Manfaat Pengawasan Syariah dalam Mengimplementasikan Good Corporate Governance di Perbankan Syariah

Isu Good Corporate Governance menjadi isu sentral dalam pengelolaan di suatu perusahaan. Terlebih lagi dengan terjadinya pandemi Covid-19, banyak rentetan peristiwa yang menimpa perusahaan, yang mana di antaranya harus gulung tikar bahkan hampir bangkrut. Peristiwa tersebut telah menyadarkan banyak pihak mengenai pentingnya pelaksanaan pengelolaan perusahaan yang baik dan benar terlebih lagi dalam menghadapi krisis ekonomi di era pandemi Covid-19. Oleh karena itu, berbagai cara di lakukan oleh banyak pihak untuk mendapatkan kesepakatan mengenai parameter-parameter apa yang digunakan untuk mengukur pelaksanaan konsep Good Corporate Governance ini dalam suatu perusahaan.

Menurut Machia Tjahyo Handoko (2008) Untuk melaksanakan konsep Good Corporate Governance tersebut dibutuhkan fungsi otoritas pengawas dalam memonitor praktik-praktik yang tidak sehat di mana praktik tersebut merupakan salah satu faktor yang menjadi kendala dalam mewujudkan Good Corporate Governance. Saat ini pelaksanaan konsep Good Corporate Governance tidak hanya diberlakukan oleh perusahaan-perusahaan, tetapi dilakukan juga oleh berbagai institusi, tak terkecuali instansi perbankan syariah pun melaksanakan konsep Good Corporate Governance ini.

Implementasi Good Corporate Governance di Indonesia telah diatur oleh Bank Indonesia selaku pemegang otoritas perbankan dalam negeri melalui Peraturan Bank Indonesia No. 8/4/PBI/2006 No. 8/14/PBI/2006 yang mengatur pelaksanaan Good Corporate Governance bagi bank umum, sedangkan untuk perbankan syariah, Bank Indonesia juga menyusun kode etik Good Corporate Governance khusus perbankan syariah.

Menyinggung tentang fungsi audit internal atau pengawasan syariah memang sangat penting untuk selalu dilaksanakan khususnya bagi perbankan syariah, mengingat dalam setiap transaksi muamalat ataupun yang berhubungan dengan dasar dari transaksi pada pelaksanaannya sangat berkaitan dengan sistem pengawasan. Dengan keberadaan fungsi audit internal yang efektif, dapat tercipta mekanisme pengawasan untuk memastikan bahwa sumber daya yang ada dalam perusahaan telah digunakan secara efektif dan efisien, dan pengendalian yang ada dalam perusahaan dapat memberikan kepastian lebih tinggi bahwa informasi yang dihasilkan terpercaya. Audit internal juga dapat menjadi barometer standar perilaku yang berlaku di perusahaan melalui aktivitas pengawasan yang dilakukan secara berkesinambungan, yang mendorong terciptanya iklim kerja yang efisien. Dengan demikian, auditor internal dapat dijadikan sebagai mitra manajemen yang dapat memberikan pemikiran tentang pengelolaan usaha.

Adapun selain penting dan pengaruhnya pengawasan syariah terhadap menciptakan Good Corporate Governance. Penulis ingin berbagi beberapa manfaat yang didapat pada perbankan syariah apabila adanya pengawasan syariah di dalam perbankan syariah yaitu :

  • Adanya bimbingan kepada manajemen, dan tata kelola yang lebih baik.
  • Menjamin legitimasi keuntungan yang dihasilkan dan meningkatkan kepercayaan pemangku kepentingan dalam kegiatan dengan memberikan lebih banyak transparansi.
  • Terlibat dalam menyelesaikan perselisihan hukum antara manajemen dan klien karena posisi agama dan sosial mereka.
  • Dapat menjelaskan cara menghitung tahunan zakat dan membelanjakan keuntungan tidak sah untuk tujuan amal.

Pengawasan syariah memainkan peran penting dalam tata kelola Lembaga Keuangan Syariah terkhusus pada Perbankan Syariah. Dan memperoleh kepentingannya dari lima sumber: agama, sosial, ekonomi, hukum, dan pemerintahan dan bertujuan untuk memastikan bahwa kegiatan lembaga keuangan syariah patuh melalui pengawasan manajemen dan memberi mereka bimbingan. (Fadhlur Rohman Choer/STEI SEBI)

Pos terkait