Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19

Menjaga Kesehatan Mental di Masa Pandemi Covid-19

DEPOK POS – Menurut WHO (2011), kesehatan mental merupakan suatu kondisi sejahtera dimana individu mampu menyadari kemampuan yang ia miliki, mampu mengatasi tekanan dan stres dalam kehidupan sehari-hari, mampu bekerja produktif, serta mampu berkontribusi secara aktif di lingkungan atau komunitasnya. Isu kesehatan mental merupakan isu yang urgen untuk dibicarakan terutama di saat era pandemi ini.
Menurut data dari hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) di tahun 2018, menunjukkan bahwa prevalensi depresi di Indonesia pada usia di atas 15 tahun sebesar 6,1% dari populasi umum. Selain itu, berdasarkan sebuah survei yang dilakukan oleh Into The Light Indonesia pada 25 Mei-16 Juni 2021 terhadap 5.211 partisipan, menunjukkan fakta yang mengejutkan, yaitu proporsi total partisipan yang mengalami kesepian sebesar 98 %.
Perasaan kesepian (loneliness) sering kali dihubungkan dengan masalah gangguan psikologis. Kesepian merupakan salah satu dari faktor yang mempengaruhi kejadian depresi pada mahasiswa. Menurut penelitian, menunjukkan bahwa terdapat hubungan positif antara kejadian depresi dengan perasaan kesepian.
Selain itu, faktor adaptasi sosial dan tekanan studi juga dapat mempengaruhi kejadian depresi pada mahasiswa. Di era pandemi Covid-19 saat ini, kita dituntut untuk beradaptasi dengan kehidupan baru yang jauh berbeda dengan kehidupan sebelum terjadi pandemi.
Pandemi wabah Covid-19 tentunya berdampak negatif pada psikis mahasiswa. Tekanan studi dan tugas akademik juga dapat berpengaruh terhadap kesehatan mental mahasiswa. Beban studi tugas tersebut seringkali berada di luar batas kemampuan seorang mahasiswa itu sendiri sehingga dapat menambah beban stres yang berkepanjangan. Selain itu, adanya berdampak pada kegiatan bersosialisasi yang dijalani sekarang.
Hal yang dapat dilakukan di masa pandemi Covid-19 untuk menjaga kesehatan mental adalah dengan melakukan adaptasi diri dengan kebiasaan baru saat ini. Adaptasi diri pada kebiasaan baru dilakukan untuk memperoleh keselarasan dan keharmonisan antara tuntutan di dalam diri dengan tuntutan lingkungan.
Adaptasi diri dapat diukur dari seberapa bisa seseorang mampu mengatasi perubahan yang terjadi pada hidupnya. Adaptasi diri merupakan aspek kesehatan mental terpenting yang sangat berhubungan dengan keyakinan seseorang terhadap kapasitas diri dalam mengontrol berbagai rintangan dan menggunakan potensi diri. Proses adaptasi diri terhadap masalah, lingkungan, ataupun hal-hal baru dibutuhkan sebuah usaha yang tinggi.
Jika seseorang gagal untuk menyesuaikan diri dengan kebiasaan baru, maka sudah pasti akan berdampak negatif terhadap kesehatan mental orang itu sendiri.
Cara melakukan penyesuaian diri dapat dimulai dengan menumbuhkan motivasi dan mindset. Di masa pandemi sekarang ini, mahasiswa telah dihadapkan dengan istilah kuliah online. Hal ini sudah jelas bahwa suasana perkuliahan sangat berbeda sekali jika dibandingkan dengan kuliah offline.
Adanya suasana berbeda tersebut,, kemungkinan dapat menurunkan motivasi pada mahasiswa. Meskipun kuliah online terkesan lebih mudah dan santai, kemungkinan juga munculnya stres bisa saja terjadi. Penelaahan materi ketika kuliah online dianggap lebih lamban dan tidak sepenuhnya masuk ke memori otak. Apalagi jika mahasiswa menghadapi kendala seperti device yang tidak memadai dan jaringan yang kurang stabil.
Hal-hal tersebut merupakan faktor yang dapat menurunkan mood dan motivasi sehingga berujung dengan pikiran-pikiran negatif seperti menyalahkan diri sendiri. Pikiran-pikiran tersebut dapat mengakibatkan stres, akan tetapi kembali lagi dengan mindset pada masing-masing orang.
Sebaiknya kita harus berusaha untuk menghindari pemikiran dan perasaan negatif tersebut. Belajar menerima sebuah keadaan dan meningkatkan aspek religius dapat membantu serta membangun motivasi atau mindset dalam mengatasi stres.
Menjalani hobi untuk melarikan diri dari pemikiran dan kesibukan sehari-hari yang menumpuk juga dapat membantu untuk meningkatkan mood dan menghilangkan stres. Contohnya seperti melakukan aktivitas melukis, menyanyi, berolahraga, bermain game, bermain musik, dan menonton film.
Akan tetapi yang harus ditekankan lagi adalah dalam menjalankan hobi jangan terlalu berlebihan, dikarenakan kita harus tetap fokus ke tujuan utama kita masing-masing. Selain itu, sebisa mungkin untuk menghindari lingkungan pertemanan yang toxic.
Lingkungan sekitar seperti lingkungan keluarga dan lingkungan pertemanan sangat mempengaruhi kesehatan mental. Hal ini juga bergantung pada bagaimana kita berinteraksi satu sama lain serta memaknai apakah interaksi tersebut akan menjadi hal positif atau hal negatif.
Dengan demikian, menjaga mental health merupakan hal yang sangat penting, terutama di masa pandemi Covid-19 saat ini. Hal ini dikarenakan kesehatan mental mampu mempengaruhi kesehatan fisik seseorang.
Selain itu, kesehatan mental juga turut andil dalam proses pengambilan keputusan yang nantinya setiap keputusan tersebut berpengaruh terhadap apa yang terjadi di masa depan. Kesehatan mental juga dapat membantu diri kita sendiri untuk menggali potensi diri sehingga dapat meningkatkan produktivitas dalam menjalani rutinitas sehari-hari.
Sehingga sangat diperlukan upaya-upaya untuk menjaga kesehatan mental. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan motivasi diri, mengatur pola pikir, serta tetap berpegang teguh terhadap aspek religius untuk membantu meningkatkan pola pikir yang positif.
Ditulis oleh: Abdur Rokhman Wachid, Aghata Fisca Fatya Prasasti, Nur Husnul Mar’iyah Azis (Mahasiswa FKM UI)

Pos terkait