Scroll untuk baca artikel
Health

Harus Berhenti Minum Susu? Yuk, Pahami Kondisi Lactose Intolerance

×

Harus Berhenti Minum Susu? Yuk, Pahami Kondisi Lactose Intolerance

Sebarkan artikel ini

DEPOKPOS – Pernahkah Anda merasa mulas setelah mengonsumsi susu sapi? Kondisi tersebut dinamakan lactose intolerance. Lactose intolerance atau intoleransi laktosa terjadi ketika tubuh tidak dapat mencerna gula dalam susu yang disebabkan oleh rendahnya enzim laktase.

Laktosa adalah gula yang hanya ditemukan dalam susu dan dalam produk olahannya seperti keju dan es krim. Jika seseorang mengalami intoleransi laktosa, mereka lebih sedikit menghasilkan enzim laktase yang dibutuhkan untuk mencerna gula tersebut.

Akibatnya, laktosa tetap ada dalam saluran pencernaan dan menyebabkan berbagai gejala. Intoleransi laktosa terjadi pada sekitar 68% populasi di dunia dan banyak dijumpai pada ras Asia dan Afrika, termasuk Indonesia.

Cara Mengenali Lactose Intolerance

Jika seseorang mengalami lactose intolerance, hal ini dapat dilihat dari gejala yang muncul beberapa jam setelah mengonsumsi produk susu. Gejala umum yang dapat muncul antara lain adalah:

⦁ Diare
Tubuh yang mengalami kesulitan mencerna laktosa dapat menyebabkan peningkatan produksi air dalam usus yang mengakibatkan tinja menjadi cair.

⦁ Kram Perut
Kram atau nyeri perut yang terjadi setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang mengandung laktosa disebabkan oleh kontraksi usus yang tidak normal.

⦁ Kembung
Kembung atau perasaan penuh di perut disebabkan oleh produksi gas yang lebih tinggi dalam saluran pencernaan akibat konsumsi produk laktosa.

⦁ Nausea (Mual)
Beberapa orang dengan lactose intolerance mungkin merasa mual setelah mengonsumsi produk susu atau makanan yang mengandung laktosa.

Gejala lactose intolerance dapat bervariasi di setiap orang. Selain itu, gejala dapat tergantung pada seberapa banyak laktosa yang dikonsumsi dan seberapa baik tubuh seseorang dapat mencerna laktosa.

Apa penyebab Lactose Intolerance?

Penyebab utama lactose intolerance adalah kurangnya enzim laktase. Namun, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi sejauh mana seseorang mengalami gejala lactose intolerance. Faktor-faktor ini meliputi faktor genetik, etnis, dan kondisi medis lainnya.

Jika seseorang memiliki kadar laktase yang rendah, laktosa tidak dapat dipecah dan diserap oleh aliran darah. Sebaliknya, laktosa akan bergerak ke usus besar atau kolon.

Bakteri di dalam kolon merespons produk yang mengandung laktosa dengan menghasilkan lebih banyak gas yang dapat menyebabkan ketidaknyamanan dan gejala bagi individu tersebut.

Lalu apa yang harus dilakukan jika mengalami Lactose Intolerance?

Meskipun lactose intolerance tidak dapat disembuhkan, banyak cara untuk mengelola gejalanya. Dengan menghindari produk susu, mengonsumsi produk susu yang rendah laktosa atau produk susu alternatif, dan menggunakan suplemen enzim laktase.

Terdapat beberapa pilihan susu alternatif bagi orang dengan intoleransi laktosa, yakni susu oat atau gandum, susu kedelai, susu almond, susu kelapa, dan lainnya. Namun, perlu diingat bahwa produk susu alternatif tentunya tidak memiliki kandungan yang sama dengan susu hewani seperti susu sapi, sehingga pilihan terbaik untuk konsumsi tergantung pada preferensi dan kebutuhan tiap individu.

Individu dengan intoleransi laktosa sebaiknya memeriksa label makanan dengan teliti untuk menghindari laktosa tersembunyi seperti pada roti, sereal, margarin, sup instan, permen, daging olahan, saus salad, dan mayonaise. Sekitar 20% obat mengandung laktosa, seperti pil kontrasepsi, obat bebas, dan pengobatan asam lambung.

Apa yang terjadi jika penderita lactose intolerance terus mengonsumsi laktosa?

Jika seseorang dengan intoleransi laktosa terus mengonsumsi laktosa berlebihan akan menimbulkan gejala yang lebih buruk, perubahan suasana hati, dan penurunan kualitas hidup. Diare kronis dapat menyebabkan komplikasi seperti kekurangan gizi, penurunan berat badan, dan anemia.

Selain itu, dapat menyebabkan dehidrasi atau kerusakan ginjal akut jika usus tidak dapat menyerap cairan yang cukup. Seseorang dengan intoleransi laktosa yang hanya mendapatkan kalsium dari produk susu juga dapat berisiko terhadap kesehatan tulang.

Oleh karena itu, sebaiknya dipertimbangkan untuk menyertakan sumber kalsium alternatif, seperti makanan berbasis tanaman dan produk yang diperkaya, dalam pola makan sehari-hari.

Penulis: Khairun Nisah Hamid, Nabila Qotrun Nada , dan Robiana Modjo
Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia