DEPOKPOS – Apabila anak melakukan kesalahan kerap sekali orang tua langsung menyalahkan anak tanpa mendengar penjelasan anaknya terlebih dahulu. Beberapa orang tua menanggapinya dengan marah, membentak, bahkan sampai berkata kasar. Tanpa orang tua sadari hal tersebut dapat mempengaruhi mental dan perkembangan anak. Kemudian banyak sekali orang dewasa yang berkata kasar tanpa melihat sekelilingnya apakah ada anak-anak yang akan menirunya. Para artis atau tokoh publik juga tidak sedikit dari mereka yang membuat konten dengan menggunakan kata kasar tanpa memikirkan siapa saja yang akan mengkonsumsi konten mereka, jika anak-anak yang mengkonsumsinya maka akan membuat anak-anak terpengaruhi dan mengikutinya.
Bahasa merupakan alat yang selalu digunakan setiap individu untuk menyampaikan pendapat, bekerja sama, dan berinteraksi dengan individu lainnya. Sesuai dengan fungsinya, bahasa sangatlah penting bagi setiap individu dalam menjalani kehidupan sehari-hari. Namun bahasa terus berkembang seiring berjalannya waktu, banyaknya bahasa yang baru dan tidak sedikit juga terdapat bahasa yang mengandung unsur kekerasan atau kasar. Penggunaan bahasa yang kasar atau berkata kasar sangatlah dilarang karena dianggap tidak etis, terutama jika dilontarkan kepada anak-anak dalam masa pertumbuhan. Anak pada usia 0 hingga 6 tahun memiliki golden brain atau masa emas perkembangan anak, dimana anak-anak menyerap dan menirukan segala sesuatu yang mereka lihat dan dengar dari sekeliling mereka. Oeh karena itu, sebagai orang tua harus mengusahakan menjaga tutur katanya agar tidak berkata kasar sekalipun dalam kondisi kesal atau marah. Para orang tua juga diharuskan memperhatikan lingkungan dan pergaulan dari anaknya agar terhindar dari penggunaan kata kasar.
Masa perkembangan dan mental anak-anak dapat terganggu jika mereka mendapatkan kata-kata yang kasar ataupun melontarkan kata kasar. Banyak dampak negatif yang terjadi dari hal tersebut seperti munculnya kekerasan verbal, menirukan perkataan kasar kemudian dilontarkan ditempat umum yang merupakan tindakan tidak etis. Kekerasan verbal yang dimaksud adalah makian, makian (abusive swearing) biasanya berisi tentang makian, hinaan, ejekan atau kata keji lainnya yang disebabkan perasaan marah atau jengkel. Bahasa tersebut dapat dipastikan menyebabkan tekanan mental pada lawan bicaranya, hal tersebut jelas merugikan orang disekitarnya. Psikologis anak dapat terganggu jika mendapatkan kekerasan verbal. Dengan mendapatkan kekerasan verbal anak dapat memiliki perasaan tidak percaya diri di lingkungan sosial, anak juga bisa mengalami demotivasi belajar yang akan menggangu perkembangan anak tersebut. Akibatnya, interaksi yang seharusnya berjalan lancar menjadi sulit untuk dilakukan.
Berkata kasar dengan intens yang dilakukan oleh anak-anak dapat menimbulkan efek emosional sehingga membuat anak-anak mudah sekali emosi atau marah saat ada hal atau becandaan yang menyinggung mereka, kemudian respon yang keluar pertama kali adalah berkata kasar. Selain mudah marah, berkata kasar menyebabkan anak-anak suka membantah omongan dari orangtua sehingga dapat melukai perasaan orang tua. Hal ini bisa terjadi karena faktor lingkungan dan pergaulan bebas yang sering mereka temui. Eitss tapi tidak hanya faktor lingkungan dan pergaulan, terdapat faktor lainnya yang membuat anak berkata kasar, menurut peneliti faktor-faktornya adalah sebagai berikut:
1. Keluarga
Keluarga, terutama orang tua adalah orang yang pertama kali berinterkasi dan menemani tumbuh kembang anak-anak mereka. Bagaimana cara orang tua mendidik anak-anaknya sangat mempengaruhi tumbuh kembang anak termasuk cara mereka bertutur kata. Ada orang tua yang tegas kepada anaknya dalam bertutur kata dan membiasakan bertutur kata yang baik dalam lingkup keluarganya, sehingga menyebabkan anak-anak mereka terbiasa menggunakan bahasa yang baik, baik di lingkup keluarga maupun di luar lingkup keluarga. Namun ada pula orang tua yang membiarkan anak-anaknya bebas dalam bertutur kata dalam artian yang negatif, mungkin menurut sebagian orang tua membiarkan anak-anaknya berkata kasar agar anak-anaknya akrab dengan teman-temannya, namun ternyata dugaan itu salah. Kebanyakan anak-anak yang dibiarkan orang tuanya berkata kasar tidak takut dan berani mengucapkannya tanpa melihat tempat, waktu, dan kepada siapa mereka berkata kasar.
2. Lingkungan dan Teman Bermain
Selain lingkungan keluarga, lingkungan sosial dan pertemanan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang dan cara anak-anak bertutur kata. Jika anak-anak disekelilingi orang-orang yang bersikap dan bertutur kata baik, maka mereka pun akan menyerap hal yang baik. Sebaliknya jika mereka hidup dengan disekelilingi orang-orang yang bersikap dan berkata kasar, maka mereka pun akan menyerap hal yang buruk. Berteman dengan banyak orang memanglah hal yang bagus dan positif, namun tidak dapat dipungkiri pertemanan dapat memberikan hal negatif juga.
3. Media Sosial
Handphone di zaman teknologi seperti saat ini sudah menjadi kebutuhan primer yang wajib dimiliki setiap individu, bahkan banyak anak-anak yang sudah diberikan handphone oleh orang tuanya. Sayangnya penggunaan handphone tidak sepenuhnya baik, banyak konten yang seliweran memberikan efek negatif dengan menggunakan bahasa kasar. Hal tersebut memungkinkan anak-anak yang melihat kontennya akan menirukan berkata kasar.
Dalam mengatasi hal tersebut, terdapat upaya yang bisa dilakukan agar anak-anak tidak terbiasa berkata kasar setidaknya untuk dicegah ataupun dihilangkan. Upaya yang bisa dilakukan diantaranya:
1. Sebagai orang tua jika mendengar anak-anaknya mulai berkata kasar, diharapkan orang tua dapat menegurnya dengan halus. Namun jika masih dilakukan lagi, disarankan untuk menegurnya cukup keras agar anak-anak tau jika hal tersebut adalah hal yang salah dan tidak boleh digunakan.
2. Sebagai orang yang berada di sekelilingnya jika menemukan dan mendengar anak-anak berkata kasar, sama halnya dengan orang tua upaya yang dilakukan adalah menegur. Tidak perlu merasa takut dan sungkan/tidak enak kepada orang tuanya karena menegur anak-anak yang berkata kasar adalah hal yang benar, jika dibiarkan maka hal tersebut akan terus berkembang dan tidak baik untuk masa perkembangan anak.
3. Anak-anak adalah makhluk yang sangat cepat tanggap dan suka meniru hal yang berada disekelilingnya, maka sebagai orang tua atau orang dewasa yang berada di sekeliling anak-anak diharapkan mampu memberikan hal-hal baik, baik dalam perilaku maupun perkataan. Jika dari orang di sekeliling sudah berkata baik maka anak-anak pun akan menirukan untuk berkata baik.
Membiasakan hal-hal baik dapat menimbulkan efek dan manfaat yang baik juga pada kehidupan, begitu pula jika berkata baik. Jika kehidupan berisikan kata-kata baik maka hidup terasa indah karena tidak ada orang-orang yang terpancing emosi yang disebabkan kata kasar. Anak-anak zaman sekarang juga cenderung suka mengikuti sesuatu baik perilaku maupun perkataan yang menurut mereka unik, maka anak-anak sedari kecil harus dididik dengan baik dan ditanamkan nilai agama agar terhindar dari kebiasaaan buruk dan berkata kasar. Dengan dilakukannya upaya-upaya tersebut dapat membuat karakter anak terbentuk menjadi lebih baik, karena peran orang tua, guru, dan lingkungan sosisal tidak dapat dipisahkan dari proses sosialisasi yang terjadi anatara mereka.
Berkata kasar sudah pasti memiliki dampak buruk baik dipihak pendegar maupun pelaku, karena hal tersebut dapat melukai hati. Jika hal ini dilakukan secara konsisten akan menyebabkan pada hilangnya kepercayaan diri, dari hilangnya kepercayaan diri akan berlanjut pada sikap peisimis (merasa tidak dapat melakukan hal positif, rendah diri, takut untuk mengambil resiko dan mudah menyerah).
Terdapat beberapa dampak buruk lainnya jika sering berkata kasar, diantaranya:
1. Menjelekkan reputasi diri
Seringnya berkata kasar kepada orang dan ditempat umum, akan membuat orang memiliki pandangan buruk sehingga akan menjatuhkan dan menjelekkan reputasi bagi orang yang berkata kasar.
2. Merusak hubungan
Berkata kasar pada orang lain tidak menutup kemungkinan membuat orang yang dikatai merasa sakit hati, dan memilih untuk menjauhi/memutus hubungan pertemanana dengan pelaku.
3. Membuat diri sendiri tidak Bahagia
Sering mengucapkan kata-kata kasar dapat memicu perasaan gelisah, kecemasan dan stress sehingga membuat diri tidak Bahagia.
4. Dampak hukum
Melontarkan kata-kata yang kasar kepada orang lain dapat dikenakan hukuman tindak pidana, terutama jika masuk kategori penghinaan dan pencemaran nama baik seseorang.
Demi kemajuan para penerus bangsa, memang sudah menjadi tanggung jawab semua masyarakat agar menjaga cara bertutur kata di kehidupan sehari-hari terutama didepan anak-anak. Mengetahui sifat anak-anak yang sangat mudah menyerap dan meniru kita sebagai orang tua atau orang yang lebih dewasa harus bisa mendidiknya dengan baik.
Jika seluruh masyarakat mengguanakan bahasa yang baik maka suasana yang tercipta akan positif dan akan mengurangi konflik satu sama lainnya, anak-anak penerus bangsa juga akan berkembang dengan baik dan maksimal.
Nasywaa Rihhadatul Aaisyah
Mahasiswa Psikologi Universitas Sebelas Maret Surakarta