DEPOKPOS – Menurut Mental State of the World Report 2023, 27% remaja di seluruh dunia mengalami kondisi mental “distressed” atau “struggling,” yang mencakup rasa cemas, depresi, dan insecurity dalam kehidupan sosial dan akademik mereka.
Di Indonesia, data dari I-NAMHS dan UNICEF Indonesia (2023) menunjukkan bahwa sekitar 15,5 juta orang mengalami masalah kesehatan mental yang memengaruhi kepercayaan diri mereka. Penyebab utama meliputi tekanan akademik, ekspektasi sosial, dan perbandingan diri melalui media sosial.
Selain itu, 63% remaja merasa tertekan oleh ekspektasi untuk mencapai kesuksesan yang lebih besar dibandingkan generasi sebelumnya. Ketidaksetaraan akses dalam pendidikan dan layanan kesehatan mental semakin memperburuk insecurity di kalangan remaja, yang berdampak negatif pada kesehatan mental mereka.
Masa remaja adalah periode transisi dari masa anak-anak menuju masa dewasa. Pada tahap ini, banyak remaja mengalami rasa insecure atau ketidakamanan yang dapat menghambat perkembangan kepercayaan diri mereka.
Apa Itu Insecure?
Menurut Abraham Maslow, insecure adalah suatu keadaan dimana seseorang yang merasa tidak aman, menganggap dunia sebagai sebuah hutan yang mengancam dan kebanyakan manusia berbahaya dan egois.
Orang yang mengalami insecure umumnya merasa ditolak dan terisolasi, cemas, pesimis, tidak bahagia, merasa bersalah, tidak percaya diri, egois, dan cenderung neurotik. Mereka akan berusaha untuk mendapatkan kembali perasaan secure (aman) dengan berbagai cara.
Penyebab Insecure?
Menurut psikolog klinis Melanie Greenberg, Ph.D., terdapat 3 penyebab umum seseorang merasa insecure, yaitu:
1. Pertama, insecure karena kegagalan atau penolakan yang terjadi baru-baru ini. Berdasarkan penelitian tentang kebahagiaan, peristiwa yang baru terjadi sangat mempengaruhi suasana hati dan perasaan kita tentang diri kita sendiri. Karena ketidakbahagiaan berdampak pada self-esteem, kegagalan dan penolakan dapat berdampak dua kali lipat pada ketidakpercayaan diri.
2. Kedua, insecure karena mengalami kecemasan sosial. Rasa takut dievaluasi orang lain dapat menyebabkan rasa cemas yang pada akhirnya membuat mereka menghindari situasi sosial karena merasa tidak nyaman. Jenis insecure ini umumnya didasarkan pada kepercayaan yang menyimpang tentang harga diri mereka.
3. Ketiga, insecure yang didorong oleh perfeksionisme. Beberapa orang memiliki standar yang sangat tinggi dalam segala hal yang mereka lakukan. Sayangnya, hidup tidak selalu menjadi seperti yang diinginkan. Jika terus-menerus kecewa dan menyalahkan diri sendiri karena menjadi sesuatu yang kurang sempurna, maka akan timbul perasaan tidak nyaman dan tidak layak.
Selain itu, adanya tekanan untuk memenuhi standar kecantikan yang tidak realistis sering kali menciptakan citra diri yang negatif. Media massa berperan besar dalam membentuk ekspektasi ini, sehingga individu merasa tidak puas dengan penampilan mereka. Dalam era digital saat ini, banyak orang terpapar pada informasi atau konten yang menampilkan standar kecantikan yang tidak realistis. Hal ini dapat menyebabkan perbandingan sosial yang merugikan, di mana individu merasa tidak cukup baik jika tidak mencapai penampilan yang ditampilkan di media.
Dampak Insecurity pada Remaja
1. Kesehatan Mental yang Menurun
2. Hubungan Sosial yang Terganggu
3. Penurunan Prestasi Akademik
4. Perilaku Berisiko
5. Gangguan pada Identitas Diri
6. Dampak Jangka Panjang
Cara mengatasi Insecurity dengan meningkatkan self-esteem dan self-acceptance
Cara mengatasi insecure adalah meningkatkan harga diri (self-esteem), dengan fokus pada hal-hal yang penting dan menyenangkan diri sendiri. Harga diri yang tinggi memungkinkan individu untuk merasa lebih berharga dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan lebih baik. Dan (self-acceptance) Menerima diri apa adanya membantu individu untuk tidak terlalu keras pada diri sendiri, sehingga mengurangi tekanan untuk memenuhi standar tertentu
Dengan menerapkan cara diatas, rasa percaya diri akan meningkat, yang berkontribusi pada perasaan aman (secure). Kepercayaan diri yang kuat membuat individu lebih mampu menghadapi situasi sulit tanpa merasa terancam atau tidak berharga.
Athiyah Robbani Alfatin
Mahasiswa STEI SEBI