah jenis kekerasan mental yang tidak terlihat yang berlangsung secara bertahap. Individu yang menjadi korban gaslighting diajak meragukan pandangan dan penilaian diri mereka sendiri melalui penyangkalan, distorsi fakta, dan manipulasi emosi yang dilakukan berulang kali. Dalam situasi publik, pola ini terlihat saat narasi tertentu ditegakkan secara luas sehingga kritik dianggap sebagai bahaya atau tanda ketidakloyalan.
Manipulasi semacam ini didorong oleh sistem pengendalian emosi. Pihak yang memanipulasi memanfaatkan ketakutan, rasa bersalah, serta tanggung jawab yang tidak nyata untuk memastikan bahwa orang tetap tunduk dan kehilangan kebebasan berpikir mereka. Saat taktik ini efektif dalam konteks sosial, komunitas menjadi mudah diatur, enggan untuk berpikir kritis, dan cenderung mengikuti pendapat yang umum berlaku.
Krisis Makna dan Lemahnya Ketahanan Batin
Kerentanan masyarakat terhadap pengaruh publik tidak timbul secara tiba-tiba. Modernitas yang bersifat sekuler telah menjauhkan agama dari aspek kehidupan masyarakat, sehingga konsep kebenaran tidak lagi berlandaskan pada nilai-nilai yang lebih tinggi. Apalagi nilai menjadi tidak tetap, kebenaran dapat dengan mudah dibentuk oleh kepentingan orang-orang yang berkuasa, dan individu pun kehilangan norma dalam menilai kenyataan secara seimbang.
Dalam keadaan ini, logika yang terpisah dari nilai-nilai bisa menjadi sarana untuk membenarkan penipuan. Masyarakat mungkin terlihat beralasan, tetapi mereka kehilangan arah makna yang dapat melindungi mereka dari pengubahan fakta-fakta.
Akidah sebagai Solusi Psikologis dan Etis
Al-Qur’an, sejak awalnya telah mengungkap taktik manipulatif yang dilakukan oleh penguasa yang zalim. Gaslighting dapat dilihat dalam metode Firaun dalam membangun persepsi tentang realitas dan menciptakan ketakutan di tengah Bani Israil. Dalam perspektif Al-Qur’an, tauhid berfungsi sebagai sarana untuk pembebasan mental, karena menegaskan bahwa kebenaran dan kekuasaan tertinggi hanyalah milik Allah Swt.
Akidah menjadi dasar bagi ketenangan jiwa dan ukuran kebenaran yang tidak tergantung pada pengaruh masyarakat. Dalam keyakinan pada tauhid, seseorang memperoleh arah yang tepat dalam hidupnya, sehingga tidak gampang terpengaruh oleh perubahan cerita. Akidah tidak menghilangkan fungsi rasio, melainkan membimbing pikiran untuk tetap berpegang pada prinsip kebenaran dan keadilan.
Di saat informasi membanjir dan berbagai cerita saling bersaing di ruang publik, kebutuhan untuk dapat berpikir dengan tenang menjadi semakin mendesak. Manipulasi dan upaya membuat orang meragukan diri sendiri tidak selalu terlihat jelas, namun sering kali masuk lewat ucapan yang kedengarannya masuk akal dan normal. Dalam situasi ini, keyakinan dasar bertindak sebagai penyangga batin yang mengkokohkan cara pandang dan cara menjalani hidup. Iman yang kokoh membantu seseorang tetap teguh saat ditekan pandangan orang lain, tidak mudah terombang-ambing oleh penyimpangan fakta, serta mampu memegang teguh nilai keadilan dan kemanusiaan sebagai pedoman bersama.