Gangguan kesehatan mental pada anak-anak dan remaja mengalami tren peningkatan
DEPOKPOS – Pada bulan Agustus lalu, kabar dari IQAir (Index Quality Air) yang menyatakan bahwa Jakarta merupakan kota dengan polusi udara nomor satu tertinggi di dunia menggegerkan publik.
Gedung-gedung tinggi tampak seperti bayangan karena tertutup oleh kabut tebal, langit yang selalu tampak abu-abu, presiden Jokowi menderita batuk-batuk, dan beriringan dengan peningkatan kasus ISPA (Infeksi Saluran Pernapasan Atas) telah menguatkan pendapat publik bahwa polusi udara Jakarta merupakan persoalan genting yang harus segera diselesaikan.
Tercatat pada tanggal 31 Oktober 2023, polusi udara Jakarta masih berada di angka 153 yakni tidak sehat dan menduduki peringkat sepuluh dari seluruh kota-kota besar lainnya di dunia. Polusi udara di Indonesia sendiri pada tahun 2022 menduduki posisi ke-26 dari 131 negara dengan tingkat particulate matter 2.5 (PM2.5) berjumlah 6 kali lipat di atas ambang batas WHO.
Sejak Agustus, pemerintah Indonesia telah melakukan beberapa hal sebagai respon atas kegentingan polusi udara, seperti menggencarkan uji emisi, memberlakukan work-from-home (WFH), menghentikan perusahaan penyebab polusi, hingga hujan buatan.
Namun, keberhasilan program-program tersebut masih dipertanyakan karena nyatanya angka polusi udara tidak kunjung menurun dan cenderung stagnan. Sementara itu, dampak buruk dari polusi udara dapat terus dirasakan hingga saat ini khususnya pada kesehatan. Dampak kesehatan yang umum diketahui adalah gangguan pernapasan akibat kumpulan polutan di dalam saluran pernapasan.
Selain gangguan pernapasan, terdapat pula akibat paparan jangka pendek yakni hipertensi, stroke, insufisiensi jantung, serta akibat jangka panjang berupa komplikasi neurologis seperti autisme dan Alzheimer dan komplikasi psikologis seperti depresi. Sebuah penelitian di Cina pada tahun 2023 yang dipublikasikan pada jurnal Environmental Research menemukan bahwa terdapat hubungan kausal antara polusi udara dengan kesehatan mental.
Selain itu, artikel tahun 2019 yang dipublikasikan pada Psychiatry Research, menyatakan adanya keterkaitan antara paparan polusi udara tingkat tinggi pada usia 12 tahun dan peluang lebih besar terkena depresi pada usia 18 tahun. Penemuan ini tentunya memicu kekhawatiran akan nasib kesehatan mental remaja akibat keadaan polusi udara yang memprihatinkan.
Gangguan kesehatan mental pada anak-anak dan remaja mengalami tren peningkatan selama beberapa tahun terakhir, baik secara global maupun nasional. Menurut World Health Organization (WHO), satu dari tujuh anak berusia 10–19 tahun mengalami gangguan kesehatan mental yang merupakan 13% dari beban penyakit global pada kelompok usia tersebut.
Berdasarkan laporan penelitian dari Indonesia-National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022, satu dari tiga remaja (34,9%) atau sekitar 15,5 juta remaja Indonesia dilaporkan mengalami gangguan kesehatan mental dalam jangka waktu 12 bulan terakhir.
Gangguan kecemasan dan gangguan depresi mayor merupakan gangguan mental yang paling banyak dialami oleh remaja Indonesia. Fakta-fakta tersebut merupakan realita yang sangat mengkhawatirkan mengingat betapa pentingnya peran remaja bagi masa depan bangsa, sebagai Generasi Emas Indonesia.
Berbagai penelitian menunjukkan penyebab-penyebab dari gangguan kesehatan mental yang menimpa remaja, di antaranya adalah pola asuh orang tua, trauma masa kecil, keterikatan yang buruk, kurangnya perhatian dan kasih sayang, ataupun keterpaparan terhadap kekerasan.
Dalam beberapa waktu terakhir, hubungan antara polusi udara dengan kondisi kesehatan mental remaja semakin sering diteliti dan diperbincangkan oleh masyarakat. Penelitian menunjukkan bahwa remaja memiliki keterkaitan yang lebih kuat dengan gejala depresi dan kecemasan terkait polusi udara dengan menyebabkan peradangan saraf, stres oksidatif, kerusakan serebrovaskular, dan degenerasi saraf.
Faktor-faktor seperti perkembangan otak pada masa pubertas dan sistem pernafasan yang belum matang membuat remaja menjadi kelompok rentan terhadap dampak polusi udara.
Lokasi tempat tinggal juga berperan penting karena anak-anak atau remaja berada lebih dekat dengan tanah di mana beberapa polutan memiliki konsentrasi tertinggi. Fakta bahwa remaja mengalami peningkatan reaktivitas inflamasi kronis terhadap paparan PM2.5, dengan dampak pada respons stres dan sistem saraf otonom, memperburuk situasi mereka.
Selain itu, penelitian mengaitkan paparan PM2.5 pada masa kanak-kanak dengan peningkatan risiko gangguan depresi utama pada remaja. Mekanisme yang mungkin terlibat termasuk peradangan dan perubahan regulasi gen. Partikel polutan udara, terutama yang halus, dapat mencapai otak dan memicu peradangan saraf, dengan dampak yang lebih signifikan pada perkembangan otak pada masa kanak-kanak dan remaja.
Penting untuk menyadari konsekuensi serius polusi udara terhadap kesehatan mental remaja dan memprioritaskan tindakan yang dapat mengurangi paparan polutan tersebut untuk melindungi generasi masa depan dari risiko ini.
Polusi udara, terutama polutan PM2.5, telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia. Untuk menghadapinya, pemahaman tentang sumber dan tingkat pajanan yang aman atau berisiko bagi kesehatan adalah kunci.
Polutan PM2.5 dapat berasal dari berbagai proses, termasuk yang alami seperti letusan gunung berapi, dan buatan seperti pembakaran batu bara. Namun, sumber utama PM2.5 adalah pembakaran kendaraan bertenaga bahan bakar.
Mengurangi emisi PM2.5 menjadi langkah mendasar yang harus diambil. Tindakan ini terbukti berhasil dalam program Action Plan for Prevention and Control of Air Pollution (APPCAP) di Cina, yang mengurangi konsentrasi PM2.5 secara signifikan dengan mengurangi ketergantungan pada batu bara, mengatur emisi kendaraan, dan mendorong penggunaan energi terbarukan.
Oleh karena itu, langkah-langkah untuk mengurangi emisi PM2.5, seperti mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil, mengatur emisi kendaraan, dan mendorong penggunaan energi terbarukan, adalah solusi yang sangat penting untuk melindungi kesehatan mental remaja dan orang dewasa muda dari dampak negatif polusi udara.
Dalam dunia yang semakin terhubung ini, upaya perlindungan kesehatan ini memiliki dampak jangka panjang yang tak ternilai.
Aliani Safitri, Fathimah Aqiyla, Yaneva Azahra Rahmatunisa
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia.
