DEPOKPOS – Keluarga berperan sangat penting sebagai wadah yang menjadi ruang kecil untuk anak dalam hal pertumbuhan dan perkembangan, untuk itu keterlibatan peran kedua orang tua dalam pengasuhan menjadi sangat penting.
Namun, pada kenyataannya banyak sekali anak-anak yang tidak merasakan kehadiran kedua orang tua secara utuh disebabkan oleh beberapa faktor seperti kematian, anak yang lahir diluar nikah sehingga dirawat oleh single parent, dan tingginya angka perceraian (Yuliawati dalam Alfasma, W., Santi, D., dan Kusumandari, R., 2022)
Selain itu, menurut East, Jackson, dan O’Brien (dalam Junaida, dkk., 2023) bahwa ketiadaan peran salah satu orang tua dalam pengasuhan dapat disebabkan karena adanya perselisihan antar orang tua, keterikatan terhadap pekerjaan, terlibat dalam pelanggaran hukum atau menjadi tahanan, serta kehadiran fisik namun adanya pengabaian. Novela (2019) mengungkapkan bahwa dalam pengasuhan keluarga, ayah menjadi salah satu figur yang tidak kalah penting, ketika hilangnya peran ayah dalam keluarga maka ini dikenal dengan sebutan “fatherless”.
Fenomena fatherless sendiri sudah menjadi issue global yang menjadi perhatian berbagai pihak, hal ini didukung oleh data dari USA Facts tahun 2020 tercatat lebih dari 19 juta anak di Amerika Serikat hidup tanpa ayah pada tahun 2018 (dalam Mora, T. Z., 2021) dan data terkini secara keseluruhan Biro Sensus AS (2022) mencatat sekitar 80% rumah tangga dipimpin oleh ibu tunggal.
Tidak hanya di Amerika, fenomena fatherless ini juga terjadi di Indonesia dan memiliki angka statistik yang tinggi, melalui Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Linda Amalia Sari Gumelar mengungkapkan bahwa terdapat sekitar 7 juta perempuan di Indonesia yang menjadi kepala keluarga atau single parent dan disisi lain, menurut data Susenas 2021, dari jumlah 30,83 juta anak usia dini yang ada di Indonesia, sekitar 2.999.577 orang kehilangan figur ayah atau tidak tinggal bersama dengan ayahnya.
Hal ini lah yang menjadikan Indonesia berada pada tingkat ke-3 di dunia sebagai negara fatherless (fatherless country) sesuai yang diungkapkan oleh Menteri Sosial Indonesia Khofifah Parawansah tahun 2017 (Djawa dan Ambarini, 2019) didukung dengan studi pada seluruh provinsi di Indonesia tahun 2008-2010 oleh Elly Risman menyatakan bahwa Indonesia merupakan negara paling “yatim” di dunia (Retno Listyarti, Komisioner KPAI dalam https://www.cnnindonesia.com, 2023).
Dengan begitu banyaknya penelitian yang mengungkapkan bahwa pentingnya kehadiran ayah dalam berbagai aspek perkembangan anak, tidak hanya hadir secara fisik dekat dengan anak namun juga secara psikologis memenuhi kebutuhan anak, penulis meyakini banyaknya dampak negatif yang akan hadir pada berbagai aspek perkembangan anak ketika adanya kekosongan pada peran ayah (fatherless).
Dampak pertama ialah pada aspek kognitif anak, berdasarkan penelitian yang dilakukan di The University of New Jersey menemukan hasil bahwa anak memiliki banyak interaksi dengan ayah akan memiliki IQ yang lebih tinggi dibandingkan anak yang tidak tercukupi interaksinya atau bahkan sama sekali tidak berinteraksi (Ni’ami, M., 2021).
Keterlibatan ayah secara aktif nyatanya membawa dampak pada pencapaian akademis anak, perkembangan karir, dan pencapaian tingkat pendidikan yang lebih tinggi (Allen dan Daly dalam Sutanto dan Suwartono, 2019). Hal ini sejalan dengan temuan Brewer (2022) bahwa anak-anak yang ayahnya terlibat aktif dalam pengasuhan akan memiliki prestasi atau capaian akademik yang baik di sekolah, fakta ini didukung dengan beberapa data penelitian yang menunjukkan bahwa mereka 33% lebih kecil kemungkinan untuk mengulang kelas dan 43% lebih besar kemungkinan untuk mendapatkan nilai A atau maksimal selama pembelajaran di kelas.
Dengan begitu, selain ibu, ayah juga memiliki keterlibatan yang penting dalam mendukung kegiatan belajar dan memberikan dorongan yang positif untuk meningkatkan minat dan motivasi anak terhadap prestasi akademik. Selain dalam bidang akademik, anak-anak fatherless juga akan berkemungkinan mengalami permasalahan dalam perkembangan keterampilan kognitif seperti berpikir analitis dan pemecahan masalah. Mereka cenderung akan menghadapi tantangan dalam kemampuan menilai situasi dari berbagai sudut pandang dan mengembangkan strategi penyelesaian masalah yang efektif.
Selanjutnya yang kedua, yaitu dampak pada aspek emosional anak, Allen dan Daly pada tahun 2007 (dalam Sutanto dan Suwartono, 2019) mengemukakan bahwa anak yang ayahnya terlibat secara aktif akan memiliki tekanan emosional yang rendah, tingkat kecemasan yang rendah, serta kepuasan hidup yang tinggi. Menurut Alfasma, dkk. (2022), peran ayah dianggap sama pentingnya dengan peran ibu, karena karakter ayah yang lebih tenang dapat memberikan dampak positif pada perkembangan anak.
Anak-anak yang tumbuh dalam rumah tanpa kehadiran ayah menghadapi kondisi emosional yang lebih buruk, mereka sering kali merasakan harga diri yang lebih rendah dibandingkan dengan anak-anak lain dan kesulitan memahami mengapa ayah mereka meninggalkan mereka. Hal ini dapat mengakibatkan sejumlah masalah emosional, termasuk kecemasan, penarikan diri dari pergaulan, depresi, dan meningkatkan risiko perilaku menyakiti diri sendiri dan bahkan bunuh diri (Brewer, J., 2022).
Berdasarkan data U.S. DOJ Office of Justice programs (dalam Brewer, J., 2022) menunjukkan bahwa 63% remaja yang melakukan bunuh diri berasal dari rumah tanpa ayah atau fatherless.
Dampak emosional lain dari kehilangan figur ayah, seperti yang dirasakan oleh subjek dalam studi awal Aulia N (2023) dengan judul “Gambaran Attachment Style pada Dewasa Awal yang Mengalami Fatherless” adalah kecenderungan untuk menahan perasaan sendiri dan kesulitan dalam mengekspresikannya.
Penelitian yang dilakukan oleh Putri (2020) menambahkan bahwa anak-anak yang mengalami fatherless cenderung memiliki penerimaan diri yang tidak stabil karena keadaan keluarga yang kacau, kurangnya kemampuan mengidentifikasi perasaan, dan kecenderungan menekan perasaan.
Kehilangan figur ayah pada usia dini juga dapat mempengaruhi aspek-aspek intimacy, seperti kemampuan berbagi, kepercayaan, dan kejujuran (Hoshi, 2018), ini dipengaruhi oleh cara ayah memperlakukan anak-anak saat kecil dan kesan yang ditinggalkan oleh ayah. Oleh karena itu, dampak emosional dari ketiadaan peran ayah pada anak perempuan dapat terasa sangat kuat, anak perempuan yang tumbuh tanpa kehadiran ayah mungkin mengalami berbagai emosi, termasuk kemarahan, kesedihan, dan kebingungan, mereka mungkin mengalami kesulitan memahami dan mengelola emosi mereka yang dapat menyebabkan kesulitan emosional yang berlanjut sepanjang hidup mereka.
Selain itu, secara spesifik pada anak laki-laki akan mengalami penurunan pada kepercayaan diri saat akan membangun hubungan di masa depan dikarenakan tidak mendapatkan contoh dari sosok ayah yang bisa ia terapkan ketika membangun keluarga, sedangkan pada anak perempuan yang tidak memiliki ayah juga berjuang dengan perasaan ditolak dan ditinggalkan, hal itu mempengaruhi kemampuan mereka untuk membentuk hubungan yang sehat dan erat (McLanahan et al., 2013; Papernow, 1993).
Selain pada aspek emosional, peran ayah juga berpengaruh pada aspek sosial anak, Allen dan Daly mengemukakan dampak sosial dari fatherless mencakup pada inisiatif sosial yang kurang, motivasi dalam kompetisi sosial yang rendah, dan hubungan anak dengan orang lain yang mungkin kurang baik (Sutanto dan Suwartono, 2019).
Dalam konteks hubungan interpersonal, dampak fatherless dapat mempengaruhi kepercayaan anak perempuan maupun laki-laki dan berdampak pada dinamika hubungan masa depan mereka. Dampak ketiadaan ayah pada perkembangan sosial anak laki-laki dapat menjadi signifikan, menciptakan tantangan dalam membangun hubungan interpersonal dan memahami peran maskulinitas, anak laki-laki yang tumbuh tanpa kehadiran ayah mungkin mengalami kesulitan dalam mengembangkan keterampilan sosial dan interpersonal yang diperlukan untuk berinteraksi dengan pria dewasa dan teman sebaya.
Mereka mungkin merasa kekurangan model peran yang positif dalam membimbing mereka dalam memahami norma dan nilai-nilai yang terkait dengan identitas laki-laki, selain itu, kurangnya keterlibatan ayah dapat memengaruhi kemampuan anak laki-laki dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain, karena mereka cenderung menghadapi kesulitan dalam membangun rasa kepercayaan dan keterikatan emosional.
Hal ini dapat berdampak pada perkembangan kemampuan komunikasi, resolusi konflik, dan adaptasi sosial, yang merupakan aspek penting dalam membentuk hubungan yang seimbang dengan lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, keterlibatan ayah yang positif dan model peran yang baik sangat penting untuk mendukung perkembangan sosial anak laki-laki dan membantu mereka mengatasi potensi kesulitan sosial yang mungkin timbul akibat ketiadaan ayah dalam kehidupan mereka.
Sedangkan pada anak perempuan, studi oleh Hidayah, Ramli, dan Tassia (2023) menunjukkan bahwa anak perempuan yang mengalami fatherless cenderung mencari keterikatan emosional dari pasangan yang berbeda-beda sebagai upaya untuk mengatasi kekurangan keterikatan emosional dari ayah sehingga ketiadaan sosok ayah dapat memberikan dampak signifikan pada kemampuan anak perempuan untuk membentuk hubungan yang sehat dengan teman sebaya dan orang dewasa.
Menurut Roberts (2023), kekurangan keterlibatan ayah juga dapat menyebabkan kurangnya kepercayaan diri dan perasaan terisolasi secara sosial, ini menunjukkan bahwa interaksi dengan sosok ayah memiliki peran penting dalam membentuk kemampuan sosial anak perempuan. Peran ayah dalam kehidupan anak perempuan tidak hanya terbatas pada keberhasilan hubungan interpersonal, tetapi juga memiliki dampak dalam pemilihan pasangan hidup.
Asti et al. (dalam Diana, P. 2023) mengemukakan bahwa ayah menjadi standar bagi anak perempuan dalam menilai perilaku dan sifat baik atau tidak baik dari pria sehingga ketika anak perempuan kehilangan sosok ayah, hal ini dapat mengganggu persepsi dan penilaian mereka terhadap karakteristik pria. Akibatnya, kondisi fatherless dapat mendorong anak perempuan untuk mencari sosok ayah pada laki-laki lain, baik sebaya maupun yang memiliki usia jauh lebih tua, asalkan dapat memenuhi kebutuhan mereka akan sosok pelindung dan pengayom. Situasi ini membawa risiko anak perempuan terjebak dalam pertemanan yang tidak sehat dan dapat mengarah pada perilaku seks bebas sebagai upaya mengisi kekosongan emosional (Ni’ami, M. 2021).
Selanjutnya, keterlibatan ayah memiliki dampak signifikan pada pengembangan psikologis anak. Menurut Novela (2019), saat anak-anak tumbuh lebih tua, keterlibatan ayah membantu mereka hidup lebih puas dengan mengurangi tingkat depresi, gangguan emosi, serta perasaan negatif seperti rasa takut dan rasa bersalah. Anak-anak yang memiliki keterlibatan ayah juga cenderung lebih bahagia, kurang cemas, memiliki hubungan yang lebih baik dengan saudara dan rekan-rekan, serta menunjukkan sifat lebih murah hati dengan konflik yang lebih sedikit.
Ketiadaan sosok ayah juga memberikan dampak psikologis yang signifikan khususnya pada anak perempuan, mereka cenderung mengalami harga diri yang lebih rendah, perasaan ditinggalkan, dan kurang percaya diri dalam membentuk hubungan yang sehat (Markowitz & Ryan, 2016; McLanahan et al., 2013; Teel et al., 2016).
Hasil riset menunjukkan bahwa 63% anak yang tidak mengenal ayahnya berisiko mengalami masalah psikologis seperti gelisah, kehilangan pendirian, fobia, dan depresi (Zulkifli Rahman dalam Ni’ami, M. 2021), Frazier and Cowan (2020) juga menambahkan bahwa ketidakhadiran ayah memiliki dampak terhadap self-esteem anak perempuan secara umum, attachment positif dengan ayah dapat meningkatkan perasaan self-worth dan nilai diri anak perempuan. Oleh karena itu, ketidakhadiran ayah dalam pembentukan self-esteem berdampak pada tingkat kepercayaan diri atau self-confidence anak perempuan (Yusmansyah et al., 2021).
Tidak hanya pada perempuan, dampak psikologis pada anak laki-laki yang tumbuh tanpa kehadiran ayah (fatherless) juga dapat menjadi kompleks dan mempengaruhi berbagai aspek dalam perkembangan psikologis mereka. Penelitian menunjukkan bahwa ketidakhadiran ayah dapat berkontribusi pada risiko peningkatan tingkat depresi, kecemasan, dan masalah kesehatan mental lainnya pada anak laki-laki (Markowitz & Ryan, 2016).
Anak laki-laki yang tidak memiliki ayah mungkin mengalami tantangan dalam membentuk citra diri yang kuat dan stabil karena kurangnya model identifikasi yang positif dari seorang ayah, selain itu, mereka dapat menghadapi kesulitan dalam mengembangkan kemampuan sosial dan interpersonal, termasuk cara berinteraksi dengan pria dewasa dan memahami peran maskulinitas.
Hasil studi juga menunjukkan bahwa anak laki-laki fatherless cenderung mengalami tingkat harga diri yang lebih rendah, ketidakpastian mengenai nilai diri, dan kesulitan dalam membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain. Selain dampak emosional, anak laki-laki fatherless mungkin mengalami kesulitan dalam menetapkan identitas diri mereka, yang dapat memengaruhi perkembangan mereka selama masa remaja.
Oleh karena itu, penting untuk memahami bahwa kehadiran ayah memainkan peran krusial dalam membentuk kesejahteraan psikologis anak laki-laki dan keterlibatan ayah yang positif dapat membantu mengatasi sebagian dari dampak psikologis yang cenderung timbul akibat ketiadaan ayah dalam kehidupan mereka.
Terakhir, pengaruh fatherless terhadap perilaku bermasalah anak. Partisipasi ayah dalam proses pengasuhan anak juga memiliki dampak signifikan terhadap perilaku remaja dengan mengurangi risiko berbagai masalah perilaku, seperti penyalahgunaan narkoba, kenakalan remaja, dan konsumsi alkohol (Allen dan Daly dalam Sutanto dan Suwartono, 2019).
Data menyeluruh menunjukkan bahwa anak-anak yang tumbuh tanpa kehadiran ayah memiliki risiko penjara yang 20 kali lebih tinggi dibandingkan dengan mereka yang memiliki keterlibatan ayah yang positif (Seidel, 2022; Brewer J, 2022).
Brewer (2022) juga mencatat bahwa 85% anak-anak yang menunjukkan gangguan perilaku berasal dari rumah tanpa ayah. Dengan kata lain, dapat diketahui bahwa keterlibatan ayah dapat memberikan kontribusi signifikan terhadap tingkat keberhasilan anak dalam menghindari masalah perilaku serius seperti penyalahgunaan narkoba dan kenakalan remaja.
Dari penjelasan di atas, dapat disimpulkan bahwa terdapat banyaknya dampak negatif yang dapat ditimbulkan ketika seorang anak kehilangan peran ayah dalam kehidupannya atau yang sering kita sebut sebagai fatherless.
Dampak-dampak tersebut dapat mempengaruhi kehidupan anak dalam jangka waktu yang panjang meliputi dampak pada aspek kognitif, emosional, sosial, psikologis, dan masalah perilaku. Hal ini mengindikasikan betapa pentingnya kehadiran figur ayah pada berbagai aspek perkembangan anak.
Sylvina Ambryani Putri
Universitas Andalas

