Hiburan

Hindia: Suara Generasi yang Gelisah dan Mencari Arah‎

×

Hindia: Suara Generasi yang Gelisah dan Mencari Arah‎

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – ‎Di tengah industri musik Indonesia yang kerap diramaikan oleh lagu-lagu cinta yang klise atau euforia tanpa makna, kehadiran Baskara Putra, atau yang lebih dikenal dengan nama panggung Hindia, adalah sebuah anomali yang menyegarkan. Ia bukan sekadar musisi—ia adalah narator zaman, suara dari generasi muda yang gelisah, jenuh, dan terus-menerus mempertanyakan arah hidupnya.
‎
‎Album debutnya, Menari dengan Bayangan (2019), menjadi semacam katalog emosi kolektif anak muda urban Indonesia. Di dalamnya, Hindia menulis tentang burnout, keluarga, pencarian jati diri, tekanan sosial, dan luka yang sering kali tidak terlihat oleh dunia luar. Lagu-lagu seperti Evaluasi, Secukupnya, atau Rumah ke Rumah adalah potret realitas yang tak dirias: jujur, kasar, dan manusiawi.
‎
‎Album Menari dengan Bayangan adalah karya penuh luka dan penerimaan. Lagu-lagu seperti Secukupnya, Evaluasi, dan Rumah ke Rumah memuat narasi yang dekat dengan siapa saja yang pernah merasa kosong dalam keramaian. Dalam sebuah wawancara, Baskara pernah mengatakan:
‎
‎> “Aku nulis karena aku pengin jujur sama diriku sendiri. Kalau aku lagi berantakan, ya lagunya juga harus berantakan.”
‎(Rolling Stone Indonesia, 2019)
‎
‎Apa yang membedakan Hindia dari banyak musisi lain adalah keberaniannya menulis lirik yang bukan hanya puitis, tapi juga filosofis. Ia tidak takut terdengar “terlalu berat”, karena justru dari kejujuran itulah pendengar merasa dekat. Hindia tak menawarkan solusi instan, tapi mengajak pendengarnya merangkul kegelisahan mereka, memaknai luka, dan tetap bergerak meski dunia tak selalu ramah.
‎
‎Namun, Hindia bukan tanpa kritik. Beberapa pihak menganggap liriknya terlalu “generasi galau”, terlalu sinis, bahkan pesimis. Tapi barangkali kritik semacam ini justru membuktikan bahwa karya Hindia berhasil: ia memantik diskusi, memancing perasaan, dan menolak menjadi sekadar latar suara yang bisa didengar tanpa dipikirkan.
‎
‎Dalam semesta musik Indonesia yang kerap memoles kenyataan, Hindia justru memilih untuk menelanjangi luka. Dan mungkin, dari sanalah kita belajar: bahwa yang rapuh pun layak untuk didengar.
‎
‎‎Di luar musik, Hindia juga aktif berbicara tentang isu-isu sosial dan mental health—hal yang masih sering dianggap tabu di ruang publik Indonesia. Ia adalah bukti bahwa musisi bisa punya peran lebih dari sekadar penghibur; mereka juga bisa menjadi cermin dan penggerak.
‎
Nur Auliya Hidayani