Mengenal Leasing Syariah dan Penerapannya

Sewa syariah mempunyai banyak peraturan berdasarkan prinsip dan pilar tertentu

DEPOKPOS – Leasing syariah adalah suatu sistem akad yang memberikan pembiayaan modal atas hak penggunaan suatu barang dan mengharuskan pemakainya membayar dalam jangka waktu tertentu.

Sederhananya, sewa syariah adalah sistem yang sangat sederhana karena memungkinkan pemberian modal (biasanya dalam bentuk kendaraan) tanpa kepemilikan tetapi dengan hak sewa terbatas.

Meskipun prosesnya secara umum sama dengan sewa tradisional, sewa syariah mempunyai banyak peraturan berdasarkan prinsip dan pilar tertentu. Pada kenyataannya, muezzil digunakan untuk menyebut tuan tanah. Penerima sewa kini biasa disebut dengan mustadir. Oleh karena itu, proses atau biaya sewanya sendiri disebut Ijarah.

Menurut Syafi’i, sewa syariah adalah transaksi yang diperbolehkan (boleh). Sekalipun didasarkan pada rukun-rukun tertentu, sewa syariah merupakan suatu sistem yang harus dilaksanakan berdasarkan landasan hukum sebagai berikut:

Surat DSN-MUI (Dewan Syariah Nasional-Majelis Ulama Indonesia) No. B-323/DSN-MUI/XI/2007

Peraturan yang membahas bagaimana pelaku usaha mendasarkan usahanya pada syariah dan harga jual (Peraturan Otoritas Pasar Modal No.PER-03/BL/2007)

Peraturan DSN mengenai Al-Ijarah Al-Muntahiyah

Selain ketiga aturan tersebut di atas, Islam juga mengatur prinsip-prinsip berikut yang menjadi dasar hukum proses syariah:

• Prinsip keadilan
• Prinsip kebebasan
• Prinsip pertimbangan

Prinsip memperoleh manfaat sekaligus menghilangkan kerugian

• Prinsip pengarahan
• Prinsip larangan saling merugikan
• Prinsip kesukarelaan
• Prinsip itikad baik
• Prinsip prioritas tugas

Prinsip-prinsip Leasing Syariah Menurut DSN (Dewan Syariah Nasional) dan OJK (Departemen Jasa Keuangan), salah satu kewajiban dalam menerapkan mekanisme leasing syariah adalah mengikuti prinsip-prinsip tertentu seperti:

Seimbang (tawazun)

• Tidak berkepentingan (riba)
• Berwatak alami
• Mengutamakan kepentingan umum
• Tidak melibatkan penipuan
• Tidak melakukan suap (rishwa)
• Bertindak adil

Jika Anda tertarik untuk mengajukan sewa syariah, harap perhatikan baik-baik mekanismenya di bawah ini.

Bank dapat menjual barang sewaan
Jika angsuran berhasil diselesaikan, bank syariah dapat menjual barang sewaan tersebut kepada Mustajir (nasabah asosiasi). Oleh karena itu, perbankan syariah dapat dikatakan sama dengan pembelian barang secara tunai dan dicicil harganya oleh Mustajir.

Ada transfer manfaat.
Dapat disimpulkan bahwa sepanjang proses Ijarah terjadi transfer manfaat antar para pihak. Misalnya saja dalam sewa sepeda motor syariah, bank syariah membeli sepeda tersebut dan nasabah harus mencicilnya sampai lunas. Oleh karena itu, telah terjadi transfer keuntungan, nasabah telah menerima sepedanya, dan bank telah berhasil melunasinya.

Proses pembayaran dilakukan secara angsuran.
Musta’jir dapat melakukan seluruh transaksi pembayaran secara angsuran sampai dengan pembayaran penuh. Besaran biaya ini tentunya harus disepakati oleh kedua belah pihak.
Bebas bunga Karena sewa syariah adalah pinjaman modal berdasarkan syariah, maka memasukkan bunga dalam proses transaksi adalah ilegal. Sebab, bunga dianggap riba yang dilarang dalam Islam.

Ada kesepakatan mengenai biaya sewa.
Salah satu mekanisme syariah yang paling penting dalam penyewaan sepeda motor atau mobil adalah menyepakati harga sewa. Artinya, semua pihak harus mempunyai suara dalam proses tersebut sehingga tidak ada pihak yang merasa dirugikan.
Demikian ulasan mengenai pengertian leasing, contoh dan mekanismenya.

Oleh : Wafa Inayati Estiazzahra