DEPOKPOS – Fase tumbuh kembang anak adalah fase penting dalam pertumbuhan seorang anak di mana fase ini yang menjadi faktor penentu kualitas seorang anak itu pada saat dewasa nanti. Pada fase ini anak akan melewati tahapan-tahapan perkembangan yang disertai dengan perubahan pola perilakunya. Perubahan yang terjadi ini umumnya dianggap normal yang akan berlalu dengan sendirinya bersamaan dengan bertambahnya usia seorang anak.
Orang tua menjadi pemeran kunci dalam mendampingi tumbuh kembang anak, guru juga menjadi salah satu kunci karena orang tua dan guru sebagai lingkungan terdekat seorang anak yang diharapkan untuk lebih peka terhadap perkembangan dan perubahan pada anak. Bila terjadi perubahan baik dalam pertumbuhan fisik atau perilaku yang tidak wajar, perubahan tersebut bisa jadi merupakan salah satu dari gangguan mental yang terjadi pada anak.
Kebutuhan kesehatan mental anak cenderung sulit dipahami dan sangan memungkinkan terabaikan dari pengawasan orang tua. Kesehatan mental pada anak-anak tidak hanya suatu kondisi mental yang yang tidak mengalami penyakit mental, tapi juga mencakup kemampuan anak dalam berpikir secara jernih, mengendalikan emosinya, ber sosialisasi dengan anak seusianya.
Anak yang kesehatan mentalnya baik maka akan berdampak positif dalam berbagai hal karakter anak tersebut, misalnya anak itu dapat dengan mudah menyesuaikan dirinya dengan keadaan atau kondisi disekitarnya, menghadapi stres, dan tidak mudah putus asa serta selalu mau berusaha dari keadaan sulit yang dihadapinya.
Perkembangan mental anak yang optimal harus juga diawali dengan kondisi mental yang baik. Yang perlu dilakukan orang tua dalam menjaga kesehatan mental anaknya yaitu dengan:
Membangun kepercayaan diri anak-anak
Ini merupakan hal yang sangat penting dilakukan untuk mendorong anak mempelajari dan terus mencoba berbagai hal baru yang belum pernah mereka coba. Membangun kepercayaan diri pada anak ini dapat dilakukan dengan cara, misalnya:
- Memuji anak saat mereka belajar hal baru
- Mendampingi dan memberikan bantuan anak dalam menentukan tujuan yang sesuai dengan kemampuan yang diinginkan anak
- Menghindari mengucapkan dan bersikap yang membuat anak menjadi berhenti mencoba saat mereka gagal
- Mengajarkan anak-anak untuk ikut serta bekerja ketika dalam suatu kelompok
- Membiasakan anak-anak untuk selalu bersikap jujur saat melakukan kesalahan
- Mengajarkan anak-anak agar mereka menerima kesalahan dan kegagalan yang mereka lakukan.
Membebaskan anak-anak bermain
Bagi anak-anak, ketika mereka bermain itu hanyalah waktu untuk merek berenang-senang. Padahal waktu tersebut saat dimana anak-anak belajar berbagai hal.
Saat bermain, kreatifitas anak-anak akan terbentuk dari apa yang mereka mainkan, membantu mereka belajar dalam memecahkan masalah yang mereka hadapi, dan membiasakan mereka bagaimana mengendalikan diri mereka saat sedang bermain bersama teman seusianya.
Anak-anak yang aktif bergerak saat mereka bermain juga membatu anak sehat secara fisiknya.
Mendorong anak untuk bersosialisasi
Selain menghabiskan waktu bermain bersama orang tua, anak-anak juga harus berinteraksi dengan anak seusianya.
Mengenali kelemahan dan kelebihan seorang anak dapat dilihat dari saat mereka bermain dengan teman seusianya, serta membiasakan mereka untuk belajar hidup berdampingan dengan orang lain.
Agar anak-anak berinteraksi dengan orang disekitar mereka diluar lingkungan keluarga, orang tua dapat mengajak anak-anak mengunjungi lingkungan sekitar mereka sehingga dapat mengenal tetangga yang ada, berlibur ke tempat rekreasi, atau mendaftarkan anak sekolah.
Mengajarkan anak untuk menikmati proses
Menjelaskan dengan pelan-pelan kepada anak untuk memahami bahwa keberhasilan atau mencapai tujuan bukanlah segalanya dan sabar dalam proses adalah hal yang terpenting dalam mengerjakan sesuatu.
Contohnya saat anak mengikuti pertandingan sepak bola atau permainan olahraga lainnya, coba tanyakan perasaan anak saat ia bermain daripada menanyakan apakah ia memenangkan permainan tersebut.
Menuntuk anak untuk menang atau berhasil saat mereka melakukan suatu hal malah dapat memicu anak menjadi takut akan kekalahan atau menjadi ragu-ragu saat akan mencoba hal-hal baru dan hal tersebut dapat menjadikan anak frustasi.
Mengajarkan anak disiplin dengan adil dan konsisten
Selain mempelajari hal baru dan untuk mengajarkan anak hidup mandiri, anak-anak juga harus mengetahui dan paham hal-hal apa saja yang tidak boleh dilakukan dan ketika mereka melakukan hal yang dilarang tersebut maka mereka akan mendapatkan konsekuensinya.
Memberikan contoh secara langsung ke pada anak merupakan hal yang baik sehingga anak dapat menerapkan perilaku disiplin seperti memberikan contoh kepada mereka untuk tidak terlambat saat berangkat kerja, selalu mencuci piring sehabis makan, dan tidak menunda-nunda pekerjaan merupakan kedisiplinan yang dapat orang tua contohkan secara langsung kepada anak.
Membuat lingkungan yang aman untuk anak-anak
Karena rumah merupakan tempat pertama bagi anak untuk mempelajari berbagai hal. Lingkungan keluarga yang humoris akan mendukung baik perkembangan mental anak.
Sebaliknya, suasana rumah yang sepi dan kurangnya komunikasi antara orang tua dan anak membuat anak mudah murung atau bahkan mengalami ketakutan yang dapat menjadi penghambat perkembangan mental anak.
Suasana rumah sangat mempengaruhi dan membantu anak membangun kepercayaan dirinya dalam menghadapi permasalahan yang dia hadapi.
Kondisi mental anak yang buruk sangat berpengaruh terhadap perilaku anak, bisa dari perubahan sikap anak dikarenakan pikiran mereka yang terganggu atau kondisi emosi anak.
Perubahan sikap pada anak seperti sering mudah marah dan terlihat tidak memiliki semangat, cenderung meledek saat sedang marah, suka melawan apa yang dikatakan orang tuanya, tidak bisa mengendalikan diri atau hiperaktif tanpa sebab yang jelas, anak sering terlihat cemas dan merasa takut serta menurunnya prestasi akademik anak di sekolah.
Dan jika dari beberapa hal tersebut terjadi pada anak, orang tua harus menjadi garda terdepan bagi anaknya dengan mengajak anak berbicara tentang masalah yang di alami sang anak.
Beberapa perubahan perilaku mungkin sulit diketahui penyebabnya oleh orang tua sehingga orang tua dapat mencari bantuan penanganan kepada ahli kesehatan mental anak untuk membantu menyelesaikan permasalahan mental anak-anak.
Natasya Vika Maharani
Universitas Islam Negeri Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

