Artikel

Bersedih Tanpa Sebab, Kenali Anticipatory Grief dalam Hubungan Beda Agama

×

Bersedih Tanpa Sebab, Kenali Anticipatory Grief dalam Hubungan Beda Agama

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Apakah kamu pernah berada dalam suatu hubungan yang melibatkan dua keyakinan? Apakah kamu sedang menjalani hubungan berlandaskan dua perbedaan kepercayaan? Jika kamu pernah mengalaminya atau sedang menjalaninya, tak asingkah kamu dengan perasaan sedih mendalam yang tiba-tiba menyerang saat semua orang tertidur lelap dalam mimpinya? Pernahkah kamu bertanya-tanya, sebenarnya perasaan apakah ini? Dalam hal ini, tidak semua orang memahami bahwa dirinya mungkin saja sedang berada dalam fase anticipatory grief.

Melansir dari Women’s Health, Jumat (01/11/2024), anticipatory grief adalah proses emosional kompleks yang dialami individu sebelum kehilangan yang diperkirakan benar-benar akan terjadi. Anticipatory grief dapat menimbulkan perasaan sedih yang mendalam ketika kita mengetahui perkiraan akhir dari suatu hubungan. Ketika menjalani hubungan beda agama, mayoritas pihak yang menjalani sudah mengetahui bagaimana akhir dari hubungan tersebut.

Tak jarang pihak-pihak yang menjalani hubungan sudah memahami kapan ia harus melepaskan ikatan perbedaan dua keyakinannya. Hal tersebut berarti bahwa sebagian besar orang yang sedang menjalani suatu hubungan beda agama tentu merasakan sebuah rasa duka sebelum fase kehilangan yang asli benar- benar terjadi. Ketika perasaan sedih tersebut kian mendalam disitulah seseorang akan memproses rasa takut akan kehilangan dan memulai fase anticipatory grief dalam dirinya.

Anticipatory grief dipicu dari beberapa emosi kompleks yang mendasari fase itu sendiri. Emosi tersebut dapat berupa kecemasan, kesedihan, dan keraguan. Dalam hubungan beda agama, tentu perasaan-perasaan tersebut sangatlah familier dan sering dirasakan oleh masing-masing individu yang tengah menjalaninya. Perasaan ini mengantarkan individu untuk mengalami tantangan emosional dan psikologis di dalam dirinya. Tak jarang pula tubuh menjadi lebih sering merespons perasaan-perasaan khawatir.

Pada dasarnya, perasaan yang timbul saat mengalami fase anticipatory grief cenderung mirip dengan perasaan yang timbul ketika seseorang benar-benar dalam fase grieving. Fase grieving berarti kehilangan yang ditakutkan sudah terjadi sedangkan, dalam anticipatory grief, kehilangan yang ditakutkan belum terjadi.

Melansir dari Very Well Health, Lynne Eldridge, MD menyebutkan bahwa anticipatory grief mirip dengan kesedihan yang dirasakan ketika orang terdekat telah meninggal. Namun, anticipatory grief biasanya akan menyebabkan diri menjadi marah dan sulit untuk mengendalikan emosi. Hal ini menjadi gejolak emosi yang timbul dari fase anticipatory grief.

Gejolak emosi yang timbul di dalam perjalanan hubungan beda agama membawa dampak-dampak psikologis dari kedua belah pihak. Beberapa kasus menunjukkan terdapat perubahan perilaku individu dalam berinteraksi dengan keluarganya. Hal ini merupakan bentuk manifestasi dari rasa takut akan penolakan.

Dalam konteks ini, pasangan yang sedang menjalani hubungan beda agama juga mendapatkan tantangan psikologis berupa stigma sosial dan tekanan dari keluarga mereka masing- masing. Tantangan tersebut dapat berupa penolakan keluarga maupun teman, perbedaan nilai atau tradisi yang ada dalam kehidupan pribadi mereka sehari-hari, dan kekhawatiran tentang masa depan.

Takut akan penolakan dapat menimbulkan emosi negatif bagi individu yang menjalani hubungan beda agama karena mereka berpikir bahwa tidak ada pihak keluarga yang mendukung hubungan mereka selain dirinya sendiri.

Lalu, perbedaan nilai atau tradisi yang dimiliki oleh masing-masing individu tentu akan menjadi tantangan tersendiri dalam menjalankan hubungan beda agama. Baik dari cara beribadah hingga kebiasaan sehari-hari yang dijalani, tentunya akan terdapat perbedaan yang semakin membuat pasangan merasa jauh. Selanjutnya, kekhawatiran akan masa depan tentu akan menjadi tekanan bagi mereka. Dapatkah hubungan ini berlanjut? Bisakah saya hidup terus bersama dengan orang ini? Pertanyaan-pertanyaan tersebut akan sering terlintas di pikiran mereka.

Lalu, bagaimana cara kita berdamai dengan perasaan kurang nyaman yang timbul dari fase anticipatory grief? Dilansir dari idntimes.com terdapat beberapa cara yang dapat kita lakukan untuk membuat hubungan beda agama bertahan dalam menghadapi ketidaknyamanan anticipatory grief. Hal-hal yang dapat kita lakukan tersebut antara lain:

Pertama, kita dapat membiarkan diri merasakan kesedihan. Hal ini menjadi langkah paling utama untuk dapat mengatasi rasa sedih dalam fase anticipatory grief. Mengakui bahwa perasaan yang timbul adalah valid merupakan cara yang dapat membuat diri sendiri merasa lebih lega. Dibanding dengan menyangkal perasaan yang timbul, menerima dan mengaku bahwa diri sedang bersedih menjadi hal yang akan membantu kita untuk menghadapi anticipatory grief.

Kedua, menceritakan dan mengekspresikan apa yang sedang dirasakan. Tentu perasaan- perasaan kompleks akan menjadi lebih bisa kita kenali apabila kita memberikan ruang untuk perasaan tersebut bertumbuh. Dengan mengekspresikannya, perasaan akan menjadi lebih melegakan.

Ketiga, kita bisa menghabiskan waktu dengan orang yang kita cintai. Dalam menjalani hubungan beda agama, meskipun kita mengetahui bahwa hubungan tersebut dapat berakhir kapan saja, kita dapat menggunakan alasan tersebut untuk memanfaatkan waktu dengan lebih baik lagi terhadap pasangan kita.

Hal-hal di atas akan membantu kita untuk dapat menghadapi fase anticipatory grief. Perasaan sedih yang tiba-tiba menyerang diri padahal hubungan dengan pasangan baik-baik saja dapat semakin kita kenali sebagai bagian dari fase kehidupan yang normal, fase anticipatory grief. Hubungan beda agama rawan membuat seseorang terperangkap dalam fase tersebut. Namun, dengan adanya pengakuan terhadap perasaan yang dimiliki, tentu individu yang sedang mengalami fase anticipatory grief akan lebih memahami apa yang sedang dihadapi.

Selain itu, kita harus mengakui bahwa dalam menjalin hubungan beda agama tentu akan mendapatkan tantangan-tantangan yang lebih besar dibandingkan dengan hubungan yang lain. Presentase tentang rasa takut kehilangan akan lebih tinggi di dalam hubungan beda agama. Oleh karena itu, menghadapi anticipatory grief dalam hubungan beda agama adalah sebuah perjalanan emosional yang penuh tantangan. Akan tetapi, dengan mengakui perasaan yang ada, mengkomunikasikan dengan pasangan, dan juga komitmen untuk saling menghargai dan bertahan, tentunya akan selalu ada jalan bagi penjalin asmara beda agama.

Maria Alexandria Dealova
(Mahasiswa Universitas Sebelas Maret, Prodi Psikologi)