DEPOKPOS – Pertumbuhan (growth) adalah proses peningkatan yang ada pada diri seseorang yang bersifat kuantitatif, atau peningkatan dalam hal ukuran. Peningkatan karena kesempurnaan dan bukan karena penambahan bagian yang baru. Pada studi perkembangan motorik cenderung digunakan dalam kaitannya dengan peningkatan ukuran fisik.
Contoh pertumbuhan : Bertambahnya tinggi badan, bertambahnya lebar panggul, dan bertambahnya berat badan.
Perkembangan (development) adalah proses perubahan kapasitas fungsional atau kemampuan kerja organ-organ tubuh ke arah keadaan yang makin terorganisasi (bisa dikendalikan) dan terspesialisasi (sesuai kemauan fungsinya masing-masing).
Perkembangan bisa terjadi dalam bentuk perubahan kuantitatif dan kualitauf. Perubahan kuantitatif adalah perubahan yang bisa diukur. Perubahan kualitatif adalah perubahan dalam bentuk: semakin baik, semakin lancar, yang pada dasarnya tidak bisa diukur. “Perkembangan” dan “gerak” apabila disatukan menjadi perkembangan gerak, berarti suatu proses sejalan dengan bertambahnya usia dimana secara bertahap dan bersinambung gerakan individu meningkatkan keadaan sederhana, tidak terorganisasi, dan tidak terampil ke arah penampilan keterampilan gerak yang kompleks dan terorganisasi dengan baik dan pada akhirnya menyertai terjadinya proses menua (menjadi tua) dalam kehidupan normal.
Contoh perkembangan: • Bayi belum bisa jalan > berjalan tertatih-tatih 2 – 3 langkah > lancar sampai beberapa langkah. • Anak kecil mula-mula baru bisa pegang bola memantulkan bola sekali dua kali ke lantai > menggunakan 2 atau 1 tangan berulang kali.
Terdapat perbedaan antara pertumbuhan dan perkembangan yaitu, Pertumbuhan adalah proses penambahan jumlah atau ukuran sel, organ, atau sistem dalam tubuh individu. Pertumbuhan biasanya diukur dengan parameter fisik seperti berat dan tinggi badan. Perkembangan merujuk pada perubahan sistematis dalam keterampilan, pengetahuan, dan kemampuan individu seiring waktu, yang melibatkan aspek fisik, kognitif, sosial, dan emosional.
Perkembangan biasanya diukur melalui pencapaian tahapan perkembangan yang diharapkan pada setiap usia. Perbedaan utama antara pertumbuhan dan perkembangan adalah bahwa pertumbuhan lebih focus pada penambahan ukuran dan kuantitas, sementara perkembangan dan kematangan melibatkan perubahan dalam kualitas atau kemampuan individu.
Sementara itu, pertumbuhan dapat diukur secara langsung melalui parameter fisik, seperti berat dan tinggi badan, sedangkan perkembangan lebih sulit diukur dan biasanya melibatkan observasi perilaku dan pencapaian perkembangan.
Fase-fase pertumbuhan dan perkembangan selama periode prenatal dan masa kanak- kanak mencakup tahapan yang sangat penting untuk perkembangan fisik, kognitif, dan emosional individu. Berikut adalah gambaran umum dari fase-fase tersebut:
1. Masa Sebelum lahir (Prenatal Period)
Masa ini berlangsung sejak terjadinya konsepsi atau pertemuan sel bapak-ibu sampai lahir kira-kira 9 bulan 10 hari atau 280 hari. Masa sebelum lahir ini terbagi dalam 3 priode; yaitu:
• Periode telur/zygote, yang berlangsung sejak pembuahan sampai akhir minggu kedua.
• Periode Embrio, dari akhir minggu kedua sampai akhir bulan kedua
• Periode Janin (fetus), dari akhir bulan kedua sampai bayi lahir.
2. Masa Bayi Baru Lahir (New Born)
Masa ini dimulai dari sejak bayi lahir sampai bayi berumur kira- kira 10 atau 15 hari. Dalam perkembangan manusia masa ini merupakan fase pemberhentian (Plateau stage) artinya masa tidak terjadi pertumbuhan/perkembangan.Ciri-ciri yang penting dari masa bayi baru lahir ini ialah:
• Periode ini merupakan masa perkembangan yang tersingkat dari seluruh periode perkembangan.
• Periode ini merupakan saat penyesuaian diri untuk kelangsungan hidup/perkembangan janin.
• Periode ini ditandai dengan terhentinya perkembangan.
• Di akhir periode ini bila si bayi selamat maka merupakan awal perkembangan lebih lanjut.
3. Masa Bayi (Babyhood)
Masa ini dimulai dari umur 2 minggu sampai umur 2 tahun. Masa bayi ini dianggap sebagai periode kritis dalam perkembangan kepribadian karena merupakan periode di mana dasar-dasar untuk kepribadian dewasa pada masa ini diletakkan. Bayi merupakan manusia yang baru lahir sampai umur 24 bulan, namun tidak ada batasan yang pasti. Pada masa ini manusia sangatlucu dan menggemaskan tetapi juga rentan terhadap kematian. Kematian bayi dibagi menjadi dua, kematian neonatal (kematian di 27 hari pertama hidup), dan post-neonatal (setelah 27 hari).
4. Balita Bawah Lima Tahun
Balita merupakan salah satu periode usia manusia setelah bayi sebelum anak awal. Rentang usia balita dimulai dari dua sampai dengan lima tahun, atau biasa digunakan perhitungan bulan yaitu usia 24-60 bulan. Periode usia ini disebut juga sebagai usia prasekolah.
5. Masa Kanak-kanak Awal (Early Chilhood)
Awal masa kanak-kanak berlangsung dari dua sampai enam tahun. Masa ini dikatakan usia pra kelompok karena pad nasa ini anak-anak mempelajari dasar-dasar perilaku sosial sebagai persiapan bagi kehidupan sosial yang lebih tinggi yang diperlukan untuk penyesuaian diri pada waktu masuk kelas 1 SD.
6. Masa Kanak-kanak Akhir (Later Chilhood)
Akhir masa kanak-kanak atau masa anak sekolah ini berlangsung dari umur 6 tahun sampai umur 12 tahun. Selanjutnya Kohnstam menamakan masa kanak-kanak akhir atau masa anak sekolah ini dengan masa intelektual, dimana anak-anak telah siap untuk mendapatkan pendidikan di sekolah dan perkembangannya berpusat pada aspek intelek.
Adapun Erikson menekankan masa ini sebagai masa timbulnya “sense of accomplishment” di mana anak-anak pada masa ini merasa siap untuk enerima tuntutan yang dapat timbul dari orang lain dan melaksanakan/menyelesaikan tuntutan itu. Kondisi inilah kiranya yang menjadikan anak-anak masa ini memasuki masa keserasian untuk bersekolah.
Menurut Piaget, anak dilahirkan dengan beberapa skemata sensorimotor, yang memberi kerangka bagi interaksi awal anak dengan lingkungannya. Pengalaman awal si anak akan ditentukan oleh skemata sensorimotor ini.
Dengan kata lain, hanya kejadianyang dapat diasimilasikan ke skemata itulah yang dapat di respons oleh si anak, dan karenanya kejadian itu akan menentukan batasan pengalaman anak. Tetapi melalui pengalaman, skemata awal ini dimodifikasi.
Setiap pengalaman mengandung elemen unik yang harus di akomodasi oleh struktur kognitif anak. Melalui interaksi dengan lingkungan, struktur kognitif akan berubah, dan memungkinkan perkembangan pengalaman terus-menerus.
Tetapi menurut Piaget, ini adalah proses yang lambat, karena skemata baru itu selalu berkembang dari skemata yang sudah ada sebelumnya.
Dengan cara ini, pertumbuhan intelektual yang dimulai dengan respons refleksif anak terhadap lingkungan akan terus berkembang sampai ke titik di mana anak mampu memikirkan kejadian potensial dan mampu secara mental mengeksplorasi kemungkinan akibatnya.
Teori Vigotsky disebut juga dengan teori sosiokultural, sebab menjelaskan perkembangan kognitif seseorang, selain ditentukan oleh individu sendiri secara aktif, juga dipengaruhi oleh lingkungan sosial.
Kedua faktor itu sama-sama punya peran besar dalam perkembangan kognitif anak. Menurut Vygotsky, proses perkembangan mental anak, seperti ingatan, perhatian, dan penalaran, tidak hanya didapatkan oleh anak itu sendiri, tetapi juga melibatkan pengaruh dari lingkungan sosial dan budayanya.
Sebagai misal, terdapat satu budaya yang menekankan metode ‘mencatat,’ sedangkan budaya lain mengedepankan metode “mengingat atau hafalan”. Perbedaan budaya ini dapat memengaruhi cara anak dalam belajar.
Perkembangan psikomotorik adalah perkembangan mengontrol gerakan – gerakan tumbuhan melalui kegiatan yang terkoordinasi antara saraf pusat otot. Dimulai dengan gerakan kasar yang melibatkan bagian besar dari tubuh tubuh, seperti duduk, berjalan, berlari, meloncat, dsb. Kemudian dilanjutkan dengan kordinasi gerakan halus, seperti meraih, memegang, melempar, dan sebagainya yang keduanya di perlukan dalam kehidupan sehari-hari sebagai suatu yang wajar.
Hal tersebut dianggap sebagai suatu kemampuan otomatis, sehingga perkembangannya kurang diperhatikan. Pencapaian kemampuan tersebut mengarah pada pembentukan keterampilan. Keterampilan motoric dibagi menjadi dua jenis yaitu :
➢ Keterampilan motorik halus, seperti keterampilan kecekatan jari, menulis, menggambar, menangkap bola dan sebagainya ;
➢ Keterampilan motarik kasar,meliputi kegiatan-kegiatan otot seperti berjalan, berlari naik dan turun tangga, melompat dan sebagainya.
Perkembangan keterampilan motorik merupakan faktor yang sangat penting bagi perkembangan pribadi secara keseluruhan. Pada perkembangan peserta didik, perkemabangan fisik – motorik memegang peran yang sangat penting sebab proses tumbuh kembang anak akan mempengaruhi aspek perkembangan yang lainnya, misalnya perkembangan kognitif, social, dan emosi.
Najmi Nihayah
Prodi Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta