Penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya cenderung meningkat
DEPOKPOS – Jumlah penderita HIV/AIDS perempuan semakin bertambah seiring dengan meningkatnya penularan pada perilaku seksual tidak aman pada laki-laki yang kemudian menularkan HIV kepada pasangan seksualnya.
Selain itu, penularan HIV dari ibu yang terinfeksi HIV kepada bayinya cenderung meningkat seiring dengan meningkatnya jumlah perempuan yang terinfeksi HIV.
Penularan HIV dari ibu ke anak dapat tersebut dapat terjadi pada saat kehamilan, persalinan, dan menyusui. Kementerian Kesehatan telah mengupayakan pencegahan penularan HIV/AIDS dari ibu ke anak sesuai rekomendasi WHO (2009) dengan menerbitkan Pedoman Pencegahan Penularan HIV dari Ibu ke Anak tahun 2012.
Untuk mencegah terjadinya penularan dokter mungkin menyarankan obat-obatan dan peralatan medis untuk membantu mencegah infeksi HIV, termasuk:
• Obat antiretroviral (ARV), termasuk Profilaksis Pra-Pajanan (PrEP) oral dan produk kerja panjang
• Cincin vagina dapivirine
• Cabotegravir yang dapat disuntikkan dan bekerja lama.
ARV juga dapat digunakan untuk mencegah ibu menularkan HIV kepada anak-anaknya. Orang yang menjalani terapi antiretroviral (ART) dan tidak memiliki bukti adanya virus dalam darah tidak akan menularkan HIV ke pasangan seksualnya. Akses terhadap tes dan ART merupakan bagian penting dari pencegahan HIV.
Penyakit ini diobati dengan obat antiretroviral, yang menghentikan replikasi virus di dalam tubuh. Ibu hamil dengan HIV harus mendapatkan akses dan menjalani ART sesegera mungkin. Hal ini melindungi kesehatan ibu dan membantu mencegah penularan HIV ke janin sebelum lahir atau melalui ASI.
Oktapasha Hanifah Zahra Sukoco,
D-IV Teknologi Laboratorium Medik, Universitas Binawan.

