Scroll untuk baca artikel
Artikel

Keprihatinan atas Kondisi Komunikasi Tokoh Politik di Indonesia

×

Keprihatinan atas Kondisi Komunikasi Tokoh Politik di Indonesia

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Dalam aspek kehidupan, komunikasi menjadi salah satu kegiatan yang tidak pernah bisa lepas. Tak dapat dipungkiri, dalam keseharian di masyarakat, komunikasi telah menjadi kunci berjalannya roda kehidupan. Beberapa aspek lain turut menggandeng komunikasi sebagai alat. Seperti di pasar, komunikasi digunakan untuk menawarkan dagangan dan juga proses tawar menawar harga. Di sekolah, komunikasi digunakan untuk menyampaikan materi dan juga tanya jawab. Begitupun dengan kegiatan politik khususnya di Indonesia. Politik merupakan salah satu dari sekian banyak praktik yang paling banyak di bicarakan dan diminati oleh masyarakat. Politik memiliki warna tersendiri dan boleh jadi berbeda pada masing – masing masyarakat.

Warna politik dalam masyarakat ini, tak luput dari komunikasi. Pada politik, komunikasi berperan sebagai pembangun citra, retorika, penunjang visi misi sampai dengan bahan kampanye. Komunikasi politik menjadi hal yang sangat sensitif di Indonesia. Pasalnya, masyarakat kita belum paham betul bagaimana sejatinya komunikasi politik yang baik. Seringkali, komunikasi politik dianggap sebagai propaganda ataupun provokasi. Minimnya literasi dan kurangnya kemauan masyarakat untuk membaca secara tuntas menjadi persoalan utama distorsi komunikasi politik. Komunikasi politik akan menjadi sesuatu yang berkesinambungan, apabila masyarakat mengerti serta memahami secara konsep dan konteks komunikasi politik itu sendiri.

Komunikasi politik saat ini tidak hanya sekedar debat calon yang dapat kita saksikan di televisi. Namun juga beberapa media modern seperti poadcast yang mulai melek akan politik di Indonesia. Lewat komunikasi modern, komunikasi politik menjadi sesuatu yang tidak kaku bahkan terbilang menyenangkan. Citra baru dalam komunikasi politik di era modern ini juga, menjadi salah satu penunjang bagi masyarakat untuk kritis dalam menjalankan atau menelaah komunikasi politik. Namun, masih banyak aktor-aktor politik yang melakukan kesalahan dalam berkomunikasi dan tidak mencerminkan sebagai tokoh politik.

Seperti kasus-kasus yang belom lama viral seorang tokoh politik yang sekarang menjabat sebagai Presiden RI yang melontarkan sebuah kata kontroversial ketika menghadiri rapat koordinasi nasional (Rakornas) Partai gerindra di Kemayoran, Jakarta Pusat pada Sabtu, 16 Desember 2023, Prabowo terlihat menirukan Anies saat bertanya soal pelanggaran etik dalam debat pertama calon presiden Pemilu 2024. Dalam video berdurasi 1 menit 5 detik itu, Prabowo Subianto terlihat menirukan perkataan kompetitornya, Anies Baswedan, saat debat capres Tahun lalu.

”Bagaimana perasaan Mas Prabowo, soal etik?Etik?Etik?” kata Prabowo menirukan Anies sambil menggoyang-goyangkan kepalanya. ”Ndasmu etik,” ujar Prabowo kemudian. Ucapan itu lantas disambut riuh tepuk tangan para peserta Rakornas. Mereka juga mengelu-elukan nama Prabowo setelah pernyataan tersebut.

Insiden-insiden ini tidak hanya tentang kesalahan berbicara atau ungkapan sesaat, Mereka mencerminkan kekurangan serius dalam kesadaran dan sensitivitas ketenangan para pemimpin. Pada tingkat dasar, kemampuan berbicara dengan sopan dan bijaksana adalah keterampilan yang sangat penting, terutama bagi politisi dan tokoh-tokoh publik.

Namun, tampaknya banyak individu yang belum menguasai keterampilan ini.Ini bukan hanya tentang etika berbicara, melainkan juga tentang menghormati lawan bicara dan ketenangan dalam menghadapi masalah. Kemampuan untuk ‘menyaring’ pikiran dan kata-kata sebelum diungkapkan sangat penting. Hal ini tidak hanya berlaku dalam komunikasi langsung, tetapi juga dalam interaksi di media sosial, yang seringkali menjadi sumber kontroversi. Media sosial, dengan sifatnya yang terbuka dan cepat, memang memfasilitasi penyebaran informasi. Namun, keterbukaan ini juga membawa risiko ketika digunakan tanpa pertimbangan yang hati-hati. Sikap ini tidak hanya melindungi mereka dari membuat kesalahan yang tidak perlu, tetapi juga membantu menjaga harmoni dan kerukunan dalam masyarakat yang plural.

Pendidikan dan pelatihan komunikasi harus menjadi prioritas, baik di sekolah maupun dalam lingkungan profesional, terutama bagi mereka yang beroperasi dalam ranah publik. Mengembangkan empati, pemahaman lintas budaya, dan kesadaran akan dampak kata-kata kita terhadap orang lain adalah langkah-langkah penting dalam membangun masyarakat yang lebih inklusif dan penuh rasa hormat. Pendidikan ini harus mencakup aspek-aspek etika, empati, dan kesadaran akan komunikasi yang baik. Ini tidak hanya tentang mengurangi kesalahan berbicara, tetapi juga tentang mempromosikan dialog yang konstruktif dan harmoni.

Mengingat peristiwa-peristiwa terkini yang melibatkan Prabowo Subianto dan kasus-kasus yang sama sebelumnya, menjadi jelas bahwa ada urgensi untuk meningkatkan kesadaran dan kendali diri dalam berkomunikasi, terutama bagi para pemimpin dan figur publik. Komentar yang tidak dipertimbangkan dengan baik dapat menyebabkan luka yang mendalam, tidak hanya pada individu tetapi juga pada seluruh masyarakat. Masalah ini tidak terbatas pada kemampuan berkomunikasi dengan efektif, melainkan juga berkaitan dengan pemahaman mendalam tentang konteks komunikasi asertif.

Ini bukan hanya tentang menghindari kesalahan, melainkan juga tentang membangun dasar bagi masyarakat yang lebih harmonis dan inklusif. Peristiwa seperti ini seharusnya menjadi pengingat bagi kita semua tentang pentingnya berkomunikasi dengan bijak dan sensitif. Ini adalah tanggung jawab bersama yang memerlukan perhatian serius dari semua segmen masyarakat. Hanya dengan cara ini kita dapat berharap untuk menciptakan lingkungan publik yang lebih terhormat dan harmonis.

Mochammad Rizky Hakim