Dunia  

Hak Veto AS Lindungi Penjajah Israel, Warga Gaza Makin Menderita

GAZA, PALESTINA – Pasukan penjajah Israel mengusir penduduk keluar dari pusat kota utama Gaza di selatan, Khan Younis, serta menggempur daerah kantong itu semalaman, setelah Amerika Serikat menggunakan hak vetonya di Dewan Keamanan PBB untuk melindungi penjajah Israel dari tuntutan gencatan senjata.

Sejak gencatan senjata dengan Hamas dalam perang yang telah berlangsung selama dua bulan gagal pada 1 Desember, penjajah Israel telah memperluas serangan darat ke bagian selatan Jalur Gaza, hingga ke Khan Younis, tempat warga melaporkan adanya pertempuran sengit.

Kedua belah pihak melaporkan adanya peningkatan pertempuran di wilayah utara.

Penasihat Keamanan Nasional Tzachi Hanegbi mengatakan pasukan Israel telah membunuh sedikitnya 7.000 militan Hamas, tanpa mengatakan bagaimana perkiraan tersebut dicapai, dan panglima militer Letnan Jenderal Herzi Halevi mengatakan kepada tentaranya bahwa “kita perlu menekan lebih keras”.

Jumlah resmi kematian di Gaza dari Kementerian Kesehatan Palestina di daerah kantong yang dikuasai Hamas melebihi 17.700 pada Sabtu, dengan ribuan orang hilang dan diperkirakan tewas di bawah reruntuhan.

Kementerian mengatakan sekitar 40 persen kematian menimpa anak-anak di bawah usia 18 tahun.

BACA JUGA:  Serangan Pemukim Ilegal Israel di Tepi Barat Terus Meningkat

Sebagian besar dari 2,3 juta penduduk Gaza terpaksa meninggalkan kediaman mereka, seringkali berulang kali. Ketika pertempuran berkecamuk di wilayah tersebut, penduduk dan badan-badan PBB mengatakan tidak ada tempat yang aman untuk dituju, meskipun Israel membantahnya.

Pasukan penjajah Israel berdalih bahwa mereka membatasi korban sipil dengan menyediakan peta yang menunjukkan daerah aman, dan menyalahkan Hamas karena merugikan warga sipil dengan bersembunyi di antara mereka, tetapi hal ini dibantah oleh para pejuang Hamas.

Warga Palestina mengatakan kampanye tersebut telah berubah menjadi perang balas dendam terhadap seluruh penduduk di daerah kantong yang padat penduduknya itu.

Juru bicara penjajah Israel dengan menggunakan bahasa Arab pada Sabtu mengunggah peta di X yang menyoroti enam blok Khan Younis untuk dapat dievakuasi “segera”.

Beberapa warga melaporkan mendengar suara tembakan tank dan baku tembak sengit antara pasukan Israel dan pejuang Palestina, dan serangkaian serangan udara ketika pasukan penjajah Israel berusaha untuk maju lebih jauh ke arah barat.

BACA JUGA:  Korban Genosida Israel di Gaza Dekati Angka 30 Ribu

“Kami mencoba menidurkan anak-anak dan kami tetap terjaga karena khawatir tempat itu akan dibom dan kami harus lari membawa anak-anak keluar,” kata Zainab Khalil, berusia 57 tahun, yang mengungsi bersama 30 kerabatnya.

“Pada siang hari dimulailah tragedi lain, yaitu bagaimana cara memberi makan anak-anak?” lanjutnya.

Dengan terbatasnya pasokan makanan dan obat-obatan, seorang pejabat senior Program Pangan Dunia (WFP) PBB mengatakan bahwa sistem baru sebenarnya dapat membawa lebih banyak bantuan ke Gaza yaitu melalui penyeberangan Kerem Shalom yang berbatasan dengan penjajah Israel, tetapi Israel belum setuju untuk membukanya.

Di Gaza tengah, penembakan tank penjajah Israel kembali terjadi di kamp pengungsi Bureij dan Maghazi, kata warga, sementara pejabat kesehatan Palestina melaporkan serangan udara Israel di Bureij menewaskan tujuh warga Palestina.

Di Khan Younis, korban tewas dan terluka tiba sepanjang malam di RS Nasser yang kewalahan menerima para korban.

Tampak seorang petugas medis keluar dari ambulans dengan tubuh lemas seorang gadis kecil dengan pakaian olahraga berwarna merah muda.

BACA JUGA:  Invasi ke Gaza, Ekonomi Israel Mulai Ambruk

Di dalam rumah sakit, anak-anak yang terluka meratap dan menggeliat di lantai keramik sementara perawat berusaha untuk menghibur mereka. Di luar, jenazah para syahid dibariskan dalam kain kafan putih.

Rekaman gambar yang diperoleh Reuters di dalam RS Jaffah di Deir al-Balah menunjukkan kerusakan parah akibat serangan terhadap masjid di sebelahnya yang menutup fasilitas medis tersebut.

Para pekerja medis di Gaza utara, tempat terjadinya pertempuran paling sengit, menuduh penjajah Israel menargetkan rumah sakit dan ambulans.

Seorang pekerja ambulans di distrik Shejaiya Kota Gaza, yang meminta untuk tidak disebutkan namanya karena takut akan pembalasan, mengatakan kepada Reuters bahwa kru gawat darurat seringkali tidak dapat menanggapi panggilan serta harus menghadapi tembakan dari pihak Israel.